Menu

Mode Gelap

Artikel · 10 Feb 2025 08:44 WIB · · Artikel ini telah dibaca 8 kali

Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (2)


Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (2) Perbesar

Bagikan :
Kalau Kyai Chudhori mengundang Ida Laila penyanyi dangdut di era 70an dengan sanad yang jelas seperti yang dilakukan oleh Kyai Khozin Bendo Kediri dalam rangkaian tasyakuran khataman kitab Ihya Ulumuddin, maka putra beliau Gus Muh , Kyai Ahmad Muhammad lebih unik lagi melakukan metode dakwah yang menarik yang sempat mengundang kontroversi, dengan memasukkan kesenian kaum abangan seperti Jathilan, wayang, reog dan ketoprak untuk ditampilkan dalam rangkaian acara Haflah, perayaan akhir tahun belajar pondok pesantren API Tegalrejo.
Pada awalnya, banyak pihak yang mengkritisi ide, dan model dakwah Gus Muh ini, namun ada salah-satu kerabat Gus Muh, Simbah Kyai Thoyib Gejagan dengan bijak mengutip sebuah kalimat dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghozali yang menjadi kitab induk yang diajarkan di pondok pesantren API Tegalrejo ” Sebuah tahi lalat di wajah seseorang akan mempercantik wajah itu, namun jika tahi lalat itu lebih dari satu, wajahnya akan kelihatan buruk. Jadi pertunjukan kesenian ini menjadi lebih baik jika diadakan sekali setahun, di satu tempat saja “. Sebuah logika fiqh yang mencoba disampaikan kepada masyarakat santri yang mungkin mempertanyakan model dakwah Gus Muh.
Disisi lain pun, penulis pernah mendengar argumentasi langsung dari ceramah Gus Muh dalam sambutan Haflah akhirussanah, dengan mengutip mutiara Kalam Syekh Ibnu Atho’ilah As Sakandary :
معصية أورثت ذلا وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا
“Maksiat yang meninggalkan perasaan hina dan tidak berdaya, lebih baik daripada keta’atan yang meninggalkan perasaan sombong dan takabur”. Tentu dawuh ini lebih kepada kalimat penghibur bagi para pelaku seni yang diundang Gus Muh sehingga memberi harapan bagi sebagian masyarakat yang selama ini berkubang dipusaran maksiat dan dosa sebagaimana yang dikemukakan oleh Mbah Parto Geni seorang mantan aktivis PKI yang bertobat dan akhirnya membangun langgar dengan biaya sendiri. Bahkan setelah tampilnya kesenian di rangkaian acara Haflah akhirussanah pondok pesantren API Tegalrejo itu , banyak desa desa abangan yang merupakan basis kaum abangan mengundang, ngaturi Gus Muh untuk memberikan pengajian di desa mereka. Saat mengisi pengajian, Gus Muh menyampaikan dalam bahasa yang dimengerti oleh semua lapisan masyarakat, dengan bahasa Jawa.
Hadirin dan hadirat yang berbahagia Saya berani mengatakan tempe lebih baik daripada daging yang mahal tapi sudah busuk ( daging larang neng bosok ) .( hadirin tertawa ) baik hadirin sekalian! ( untuk menghentikan tawa yang masih bergemuh ) karena itu marilah kita menjadi orang baik seperti makanan yang baik sehingga kita memperoleh tempat yang baik pula janganlah sekali-kali kita menjadi orang yang batinnya seperti daging busuk ketimbang jadi daging busuk lebih baik kita menjadi tempe saja tak penting harganya murah selama dia bersih dan tidak busuk orang-orang yang jiwanya bersih mungkin hidup dalam kemiskinan karena mereka tidak ingin mencuri merampok menipu korupsi itulah mengapa mereka sering berkata apa yang akan dimakan besok ? sebaliknya orang yang meletakkan kehidupan lahir di atas segala-galanya bisa jadi hidup dalam kekayaan yang melimpah. namun karena tujuannya hanya ingin menumpuk kekayaan dengan mengabaikan hukum Allah, dengan melupakan tanggung jawabnya kepada Allah dan kehidupan akhirat. kepala mereka diberi pertanyaan siapa yang akan saya makan besok ? ( tertawa) hadirin yang berbahagia jika pertanyaan Anda sehari-hari adalah apa yang akan saya makan besok dan bukan siapa yang akan saya makan besok maka jangan khawatir tapi berbanggalah karena berarti iman masih tertanam kuat di dalam batin anda jangan pernah lupa, keberhasilan jiwa lah yang akan meninggikan posisi anda dimata Allah, yang penting dan utama di mata Allah bukanlah kekayaan atau Kebagusan tubuh anda, yang penting bagi Allah adalah batin anda bukan lahir Anda isi bukan wadah!”.
Apa yang dilakukan oleh Gus Muh dengan dakwah yang berwajah kultural terbukti telah mampu untuk menjadi sarana mobilitas spiritual masyarakat menjadi lebih Islam dibanding periode-periode sebelumnya. Sehingga pada tahun 1980an, terjadi proses santrinisasi abangan secara masif. Sebuah proses yang baru disadari setelah didapati kampung-kampung yang menjadi lebih hidup kegiatan keagamaan saat ini, dan maraknya pengajian-pengajian secara rutin atau sering disebut pengajian selapanan.
Abdul Aziz Idris Pangkat 
Pemerhati dakwah kultural
Bagikan :
badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kyai Abdan, Sang Jurkam NU

4 February 2025 - 03:56 WIB

Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI

5 June 2021 - 01:37 WIB

Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 2)

27 May 2021 - 15:20 WIB

Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 1)

26 May 2021 - 04:05 WIB

Manakib dan Keramat (Bagian Ketiga Ngaji Kitab Manakib Karya Al-Maghfurlah Simbah KH. Dalhar Watucongol)

23 May 2021 - 15:49 WIB

Amaliyah Hati Lebih Agung Dari Aktivitas Fisik

4 May 2021 - 11:31 WIB

Trending di Artikel