MAGELANG, SuaraNU.id – Masa libur sekolah sering kali menjadi waktu yang paling dinanti oleh anak-anak. Di momen ini, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk bermain, berkumpul dengan teman, atau menikmati berbagai aktivitas yang menyenangkan. Namun, hal ini kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua, terutama ketika rutinitas mengaji anak mulai menurun atau bahkan dilupakan selama liburan.
Pengalaman empiris dari para ustadz dan ustadzah di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Baitul Huda Sandon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, menunjukkan bahwa anak-anak tetap bisa semangat mengaji selama liburan apabila diberikan pendekatan yang tepat.
Bagaimana caranya? Berikut adalah 7 tips edukatif yang dapat diterapkan oleh orang tua di rumah maupun oleh para pengajar di lembaga pendidikan Al-Qur’an:
1. Ciptakan Suasana Belajar Al-Qur’an yang Menyenangkan
Anak-anak pada dasarnya sangat menyukai kegiatan yang membuat mereka merasa nyaman dan gembira. Oleh karena itu, pembelajaran Al-Qur’an tidak harus selalu berlangsung kaku dan formal. Selingi kegiatan mengaji dengan permainan edukatif, kuis ringan seputar kisah nabi, atau aktivitas kelompok yang membuat mereka betah, baik di lingkungan TPQ maupun di rumah.
2. Variasikan Metode Pembelajaran Diniyah
Setiap anak memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda. Untuk anak usia dini, pengenalan huruf hijaiyah bisa dilakukan melalui lagu, mewarnai gambar, atau media visual yang menarik. Sementara itu, untuk santri yang lebih besar, guru atau orang tua dapat mengajak mereka berdiskusi tentang akhlakul karimah, kisah teladan para nabi, serta materi diniyah yang relevan dengan usia mereka.
3. Berikan Teladan Positif dari Santri Senior
Salah satu metode tarbiyah (pendidikan) yang terbukti efektif adalah menghadirkan peran santri senior sebagai role model bagi adik-adiknya. Di TPQ Baitul Huda, kehadiran grup shalawat yang dibawakan oleh santri tingkat menengah mampu menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak biasanya akan lebih termotivasi ketika melihat kakak-kakak mereka aktif, keren, dan berprestasi dalam kegiatan keagamaan.
4. Padukan Mengaji dengan Kegiatan Kreatif Islami
Mengaji tidak harus selalu duduk diam membaca kitab. Kegiatan pendukung seperti latihan shalawat, menabuh rebana/hadroh, lomba hafalan surat pendek (muraja’ah), hingga pentas seni Islami dapat menjadi sarana yang ampun untuk membuat anak semakin mencintai lingkungan belajar agamanya.
5. Pendekatan Persuasif, Hindari Pemaksaan
Memaksa anak berangkat mengaji tanpa pendekatan emosional yang baik sering kali justru menimbulkan resistensi atau penolakan. Orang tua dan guru TPQ perlu membangun komunikasi yang hangat. Berikan motivasi dan pemahaman sederhana mengenai keutamaan dan manfaat mengaji bagi kehidupan mereka kelak.
6. Berikan Apresiasi atas Setiap Kemajuan Anak
Apresiasi tidak melulu harus berupa hadiah barang atau uang. Pujian yang tulus, pelukan, perhatian, dan pengakuan atas sekecil apa pun kemajuan bacaan Al-Qur’an anak (misalnya saat naik jilid Iqro) sangat penting untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk terus belajar.
7. Bangun Kebiasaan Cinta Al-Qur’an Sejak Dini
Kecintaan terhadap kalam Ilahi tumbuh melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten (istiqamah). Anak yang sejak kecil sudah terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an akan lebih mudah menjadikan aktivitas tersebut sebagai bagian dari gaya hidup dan rutinitas sehari-hari mereka, tak terkecuali saat musim liburan sekolah tiba.
Menumbuhkan Cinta Al-Qur’an Sejak Kecil
Pengalaman dari TPQ Baitul Huda Sandon membuktikan bahwa inovasi dan kreativitas adalah kunci utama dalam pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak era sekarang. Ketika suasana belajar diciptakan selaras dengan dunia mereka, mengaji tidak akan lagi dianggap sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan yang dirindukan.
Liburan sekolah sejatinya adalah momentum emas untuk mempererat hubungan anak dengan Al-Qur’an. Dengan sinergi antara orang tua di rumah dan guru di TPQ, kita dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah yang kokoh.




Pewarta : Ustadz TPQ Baitul Huda

