Surat terbuka untuk NU dari Saudara Muhammadiyah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jujur saja, kalau bicara soal suasana Ramadhan yang semarak, masjid-masjid NU selalu punya tempat tersendiri dalam ingatan saya. Ada banyak aktivitas yang mungkin bagi sebagian orang dianggap berlebihan, tapi saya melihatnya sebagai bentuk ekspresi kegembiraan dalam menyambut bulan suci. Masjid-masjid NU bukan sekadar tempat shalat dan tarawih, tapi juga pusat kehidupan sosial dan spiritual yang mengakomodasi semua kalangan—baik yang rajin beribadah maupun yang baru belajar mendekatkan diri kepada agama.
Saya tahu, sebagian dari kami di Muhammadiyah lebih terbiasa dengan pendekatan ibadah yang lebih simpel dan formal. Ada yang mengkritik kegiatan seperti tadarus bersahutan, bedug yang ditabuh, tarhim sebelum adzan, atau bahkan nyadran dan megengan sebagai sesuatu yang tidak ada tuntunannya secara langsung dari Rasulullah ﷺ. Tapi setelah saya renungkan, saya justru melihat bagaimana NU berhasil menjaga tradisi ini sebagai media dakwah yang efektif—cara yang sudah sejak lama diterapkan oleh para Wali Songo untuk menyebarkan Islam di Nusantara.
Kalau ada yang bertanya, “Bukankah ini bid’ah?” Saya mulai memahami bahwa tidak semua hal yang baru itu sesat, apalagi jika tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana kaidah yang sering disampaikan ulama NU:
“المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح”
(Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat).
Ini pula yang membuat saya menyadari, mengapa masjid-masjid NU selalu hidup sepanjang Ramadhan. Di tempat lain, mungkin setelah tarawih masjid kembali sunyi, pintu ditutup, lampu dimatikan, dan aktivitas ibadah lebih banyak dilakukan di rumah. Tapi di NU, suasana sebaliknya: masjid tetap menyala, orang-orang masih berkumpul, tadarus terus mengalun, dan anak-anak kecil sampai orang tua tetap merasa menjadi bagian dari kehidupan masjid.
Bisa jadi, karena pendekatan ini, NU lebih bisa menjangkau masyarakat awam—orang-orang seperti Mbak Yu Tumiati, Kang Supingi, Cak Na’al—yang beragama dengan cara sederhana dan tidak terlalu terbebani dengan konsep yang berat. Islam di tangan NU terasa lebih humanis, lebih membumi, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saya tetap Muhammadiyah, dan saya bangga dengan warisan pemikiran yang ada di dalamnya. Tapi saya juga belajar untuk mengakui kelebihan orang lain tanpa perlu merasa lebih unggul. Mungkin ada perbedaan cara dalam memahami agama, tapi selama itu membawa manfaat dan tidak keluar dari prinsip dasar Islam, kenapa harus dipertentangkan?
Saya hanya ingin jujur melihat realitas: NU berhasil menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh kegembiraan dan kebersamaan, tanpa membuat orang merasa asing di dalamnya. Mungkin ada yang tidak sepakat dengan sebagian tradisinya, tapi siapa yang bisa menyangkal bahwa masjid-masjid NU adalah yang paling semarak dan paling makmur di bulan Ramadhan?
Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ditulis ulang oleh Ahamd Taufiq – Pengurus LAKPESDAM PCNU Kab. Magelang