<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>opini Archives - Suara NU</title>
	<atom:link href="https://suaranu.id/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaranu.id/tag/opini/</link>
	<description>Suara Nahdliyin Magelang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 May 2026 10:53:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://suaranu.id/storage/2025/03/cropped-snu1-55x55.png</url>
	<title>opini Archives - Suara NU</title>
	<link>https://suaranu.id/tag/opini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kriminalisasi Diskresi dan Ujian Keadilan bagi Gus Yaqut</title>
		<link>https://suaranu.id/kriminalisasi-diskresi-dan-ujian-keadilan-bagi-gus-yaqut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 May 2026 10:53:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[gus yaqut]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lakpesdam]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=2524</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA, SuaraNU.id – Di koridor kekuasaan Indonesia, sebuah bayang-bayang baru tengah menghantui birokrasi. Ini bukan...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kriminalisasi-diskresi-dan-ujian-keadilan-bagi-gus-yaqut/">Kriminalisasi Diskresi dan Ujian Keadilan bagi Gus Yaqut</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-4287906164" class="suara-before-content suara-entity-placement"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p class="wp-block-paragraph"><strong>JAKARTA, SuaraNU.id</strong> – Di koridor kekuasaan Indonesia, sebuah bayang-bayang baru tengah menghantui birokrasi. Ini bukan lagi label &#8220;komunis&#8221; peninggalan Orde Baru yang membuat para pejabat terjaga di malam hari, melainkan penggunaan label &#8220;korupsi&#8221; sebagai senjata hukum yang menyasar kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Drama hukum yang menjerat Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menteri Agama yang akrab disapa <strong>Gus Yaqut</strong>, kini menjadi ujian krusial bagi sistem peradilan Indonesia. Apakah ini murni penegakan hukum, atau justru sebuah teater politik yang menguji integritas seorang pemimpin yang berupaya mencari keadilan sejati?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Labirin Prosedural di Balik Kuota Haji</strong> Narasi yang menyudutkan Gus Yaqut, bermula dari pemanggilan KPK pada 2025, terbaca bukan seperti sebuah pencurian finansial, melainkan sebuah labirin prosedural. Di jantung badai ini terdapat alokasi kuota haji 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menghadapi tantangan cuaca ekstrem di Arab Saudi dan tekanan logistik yang masif demi keselamatan jemaah, Gus Yaqut menggunakan wewenang diskresinya untuk membagi kuota tambahan dengan pola 50:50 antara jemaah reguler dan khusus. Ini adalah keputusan yang diambil di &#8220;garis&#8221; urgensi demi <strong>kemaslahatan umat</strong>, namun secara administratif justru dilabeli sebagai tindak pidana.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kereta di Depan Kuda</strong> Lini masa penuntutan ini menunjukkan pengabaian logika yang cukup mencolok. Gus Yaqut ditetapkan sebagai tersangka pada 8 Januari 2026. Namun, laporan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)—dokumen krusial yang diperlukan untuk menetapkan adanya &#8220;kerugian negara&#8221;—baru diterbitkan pada 24 Februari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia hukum yang ideal, ini ibarat melakukan penangkapan atas kasus pencurian bahkan sebelum memverifikasi apakah ada barang yang hilang. Lebih jauh lagi, pakar hukum seperti Prof. Mahfud MD telah melontarkan pertanyaan fundamental: Mungkinkah sebuah &#8220;kuota&#8221;, yang merupakan pemberian diplomatik berupa slot dari Kerajaan Arab Saudi, dikuantifikasi sebagai kerugian finansial negara? Jika kas negara tidak pernah berkurang, lantas di mana letak korupsinya?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Diskresi dengan Itikad Baik Bukanlah Kejahatan</strong> Inti dari persoalan ini terletak pada definisi <em>mens rea</em>, atau niat jahat. Korupsi membutuhkan &#8220;tangan yang kotor&#8221;, dengan adanya suap, aliran dana, atau rekening rahasia. Dalam kasus Gus Yaqut, bukti pengayaan diri tetap nihil. Yang terlihat justru adalah seorang pemimpin yang menggunakan Pasal 9 UU Haji untuk menavigasi situasi darurat demi kepentingan jemaah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika setiap kebijakan yang didasari itikad baik direspon dengan borgol, birokrasi Indonesia menghadapi masa depan yang suram: kelumpuhan karena ketakutan (<em>paralysis by fear</em>). Sebuah pemerintahan di mana para pemimpinnya lebih memilih zona nyaman yang statis daripada tindakan tegas adalah pemerintahan yang gagal melayani rakyatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Cahaya Terang dari Mahkamah Konstitusi</strong> Harapan untuk kembali ke &#8220;akal sehat&#8221; muncul pada 29 April 2026. Mahkamah Konstitusi (MK), dalam putusan bersejarah (No. 66/PUU-XXIV/2026), akhirnya mempersempit definisi &#8220;kerugian negara&#8221; yang selama ini dianggap terlalu luas dan berisiko bagi pengambil kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">MK menegaskan bahwa &#8220;kerugian negara&#8221; harus dimaknai secara spesifik sebagai kerugian keuangan negara yang nyata, bukan sekadar ketidakpuasan administratif atau asumsi hipotetis. Putusan ini berfungsi sebagai pisau bedah yang memisahkan antara &#8220;kesalahan kebijakan&#8221; dan &#8220;tindak pidana&#8221;. Hal ini mengisyaratkan bahwa konstruksi hukum yang digunakan untuk menjerat Gus Yaqut mungkin memiliki cacat fundamental.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penutup</strong> &#8220;Keadilan harus tegak di atas bukti dan prosedur yang sah, bukan di atas pasir hisap kepentingan politik,&#8221; demikian sebuah pesan bijak mengingatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat debu mulai mereda, kasus Gus Yaqut menjadi sebuah peringatan penting bagi kita semua. Ketika hukum digunakan untuk mengkriminalisasi itikad baik dalam sebuah diskresi, ia berhenti melindungi negara dan mulai mengikis fondasi kepemimpinan itu sendiri. Indonesia harus memutuskan: apakah ia akan menjadi bangsa yang dipimpin oleh supremasi hukum yang berkeadilan, atau oleh mereka yang sekadar memegang kendali atas label-label hukum?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh : <strong>Taufiq Ahmad</strong> / LAKPESDAM PCNU Kab. Magelang<br>*) <em>Diolah dari berbagai sumber dengan penyesuaian redaksional oleh SuaraNU.id. </em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kriminalisasi-diskresi-dan-ujian-keadilan-bagi-gus-yaqut/">Kriminalisasi Diskresi dan Ujian Keadilan bagi Gus Yaqut</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik &#8220;Gegeran&#8221; PBNU: Digitalisasi, AI, dan Runtuhnya Sekat Manipulasi</title>
		<link>https://suaranu.id/di-balik-gegeran-pbnu-digitalisasi-ai-dan-runtuhnya-sekat-manipulasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 09:17:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suaedy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=2386</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagian besar ulasan mengenai dinamika Nahdlatul Ulama (NU) belakangan ini—baik di jurnal, media massa, hingga...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/di-balik-gegeran-pbnu-digitalisasi-ai-dan-runtuhnya-sekat-manipulasi/">Di Balik &#8220;Gegeran&#8221; PBNU: Digitalisasi, AI, dan Runtuhnya Sekat Manipulasi</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1790188689" class="suara-before-content suara-entity-placement"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p class="wp-block-paragraph">Sebagian besar ulasan mengenai dinamika Nahdlatul Ulama (NU) belakangan ini—baik di jurnal, media massa, hingga status media sosial—cenderung terpaku pada sudut pandang politik. Mengapa? Karena itu yang paling mudah. Analisis politik sering kali tidak membutuhkan riset mendalam atau wawancara yang melelahkan. Di era digital ini, cukup dengan mengandalkan emosi atau &#8220;nyangkem&#8221; (asal bicara), bahkan seorang profesor pun bisa terjebak dalam pola yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, jika kita mau melihat lebih dalam, ada faktor yang jauh lebih besar yang mendorong pergeseran di internal PBNU saat ini: <strong>Karakter Digital.</strong></p>



<h3 class="wp-block-heading">Gagap di Tengah Arus <em>Post-Truth</em></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Banjirnya informasi kebenaran-buatan (<em>post-truth</em>) dan <em>deepfake</em> telah membuat banyak pihak, termasuk warga maupun elit NU, menjadi gagap. Fenomena ini menciptakan kecenderungan di mana orang dengan mudah membagikan informasi yang memicu emosi tanpa melakukan verifikasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironisnya, penyakit &#8220;asal sebar&#8221; ini juga menjangkiti kalangan intelektual dan profesor yang pernah lama mengenyam pendidikan di luar negeri. Padahal, inti dari pergeseran yang terjadi di NU saat ini berakar pada kebijakan digitalisasi organisasi yang sistematis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">DIGDAYA: Basis Transformasi dan Pemicu &#8220;Gegeran&#8221;</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Transformasi digital di NU dimanifestasikan melalui sistem <strong>DIGDAYA</strong> (Digitalisasi Data dan Layanan Nahdlatul Ulama). Saat ini, digitalisasi memang baru menyentuh tahap persuratan, namun peta jalannya jelas: akan mencakup kepengurusan, kader, program, hingga tata kelola keuangan dan aset.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa digitalisasi ini memicu kehebohan? Jawabannya sederhana: <strong>Transparansi.</strong> Dengan sistem digital yang <em>paperless</em>, ruang untuk manipulasi dan transaksi tidak sah menjadi tertutup rapat. Sebagai contoh, di masa lalu, Surat Keputusan (SK) kepengurusan sering kali menjadi komoditas yang &#8220;ditransaksikan&#8221;—baik dalam bentuk uang maupun kesepakatan politik tertentu—saat pengurus daerah menjemput SK ke pusat atau sebaliknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, melalui DIGDAYA, SK langsung diunggah oleh admin dan sampai ke alamat pribadi pengurus tanpa perantara. Inilah alasan mengapa urusan SK menjadi sangat krusial dalam pusaran konflik belakangan ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bocoran: Admin AI Akan Segera Hadir</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya untuk &#8220;mempermainkan&#8221; sistem DIGDAYA terus dicegah. Bahkan, dalam waktu dekat, PBNU akan melakukan langkah yang lebih radikal: <strong>meluncurkan admin berbasis AI (<em>Artificial Intelligence</em>)</strong> untuk mengelola DIGDAYA. Dengan AI, intervensi manusia yang subjektif akan diminimalisir hingga titik nol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya untuk membatalkan proses digitalisasi ini bukannya tidak ada. Ada tekanan luar biasa, mulai dari upaya pemecatan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas gagasan digitalisasi ini, hingga ancaman hukum melalui lembaga negara. Namun, sejauh ini, upaya penggagalan tersebut menemui jalan buntu.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Menavigasi Perubahan: Bukan Sekadar Broker Budaya</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, sudut pandang ini jarang disentuh oleh para pengamat atau intelektual medsos. Kebanyakan masih meremehkan (<em>underestimate</em>) transformasi di tubuh NU. Bagi mereka yang ingin memahami landasan pemikiran ini secara serius, buku <strong>&#8220;Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren, Syarah Pemikiran Gus Yahya&#8221; (2025)</strong> sudah membedah masalah digitalisasi ini secara tuntas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pergeseran ini juga merambah pada kemandirian ekonomi. Pengelolaan lembaga usaha melalui BUMNU, termasuk pengelolaan tambang, kini harus berada di bawah kendali organisasi secara langsung, bukan lagi oleh individu pengurus secara personal. Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi internasional seperti <em>Nahdlatul Ulama Harvest Maslaha</em> (NUHM) dan <em>Sharia Global Services</em> (SGS) yang baru saja diluncurkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">NU sedang bertransformasi. Jika dulu NU sering dianggap hanya sebagai <em>cultural broker</em> (perantara budaya), kini perannya meluas menjadi aktor ekonomi dan politik yang terorganisir. Ada yang melihat ini secara negatif dan menganggap agama tidak boleh berpolitik atau berbisnis di level tertentu. Namun, pertanyaannya tetap sama: <em>Emang napa? Masalah buat lu?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dunia sedang berubah, dan NU memilih untuk menavigasi perubahan itu daripada tergilas olehnya. Kita hanya butuh sedikit kesabaran sampai semua orang—termasuk para profesor—menyadari realitas baru ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Prof. Ahmad Suaedy</strong> (dengan penyesuaian)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Asli : <a href="https://www.facebook.com/share/p/1Bm9oeDRT4/">https://www.facebook.com/share/p/1Bm9oeDRT4/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/di-balik-gegeran-pbnu-digitalisasi-ai-dan-runtuhnya-sekat-manipulasi/">Di Balik &#8220;Gegeran&#8221; PBNU: Digitalisasi, AI, dan Runtuhnya Sekat Manipulasi</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pakar Gadungan, Panggung Digital, dan Matinya Akal Sehat&#8221;</title>
		<link>https://suaranu.id/pakar-gadungan-panggung-digital-dan-matinya-akal-sehat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ahmad Taufiq]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2025 01:59:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[akal sehat]]></category>
		<category><![CDATA[analisis]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[Lakpesdam]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=1938</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di sebuah sore di tahun 2022, seorang perempuan muda di Bandung menyeruput jus hijau sambil...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/pakar-gadungan-panggung-digital-dan-matinya-akal-sehat/">&#8220;Pakar Gadungan, Panggung Digital, dan Matinya Akal Sehat&#8221;</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1736359152" class="suara-before-content suara-entity-placement"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p class="wp-block-paragraph">Di sebuah sore di tahun 2022, seorang perempuan muda di Bandung menyeruput jus hijau sambil menatap video TikTok. Di layar, seorang wanita berkacamata tegas—disebut &#8220;Dr. Maya&#8221;, menjamin bahwa racikan daun kelor dan nanas bisa menyembuhkan kanker. Dua bulan kemudian, perempuan itu meninggal. Tumor yang semula stadium awal telah bermetastasis. Keluarganya baru tahu: &#8220;Dr. Maya&#8221; tak pernah kuliah kedokteran. Latarnya? Mantan sales obat herbal yang membeli gelar doktor dari situs gelar palsu. Kisah ini bukan sekadar duka keluarga. Ini potret zaman: <strong>media telah menjadi panggung di mana kepakaran sejati dibunuh perlahan, digantikan oleh ilusi yang dijual sebagai kebenaran.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tom Nichols, dalam <em>The Death of Expertise</em>(2017), menggambarkannya sebagai &#8220;epidemi ketidakdewasaan intelektual” bahwa masyarakat lebih memilih dongeng yang nyaman ketimbang fakta yang pahit. Lihatlah bagaimana studio televisi menjelma menjadi pasar loak gelar. Seorang influencer kecantikan dengan 500 ribu pengikut tiba-tiba menjadi &#8220;pakar parenting&#8221; karena punya dua anak. Seorang mantan kontestan <em>reality show</em> diundang sebagai &#8220;analis politik&#8221; hanya karena jargonnya viral di Twitter. Di sini, kamera tak merekam proses verifikasi—ia hanya menangkap senyum manis, kostum necis, dan kalimat-kalimat yang terdengar <em>nyaris</em>meyakinkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Psikolog media Sherry Turkle (2015) menyebut ini <strong>&#8220;krisis kedekatan palsu&#8221;</strong>. Di era digital, publik lebih percaya pada sosok yang &#8220;terasa seperti teman&#8221; ketimbang profesor dengan puluhan jurnal ilmiah. Media memanen kerentanan ini: memilih narasumber yang piawai memainkan emosi, bukan yang menguasai substansi. Contohnya kasus <strong>Andrew Wakefield</strong>—dokter gadungan yang memicu gerakan anti-vaksin global. Meski 97% studi membantah klaimnya, media massa tahun 1990-an memberitakannya sebagai &#8220;kontroversi&#8221;, seolah ada dua sisi yang setara. Hasilnya? WHO mencatat 140.000 kematian campak pada 2019, sebagian besar karena imbas hoaks yang ia sebarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, mengapa media menjadi komplotan dalam tragedi ini? Jawabannya bukan pada teknologi, melainkan krisis moral industri. Platform media mengukur kesuksesan dari <em>engagement</em>—bukan akurasi. Seperti dikritik pakar komunikasi Donald Nathanson (2004), <strong>&#8220;Kemarahan dan kekaguman palsu lebih mudah dijual ketimbang fakta yang dingin.&#8221;</strong> Algoritma tak peduli apakah seorang &#8220;ahli&#8221; itu kompeten; yang penting kontroversinya bisa menahan jempol pengguna. Di Indonesia, UU Pers No. 40/1999 tak mengatur sanksi bagi media yang menampilkan narasumber fiktif. Bandingkan dengan Jepang: pada 2021, stasiun NHK didenda ¥50 juta karena menampilkan &#8220;ahli ekonomi&#8221; yang ternyata karyawan toko <em>online</em>. Tanpa denda yang menyakitkan, media kita akan terus jadi pabrik legitimasi abal-abal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang produser acara kesehatan di Jakarta pernah berbisik: <em>&#8220;Kalau narasumbernya nggak &#8216;sexy&#8217; di layar, rating jatuh. Sponsor kabur.&#8221;</em> Di sini, logika bisnis mengalahkan integritas. Nichols (2017) menulis pedas: <strong>&#8220;Di industri yang sakit, kepakaran diukur dari seberapa lama Anda bisa menahan penonton di sofa, bukan dari seberapa dalam ilmu yang Anda miliki.&#8221;</strong> Akibatnya, kita semua menanam bom waktu. Di Filipina, kasus <strong>&#8220;Dr. Farrah&#8221;</strong>—dokter palsu yang tampil di 15 stasiun TV—memicu 23 kasus overdosis obat tradisional. Di AS, podcast <strong>Joe Rogan</strong> yang menyebarkan mitos vaksin COVID-19 dikaitkan dengan 9.000 kematian yang bisa dicegah (<em>The Lancet</em>, 2023). Tapi di balik angka-angka itu, ada kehancuran yang lebih halus: <strong>publik mulai ragu pada semua otoritas.</strong> Seperti kata filsuf Hannah Arendt, <strong>&#8220;Lingkungan yang dipenuhi kebohongan bukan hanya menghasilkan ketidaktahuan, tapi juga keengganan untuk percaya pada kebenaran apa pun.&#8221;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di tengah keputusasaan, selalu ada celah cahaya. Ajarkan anak-anak untuk bertanya: <em>&#8220;Siapa kamu sebenarnya? Apa buktinya? Dari mana klaim ini berasal?&#8221;</em> Seperti kata pepatah Tiongkok kuno: <strong>&#8220;Memberi seseorang seekor ikan memberinya makan untuk sehari. Mengajarnya memilah informasi memberinya kehidupan.&#8221;</strong>Bayangkan algoritma yang tak hanya mengejar <em>clickbait</em>, tapi juga memberi &#8220;poin kredibilitas&#8221; pada narasumber. Platform seperti NewsGuard sudah mulai melakukannya—mengapa kita tidak? Media harus berani memperlambat diri. Seperti kata Goenawan Mohamad: <strong>&#8220;Jurnalisme bukan tentang kecepatan, melainkan kedalaman. Bukan tentang siapa yang pertama, tapi siapa yang paling jernih.&#8221;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 1986, Umberto Eco memperingatkan: <strong>&#8220;Media sosial akan memberi suara pada jutaan orang bodoh.&#8221;</strong> Tapi ia lupa menyebut bahwa media arus utama bisa menjadi panggung mereka. Kita telah sampai di persimpangan: melanjutkan budaya &#8220;asal viral&#8221;, atau merawat kembali martabat kepakaran. Pilihannya bukan hanya menentukan nasib media, tapi juga peradaban. Sebab, seperti ditulis Nichols: <strong>&#8220;Masyarakat boleh membenci ahli, tapi mereka tak bisa hidup tanpa ahli.&#8221;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin suatu hari nanti, di layar kaca, kita akan melihat wajah-wajah baru: bukan penipu berjas, tapi ahli yang rendah hati. Sampai saat itu tiba, tugas kita adalah tetap kritis—seperti obor di tengah kabut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis: <em>Ahmad Taufiq</em> &#8211; Pengurus Lakpesdam PCNU Kab. Magelang</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi</strong>:<br>Wawancara dengan Produser Televisi Jakarta (2023).<br>Nichols, T. (2017). <em>The Death of Expertise</em>.<br>Turkle, S. (2015). <em>Reclaiming Conversation</em>.<br><em>The Lancet</em> Study on COVID-19 Misinformation (2023).</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/pakar-gadungan-panggung-digital-dan-matinya-akal-sehat/">&#8220;Pakar Gadungan, Panggung Digital, dan Matinya Akal Sehat&#8221;</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>40 Tahun Lakpesdam NU: Antara Turats dan Menggerakkan Ijtihad Sosial</title>
		<link>https://suaranu.id/40-tahun-lakpesdam-nu-antara-turats-dan-menggerakkan-ijtihad-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ahmad Taufiq]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2025 01:37:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lakpesdam]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=1903</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selamat Hari Lahir (Harlah) ke-40 Lakpesdam NU! Di bawah kepemimpinan Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/40-tahun-lakpesdam-nu-antara-turats-dan-menggerakkan-ijtihad-sosial/">40 Tahun Lakpesdam NU: Antara Turats dan Menggerakkan Ijtihad Sosial</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3297814194" class="suara-before-content suara-entity-placement"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong><em>Selamat Hari Lahir (Harlah) ke-40 Lakpesdam NU!</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah kepemimpinan Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Lakpesdam NU semakin menegaskan posisinya sebagai think tank strategis yang mengawal gerakan Nahdlatul Ulama (NU) baik di tingkat nasional maupun global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai institusi riset dan perencanaan, Lakpesdam tidak hanya berfokus pada penguatan tradisi keagamaan (ubudiyah), tetapi juga merancang program berbasis bukti (<em>evidence-based</em>) untuk menjawab tantangan peradaban kontemporer seperti transformasi digital, ketahanan finansial, dan problem kebangsaan. Pendekatan ini menjadikan NU sebagai organisasi yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan dinamika zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lakpesdam berperan sebagai mitra kritis PBNU dalam merumuskan kebijakan berbasis data. Melalui riset mendalam, lembaga ini mengarahkan tema-tema besar Bahtsul Masail pada isu aktual seperti kesenjangan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial. Contoh konkret adalah keterlibatan NU dalam merespons pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata (PIK 2) di Kabupaten Tangerang. PCNU setempat, melalui LBH NU, melakukan pendampingan dan riset lapangan terhadap masyarakat terdampak. Hasilnya, PBNU merekomendasikan peninjauan ulang kebijakan PIK 2, menekankan prinsip keadilan dalam penetapan harga lahan melalui kesepakatan bersama, serta pemenuhan hak-hak warga. Proses ini mencerminkan metodologi NU yang hati-hati, berbasis fakta, dan menjauhi tindakan reaktif maupun provokatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size">Politik Kebangsaan NU: Solusi Moderat, Bukan Konfrontasi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Politik NU selalu berorientasi pada harmoni kebangsaan (<em>siyasah waṭaniyyah</em>), yakni mencari solusi yang win-win untuk meredakan gejolak tanpa mengorbankan prinsip keadilan. NU menolak gaya politik intimidatif dan provokatif. Tuduhan bahwa NU &#8220;tidak peka terhadap masalah sosial&#8221; bertolak belakang dengan fakta sejarah: melalui Lakpesdam dan lembaga otonom lainnya, NU secara sistematis menjawab tantangan seperti penggusuran, radikalisme, dan ketimpangan pendidikan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis ilmu. Bagi NU, keberpihakan terhadap rakyat tidak harus dibuktikan lewat retorika keras, tetapi melalui kerja nyata yang ilmiah dan bijaksana.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size">Bayt al-Hikmah dan Warisan Intelektual Islam</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada abad ke-9, dunia Islam melahirkan Bayt al-Hikmah di Baghdad, simbol kejayaan intelektual Islam. Lembaga ini menjadi pusat kajian lintas ilmu—agama, filsafat, astronomi, kedokteran, dan matematika. Para ulama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina bukan hanya penerjemah, tetapi juga inovator. Spirit yang mereka bawa adalah integrasi antara wahyu dan akal, antara turâts dan realitas, antara ibadah dan ilmu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lakpesdam NU, dalam konteks abad ke-2 NU, sangat relevan untuk mengambil inspirasi ini. Lakpesdam bisa menjadi Bayt al-Hikmah kontemporer, yang tidak hanya menjaga nalar Aswaja dalam bentuk klasik, tetapi juga mengaktifkannya dalam transformasi sosial dan kebijakan publik. Riset yang dilakukan bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk tindakan yang membebaskan dan memajukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menjaga keberlanjutan dan relevansi peran ke depan, Lakpesdam NU harus melangkah dengan akar yang kuat dan arah yang terang, berpijak pada jalan <em>thariqah Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah an-Nahdliyah</em>. Sebagai lembaga yang lahir dari rahim pesantren dan tradisi keilmuan Islam klasik, Lakpesdam tidak bisa sekadar menjadi institusi teknokratik. Ia harus tetap menjadi penjaga warisan keilmuan, turats dengan membumikan riset sosial yang berpijak pada ushul fiqh, maqashid syari&#8217;ah, serta nilai-nilai tasawuf akhlaqi. Tajdid sosial yang ditawarkan Lakpesdam pun hendaknya dilakukan dengan pendekatan <em>tadarruj</em> (bertahap) dan penuh hikmah, bukan secara reaktif ataupun pragmatis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam menjawab berbagai isu kebangsaan, paradigma moderasi (<em>wasathiyyah</em>) NU harus menjadi napas dalam setiap inisiatif. NU tidak terjebak dalam ekstremitas ideologi kanan atau kiri, tetapi konsisten menjaga khidmah kepada umat dan bangsa dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Di titik inilah, Lakpesdam memiliki potensi besar untuk mentradisikan pemikiran NU menjadi sebuah mazhab sosial-keislaman yang sistematis dan aplikatif. Sebagaimana Imam al-Ghazali pernah merumuskan sintesis antara syariah dan tasawuf dalam konteks individual dan masyarakat, demikian pula Lakpesdam dapat merumuskan &#8220;paradigma Aswaja&#8221; sebagai kerangka pemikiran dalam perumusan kebijakan sosial yang berbasis nilai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh lagi, Lakpesdam harus mampu menjadi teladan dalam integrasi antara kerja sosial dan spiritualitas. Nilai-nilai seperti <em>ikhlas</em>, <em>tawadhu</em>&#8216;, <em>mujahadah</em>, dan <em>tsiqah</em>-keyakinan pada perjuangan kolektif adalah DNA dari <em>thariqah an-Nahdliyah</em>. Program-program yang dijalankan tidak semata didorong oleh logika proyek, tetapi harus dimaknai sebagai bentuk ibadah ijtima&#8217;i, yaitu ibadah sosial yang lahir dari ketulusan, keikhlasan, dan kecintaan terhadap umat. Dengan demikian, arah idealitas Lakpesdam ke depan adalah menjadi poros yang menyeimbangkan antara tradisi dan transformasi, antara dzikir dan pikir, antara khidmah dan ijtihad.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size">Refleksi dan Harapan: Dari Tradisi ke Inovasi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Lakpesdam adalah manusia, maka usia 40 adalah masa kematangan sekaligus titik balik. Bukan sekadar fase bertahan, tapi saatnya tumbuh progresif, dinamis, dan memberi warna pada zaman. Amanat abad ke-2 NU adalah amanat perubahan struktural dan kultural. Lakpesdam harus menjadi kompas peradaban, sekaligus pelindung warisan para masyayikh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita hidup di era perubahan yang cepat, kompleks, dan tak terduga. Advokasi dan pemberdayaan harus bergeser dari sekadar akses ke arah kemandirian dan keberdayaan yang berkelanjutan. Pendekatan progresif bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Bersama generasi muda, Lakpesdam bisa menjadi kekuatan transformasi: tidak hanya menyuarakan perubahan, tapi menciptakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terima kasih kepada seluruh muasis, penggerak, dan mitra yang telah menghidupkanlembaga ini dari masa ke masa. Kepada para pendahulu, baik yang masih membersamai maupun yang telah wafat, kami kirimkan doa terbaik dan penghormatan tertinggi. Alfatihah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kerja tim dan semangat khidmah, Lakpesdam PBNU harus lebih dari sekadar lembaga advokasi. Ia harus menjadi simbol harapan, pusat kebijakan, rumah ilmu, dan cahaya pencerahan di tengah masyarakat, dan bukannya terlalu muluk, namun juga tidak mungkin, bahwa sebagaimana Bayt al-Hikmah dahulu menjadi mercusuar dunia Islam, maka Lakpesdam NU hari ini harus menjadi pelita zaman di tengah gelapnya krisis sosial dan krisis makna. Ia tak hanya meneliti untuk tahu, tapi mengkaji untuk bertindak, membela yang lemah, dan membangkitkan kesadaran umat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><a href="https://www.facebook.com/addtaufiq">Ahmad Taufiq</a> &#8211; Pengurus LAKPESDAM PCNU Kab. Magelang</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/40-tahun-lakpesdam-nu-antara-turats-dan-menggerakkan-ijtihad-sosial/">40 Tahun Lakpesdam NU: Antara Turats dan Menggerakkan Ijtihad Sosial</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
