SECANG, SuaraNU.id – Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Dusun Kuwaluhan Desa Madusari, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, masih menjaga sebuah tradisi yang sarat makna dalam pelaksanaan ibadah haji. Tradisi tersebut dikenal dengan kebiasaan berangkat dari masjid dan kembali ke masjid saat menunaikan ibadah haji.
Bagi masyarakat Madusari, keberangkatan calon jamaah haji tidak hanya menjadi urusan pribadi atau keluarga, tetapi juga menjadi momentum kebersamaan seluruh warga. Sebelum menuju titik kumpul keberangkatan, calon jamaah haji terlebih dahulu diantar dari masjid desa oleh keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Tradisi yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah “nguntabke kaji” ini telah berlangsung secara turun-temurun.
Suasana haru dan khidmat tampak ketika calon jamaah haji berpamitan kepada masyarakat. Doa-doa dipanjatkan bersama agar para tamu Allah diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Tidak hanya saat keberangkatan, tradisi tersebut juga berlanjut ketika jamaah kembali ke kampung halaman. Setibanya dari perjalanan haji, jamaah tidak langsung menuju rumah masing-masing. Mereka terlebih dahulu diarahkan menuju masjid untuk mengikuti prosesi penyambutan oleh masyarakat.
Di masjid, jamaah haji disambut dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kepulangan mereka dalam keadaan sehat dan selamat. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk memohon keberkahan bagi kemakmuran masjid serta kesejahteraan masyarakat desa.
Salah seorang mubaligh sekaligus pengelola masjid Al-Muhajirin di Madusari, Gus Zein Fuad, mengatakan bahwa tradisi tersebut merupakan warisan para leluhur yang terus dijaga hingga saat ini.
“Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dari mbah-mbah kita. Sebagai generasi muda, sudah sepatutnya kita melestarikan tradisi baik ini karena mengandung nilai kebersamaan, doa, dan penghormatan kepada para tamu Allah,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual individu, melainkan juga membawa harapan dan doa seluruh masyarakat. Dengan berkumpul di masjid saat melepas maupun menyambut jamaah haji, ikatan sosial antarwarga semakin kuat dan semangat memakmurkan masjid terus terjaga.
Tradisi “masuk masjid, pulang masjid” yang masih lestari di Madusari menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Nahdliyin. Selain memperkuat ukhuwah Islamiyah, tradisi ini juga menunjukkan bahwa masjid tetap menjadi pusat kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat, termasuk dalam momentum penting seperti ibadah haji.
Di tengah arus modernisasi, warisan budaya religius semacam ini menjadi contoh bagaimana masyarakat mampu menjaga nilai-nilai luhur para pendahulu tanpa mengurangi kekhusyukan dan esensi ibadah yang dijalankan. Dengan demikian, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah desa, tetapi juga menjadi identitas keagamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Madusari hingga hari ini.








Pewarta : Sidiq Nur Secang

