Menu

Mode Gelap

Berita · 26 Jun 2026 00:29 WIB · · Artikel ini telah dibaca 3 kali

Lestarikan Tradisi Genduren Suran dan Asyura, Warga Ngablak Magelang Rajut Silaturahmi dan Kepedulian Sosial


Lestarikan Tradisi Genduren Suran dan Asyura, Warga Ngablak Magelang Rajut Silaturahmi dan Kepedulian Sosial Perbesar

Bagikan :

NGABLAK, SuaraNU.id – Memasuki bulan suci Muharram 1448 Hijriah, masyarakat Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang dan sekitarnya, kembali melestarikan amaliah tradisi Genduren Suran atau Genduren Asyura. Tradisi warisan para leluhur yang telah mengakar secara turun-temurun ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana efektif untuk mempererat silaturahmi, memanjatkan doa keselamatan, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Secara praktik, Genduren (kenduri) merupakan forum doa bersama yang dilaksanakan oleh warga. Dalam pelaksanaannya, warga secara sukarela membawa hidangan sederhana untuk kemudian dinikmati bersama usai doa dan tahlil dilantunkan. Di samping berbagi makanan, masyarakat juga secara swadaya mengumpulkan infak yang nantinya dialokasikan untuk membiayai berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di desa setempat.

Di wilayah Ngablak, rangkaian tradisi genduren umumnya dilaksanakan pada beberapa momentum penting selama bulan Muharram. Amaliah ini dimulai pada malam 1 Muharram (Malam 1 Suro) sebagai ungkapan syukur menyambut Tahun Baru Islam sekaligus momentum muhasabah atau introspeksi diri. Masyarakat Jawa pada umumnya meyakini malam pergantian tahun Hijriah tersebut sebagai malam yang penuh keheningan dan sarat akan makna spiritual.

Baca Juga  Meriahkan Harlah Pancasila, PRNU Payaman Gelar 'Tour de Kahyangan 2026'

Rangkaian tradisi kemudian berlanjut pada malam 8 Muharram. Pada momentum ini, warga bergotong-royong membuat dan membagikan Bubur Suro. Hidangan khas ini menjadi simbol luhur kebersamaan, rasa syukur, serta manifestasi harapan akan datangnya keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga desa.

Puncak dari peringatan bulan Muharram berlangsung pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura. Di kalangan masyarakat Ngablak, momentum ini memiliki makna yang sangat istimewa karena sering disebut sebagai “Lebaran Thariqah”, khususnya bagi para jamaah Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Pada hari tersebut, berbagai majelis dzikir, tawajjuhan, dan doa bersama digelar untuk memperkuat fondasi spiritualitas batin umat.

Baca Juga  Rawat Ukhuwah ala Santri, Alumni TEPOSLIRO Gelar Joyongso Cup 2026 di Secang

Selain memperkuat hablum minallah (hubungan dengan Allah), tanggal 10 Muharram juga menjadi wujud nyata penguatan hablum minannas (hubungan antarmanusia) melalui tradisi santunan anak yatim piatu. Tradisi yang lebih populer dengan sebutan “Lebaran Anak Yatim” atau Idul Yatama ini menjadi sarana berbagi kebahagiaan dan menumbuhkan semangat empati, sebagaimana sunnah yang sangat dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat menilai, tradisi genduren memiliki dimensi ganda. Selain kaya akan nilai budaya, tradisi ini menjadi media dakwah kultural yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat (wasathiyah), semangat gotong royong, dan kepedulian sosial.

Baca Juga  Gandeng INISNU Temanggung, MI Arrosyidin Gelar Workshop IKM

“Melalui tradisi genduren, masyarakat diajak untuk memperbanyak doa, gemar bersedekah, menjaga kerukunan, dan mempererat ukhuwah antarwarga. Ini adalah salah satu kearifan lokal yang sangat sejalan dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyyah,” ujar tokoh masyarakat Ngablak tersebut.

Di tengah derasnya arus modernisasi, keberhasilan masyarakat Ngablak dalam mempertahankan tradisi Genduren Suran dan Asyura patut mendapat apresiasi. Warisan budaya religius yang sarat akan nilai spiritual, sosial, dan kemanusiaan ini diharapkan dapat terus diestafetkan kepada generasi muda, sehingga identitas masyarakat sebagai umat yang religius dan berbudaya luhur dapat terus membumi.

Pewarta : Hamid Ansor Ngablak

Bagikan :
badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Cetak Sejarah Baru, PAC IPNU IPPNU Srumbung Gelar Rangkaian Maraton: Pelantikan, Lakmud, dan Konfercab

26 June 2026 - 00:47 WIB

Muharram Penuh Berkah, NU Kalijoso Santuni Tujuh Anak Yatim

26 June 2026 - 00:43 WIB

Peletakan Batu Pertama Gedung Baru MI Arosyidin Payaman, Wujud Komitmen Tingkatkan Fasilitas Pendidikan

26 June 2026 - 00:24 WIB

Padukan Wisata Edukasi dan Spiritual, NU Ranting Krincing Sukses Gelar Ziarah dan Santunan “Anak Langit” 1448 H

23 June 2026 - 07:18 WIB

Sambut Muharram 1448 H, Jam’iyyah NU Ranting Salam Santuni Yatim Piatu, Penyandang Disabilitas dan Retardasi Mental.

23 June 2026 - 07:13 WIB

Sinergi LPP NU Magelang dan Bapeltan Jateng: Cetak Generasi Petani Baru Lewat Agri Training Camp 2026

23 June 2026 - 07:08 WIB

Trending di Berita