NGABLAK, SuaraNU.id – Memasuki bulan suci Muharram 1448 Hijriah, masyarakat Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang dan sekitarnya, kembali melestarikan amaliah tradisi Genduren Suran atau Genduren Asyura. Tradisi warisan para leluhur yang telah mengakar secara turun-temurun ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana efektif untuk mempererat silaturahmi, memanjatkan doa keselamatan, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Secara praktik, Genduren (kenduri) merupakan forum doa bersama yang dilaksanakan oleh warga. Dalam pelaksanaannya, warga secara sukarela membawa hidangan sederhana untuk kemudian dinikmati bersama usai doa dan tahlil dilantunkan. Di samping berbagi makanan, masyarakat juga secara swadaya mengumpulkan infak yang nantinya dialokasikan untuk membiayai berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di desa setempat.
Di wilayah Ngablak, rangkaian tradisi genduren umumnya dilaksanakan pada beberapa momentum penting selama bulan Muharram. Amaliah ini dimulai pada malam 1 Muharram (Malam 1 Suro) sebagai ungkapan syukur menyambut Tahun Baru Islam sekaligus momentum muhasabah atau introspeksi diri. Masyarakat Jawa pada umumnya meyakini malam pergantian tahun Hijriah tersebut sebagai malam yang penuh keheningan dan sarat akan makna spiritual.
Rangkaian tradisi kemudian berlanjut pada malam 8 Muharram. Pada momentum ini, warga bergotong-royong membuat dan membagikan Bubur Suro. Hidangan khas ini menjadi simbol luhur kebersamaan, rasa syukur, serta manifestasi harapan akan datangnya keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga desa.
Puncak dari peringatan bulan Muharram berlangsung pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura. Di kalangan masyarakat Ngablak, momentum ini memiliki makna yang sangat istimewa karena sering disebut sebagai “Lebaran Thariqah”, khususnya bagi para jamaah Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Pada hari tersebut, berbagai majelis dzikir, tawajjuhan, dan doa bersama digelar untuk memperkuat fondasi spiritualitas batin umat.
Selain memperkuat hablum minallah (hubungan dengan Allah), tanggal 10 Muharram juga menjadi wujud nyata penguatan hablum minannas (hubungan antarmanusia) melalui tradisi santunan anak yatim piatu. Tradisi yang lebih populer dengan sebutan “Lebaran Anak Yatim” atau Idul Yatama ini menjadi sarana berbagi kebahagiaan dan menumbuhkan semangat empati, sebagaimana sunnah yang sangat dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat menilai, tradisi genduren memiliki dimensi ganda. Selain kaya akan nilai budaya, tradisi ini menjadi media dakwah kultural yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat (wasathiyah), semangat gotong royong, dan kepedulian sosial.
“Melalui tradisi genduren, masyarakat diajak untuk memperbanyak doa, gemar bersedekah, menjaga kerukunan, dan mempererat ukhuwah antarwarga. Ini adalah salah satu kearifan lokal yang sangat sejalan dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyyah,” ujar tokoh masyarakat Ngablak tersebut.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberhasilan masyarakat Ngablak dalam mempertahankan tradisi Genduren Suran dan Asyura patut mendapat apresiasi. Warisan budaya religius yang sarat akan nilai spiritual, sosial, dan kemanusiaan ini diharapkan dapat terus diestafetkan kepada generasi muda, sehingga identitas masyarakat sebagai umat yang religius dan berbudaya luhur dapat terus membumi.


Pewarta : Hamid Ansor Ngablak

