MAGELANG, SUARANU.ID – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, kembali membuktikan komitmennya dalam menjaga nyala estafet perjuangan Nahdlatul Ulama. Hal ini dibuktikan melalui kesuksesan penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Angkatan III yang berlangsung khidmat pada 12 hingga 14 Juni 2026 di MI Ma’arif Kanigoro, Kecamatan Ngablak.
Kegiatan kaderisasi formal tingkat pertama di tubuh GP Ansor ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah strategis organisasi dalam menjawab tantangan regenerasi di wilayah Ngablak. Hingga saat ini, dari total 16 desa yang ada di Kecamatan Ngablak, baru 10 desa yang telah resmi memiliki kepengurusan Ranting GP Ansor. Kesepuluh desa tersebut meliputi Bandungrejo, Genikan, Magersari, Girirejo, Sumberejo, Pandean, Madyogondo, Kanigoro, Selomirah, dan Jogoyasan.

Ketua Panitia PKD Angkatan III, Muhammad Munir, M.Pd., menyampaikan bahwa proses kaderisasi kali ini menitikberatkan pada kualitas dan militansi peserta. Tercatat, dari 20 pemuda yang mendaftar, sebanyak 12 peserta berhasil mengikuti prosesi pelatihan hingga tuntas, sementara beberapa lainnya terpaksa menunda keikutsertaannya karena uzur syar’i pada hari pelaksanaan.
“Secara kuantitas memang lebih sedikit dibanding edisi sebelumnya. Sebagai kilas balik, PKD pertama diikuti oleh 40 peserta dan PKD kedua 22 peserta. Namun, kualitas kader yang bergabung kali ini menjadi nilai plus dan kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Munir.
Pernyataan tersebut dibuktikan dengan bergabungnya sejumlah tokoh muda karismatik NU di wilayah Ngablak. Di antaranya adalah Gus Hanif Khoirul Anam, S.E., yang merupakan putra dari tokoh agama setempat, KH Muhammad Da’i, serta Ustadz Khusnul Yakin, sosok yang selama ini dikenal luas sebagai Ketua Ahbaabul Mustofa Ngablak. Kehadiran mereka menjadi indikator kuat bahwa GP Ansor masih menjadi wadah pergerakan yang memiliki daya tarik besar bagi generasi muda lintas latar belakang.
Acara pembukaan PKD berlangsung semarak dengan kehadiran sejumlah tokoh penting NU dan jajaran pemerintahan desa. Tampak hadir Sekretaris Jenderal MWCNU Ngablak Ustadz Achmad Siswanto, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Magelang Gus Ulin, Kepala Desa Kanigoro Heriyanto, Kepala Desa Magersari Rochmat, serta Kepala Dusun Kanigoro Ahan Sofyanto. Hadir pula jajaran pengurus Ranting NU, Muslimat NU, dan Fatayat NU dari Desa Kanigoro dan Magersari, beserta tokoh masyarakat setempat yang turut memberikan dukungan moril.
Dalam momen penyampaian amanat, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Magelang, Gus Ulin, memberikan suntikan semangat kepada para peserta. Ia secara khusus menekankan pentingnya menjaga soliditas dan marwah organisasi di tengah arus disrupsi dan perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.
“Perkuat kekompakan di tengah gempuran dan tantangan modernisasi. Penguatan organisasi mutlak harus dilakukan melalui kaderisasi yang masif guna melahirkan kader-kader yang tidak hanya pintar, tetapi juga loyal dan militan dalam berkhidmat kepada ulama, NU, dan Ansor,” pesan Gus Ulin tegas.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal MWCNU Ngablak, Ustadz Achmad Siswanto, mengingatkan kembali hakikat keberadaan pemuda Ansor dalam tubuh jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
“Kader Ansor adalah wajah masa depan NU. Oleh karena itu, proses kaderisasi semacam ini harus selalu menjadi ujung tombak regenerasi NU, agar estafet perjuangan para muassis (pendiri) NU terus berjalan tanpa henti,” ungkapnya.
Menjawab Tantangan Zaman dan Melanjutkan Khidmat
Tantangan zaman yang kian dinamis juga menjadi sorotan pihak kepanitiaan. Munir menggarisbawahi perlunya terobosan baru agar organisasi tidak ditinggalkan oleh anak muda.
“Tantangan kemajuan zaman membuat sebagian generasi muda enggan berorganisasi dengan alasan kesibukan atau apatis merasa organisasi tidak lagi penting. Ke depan, Ansor dituntut harus mampu menghadirkan terobosan ide dan inovasi yang relevan untuk menarik minat pemuda agar bangga bergabung bersama kita,” tambah Munir.
Dampak positif dari sistem kaderisasi NU yang berjenjang turut dirasakan langsung oleh peserta. Khasful Anwar, peserta delegasi dari Ranting Jogoyasan, membagikan motivasinya mengikuti PKD.
“Sebagai alumni IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), saya merasa memiliki panggilan dan tanggung jawab untuk melangkah ke jenjang berikutnya bersama Ansor sebagai wujud khidmat kepada NU. Kaderisasi berjenjang di badan otonom NU merupakan kunci lahirnya kader yang tangguh, loyal, dan berdaya saing demi kemajuan NU dan bangsa Indonesia,” tuturnya bangga.
Di akhir rangkaian acara, jajaran instruktur yang mendampingi proses pelatihan memberikan wejangan pamungkas. Mereka berpesan agar bekal ilmu dan gemblengan mental yang diterima selama PKD—yang diakhiri dengan prosesi pembaiatan—tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan diimplementasikan ke dalam ranah kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Para peserta baru ini juga diharapkan mampu menjadi teladan dan inspirasi bagi pemuda lain di desa masing-masing.
Melalui suksesnya PKD Angkatan III ini, PAC GP Ansor Ngablak menaruh harapan besar. Tidak hanya sekadar mempertebal barisan pertahanan akar rumput, namun juga mengakselerasi pembentukan kepengurusan Ranting di 6 desa yang tersisa. Dengan demikian, cita-cita besar untuk mengibarkan panji GP Ansor di seluruh pelosok desa se-Kecamatan Ngablak dapat segera diwujudkan. (*)
Pewarta : Sidiq Nur – Secang

