SALAM-Malam ganjil 10 hari terakhir Ramadlan dan termasuk tanggal 29 Ramdhan yang secara konsepsi spiritual diyakini menjadi indikasi datangnya malam yang melebihi seribu bulan yang selalu menjadi spirit dalam menjalankan ibadah Ramdlan.
Berbagai bentuk ibadah dan amal kebaikan dalam menyambut dan memuliakan malam Ramadlan ini banyak dilakukan oleh kaum muslim.Selama satu bulan setiap malam di bulan Ramdhan Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Salam Kabupaten Magelang melanggengkan riyadlah dan mujahadah keliling di mushola dan masjid yang ada di Kecamatan Salam yang dimulai pukul 00.00 – 01.00 pagi.
Realitasi spiritual yang sudah menjadi tradisi ini berajalan bertahun-tahun di Kecamatan Salam Kabupaten Magelang. Bentuk ibadah, mujahadah dan pembacaan aurad, sebagi berikut :
✓ Sholat taubat
✓ Sholat Tasbih
✓ Sholat Hajat
✓ Mujahadah dan Washilah Wali Qutub
✓ Dzikrul Jalalah
✓ Hizib Aurad
✓ Syi’ir Nurul Burhan
✓ Sholawat sulthon
✓ Sholawat Kubro
✓ Mahalul Qiyam ( Sraqal)
Prosesi ibadah, mujahadah dan amaliyah bacaan aurad di pimpinan Oleh kyai karismatik KH. Habibullah dari Glagah Ombo Sucen Salam Kabupaten Magelang. Malam 29 Ramdhan menjadi malam penutupan serangkaian ibadah mujahadah dan pembacaan aurad putaran bulan Ramadhan Tahun 1446 H ini.
Kegiatan ini berlangsung di Masjid Kyai Jalalin yang berada di kampung Kuncen Desa Seloboro Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Kampung Kuncen yang berada di lembah Gunung Sari merupakan tempat pemakaman K. Jalalin yang merupakan salah satu cucu dari Pangeran Singosari atau yang dikenal Mbah R. Santri yang makamnya berada di Gunungpring Muntilan.

Apabila ditarik garis ke atas K. Jalalin adalah canggah dari Ki Ageng Pemanahan yang menjadi cikal bakal kerajaan Mataram Islam. Suatu hal yang tak terduga dan terencana di malam 29 Ramadhan tahun ini, dan juga bertepatan dengan acara penutupan serangkaian putaran mujahadah dihadiri oleh Bupati Magelang yang terpilih pada kontestasi pilkada tahun 2024 kemarin, Grengseng Pamuji.
Diketahui, Grengseng juga hadir tanpa perencanaan dan sifatnya spontan, sehingga kedatangannya pun tanpa protokoler hanya didampingi 2 orang. Yang menarik adalah Grengseng Pamudji hadir setelah mendengar cerita realitas spiritual amaliyah rutin di malam – malam bulan Ramadhan yang sudah berjalan bertahun – tahun sehingga sudah mentradisi di tingkat Pengurus MWC, Penggurus Ranting NU dan masyarakat di wilayah Kecamatan Salam.
Dorongan ibadah dan amaliyah diniyyah bisa menjadi model membumikan nilai – nilai amaliyah spiritual , inspirasi seperti ini banyak dilakukan oleh para aulia Allah dalam perjalanan Islam di Negeri ini.
Serangkaian ibadah mujahadah dan pembacaan aurad ditutup dengan saresehan bersama Bupati, jajaran pengurus MWCNU, perwakilan pengurus ranting dan kepala desa Seloboro dan beberapa Kepala Desa yang berdekatan dengan Desa Seloboro maupun Kepala Desa yang biasa mengikuti acara Mujahadah ini.
Dalam Sambutannya, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan, apresiasi kepada Mbah K.H. Habbullah, jajaran pengurus MWC-NU Salam dan para pengurus ranting NU se-Kecamatan Salam serta masyarakat se-Kecamatan Salam yang telah membudayakan memanfaatkan malam – malam Ramdhan dengan agenda mulia ini.
“Hal ini senada dengan semangat penciptakan koneksitas antar desa, apalagi nilai amaliyah spritual yang sudah menjadi amaliyah tradisi. Hal semacam ini bisa menginspirasi kecamatan lain untuk melakukan kegiatan yang serupa” pungkas Grengseng Pamudji.
Pewarta : Deby Fauziani / Editor : RZQ