MAGELANG, Setiap kamis akhir di bulan Syawal, masyarakat disekitar lereng gunung Giyanti terutama wilayah desa Pasangsari mengadakan acara syawalan, tradisi ini sudah berlangsung turun temurun, dan saat ini adalah peringatan syawalan atau peringatan haul ke-22 yang berlangsung pada Rabu, 15 April dan Kamis 16 April 2026.
Berbagai kegiatan berlangsung pada syawalan ini, diantaranya ziarah yang berlangsung sejak malam Kamis, pengajian dengan menghadirkan para alim ulama di wilayah Magelang, penggalangan amal jariyah untuk pembangunan makam beserta sarana-prasarananya, serta silaturahim.
PJ Kepala Desa Pasangsari, Aan Prasetyo menyampaikan “Tradisi Syawalan di Giyanti adalah wujud kearifan lokal yang patut kita dukung dan kita lestarikan bagi generasi masa depan, sebuah kearifan lokal yang sarat makna, penguat nilai-nilai persaudaraan, penguat rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang kian tergerus akibat di globalisasi saat ini”
M Edi Masruri, selaku Sekretaris Desa sekaligus ketua panitia pelaksana menuturkan “pihaknya sangat berharap tradisi ini bisa berlangsung terus-menerus sebagai upaya menjaga Jatidiri warga Nahdliyyin dalam bertaqarub kepada Allah dan Rasulullah serta para alim ulama/kiai, serta menjaga silaturahim”
Beliau juga berharap “adanya dukungan sarana, prasarana serta fasilitas yang memadai bagi peziarah dari pihak-pihak terkait, terlebih sarana mobilisasi berupa jalan yang belum sepenuhnya memadai sebab kian tahun penziarah yang datang kian banyak” pungkasnya.
Sambutan Bupati Magelang yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang, Bp Agus Widodo menyampaikan “Peringatan Khaul yang kita laksanakan hari ini, ada makna mendalam yang harus kita resapi, pertama Meneladani Perjuangan Tokoh Bangsa dan Agama. Tugas kita bukan hanya mendoakan, tapi meneruskan tongkat estafet nilai-nilai luhur yang mereka ajarkan.
Kedua, Memperkuat Ukhuwah. Syawalan Akbar ini adalah cermin kerukunan warga Desa Pasangsari. Mari kita jaga keguyub-rukunan ini sebagai modal utama pembangunan daerah. Sebab, muskil pembangunan berjalan lancar tanpa situasi yang kondusif dan harmonis di tengah masyarakat.
Ketiga Pelestarian Budaya dan Religi”
“Kegiatan ziarah dan khaul di Makam Giyanti ini merupakan bagian dari wisata religi yang harus tetap kita lestarikan. Ini adalah identitas kita sebagai bangsa yang menghormati sejarah dan leluhur” pungkasnya.







