Dibulan Sya’ban di daerah Magelang dan sekitarnya akan ramai dengan event pengajian dalam rangka khataman atau penutupan kegiatan pembelajaran, ngaji. baik itu di pesantren-pesantren atau pengajian-pengajian di kampung, yang menarik adalah event khataman yang menjadi agenda rutin pondok pesantren API ( Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo. Kenapa menarik karena selain pengajian akbar dengan kehadiran ribuan orang dipuncak khatamannya, ada juga pekan seni budaya yang berlangsung sebagai rangkaian acara Haflah akhirussanah ( perayaan akhir tahun ).
Pekan seni budaya ( Pawiyatan Budaya Agung ) ini sudah menjadi tradisi pondok pesantren API dari sejak zaman Pendiri pondok pesantren yakni Al-maghfurlah Simbah KH.Chudlori, selama sepekan masyarakat bukan hanya para santri tetapi masyarakat umum juga menikmati pentas seni dari beberapa grup kesenian yang memang sudah menjadi langganan hadir meramaikan, ada pentas seni wayang kulit, ketoprak, topeng ireng.
Partisipasi dari para seniman dalam perhelatan khataman pondok pesantren ini tentu menjadi hal yang unik, karena tidak semua pesantren mengadakan, tetapi sebenarnya bukan hal yang aneh, karena secara “sanad” tradisi ini tidak lepas dari sosok Sang Pendiri pondok pesantren yakni Al-maghfurlah Simbah KH.Chudlori yang pernah ngaji, mondok di pondok pesantren Bendo Kediri yang disana juga ada tradisi tasyakuran khataman kitab Ihya Ulumuddin dengan nanggap dangdut, sebuah ijtihad dakwah Kyai Khozin Bendo yang ditiru oleh KH.Chudlori Tegalrejo.
Sebuah ikhtiar dakwah dengan pola seperti ini secara tidak langsung sebenarnya membuka wawasan kepada para santri untuk lebih terbuka dalam berdakwah kelak kemudian hari ketika harus pulang untuk menyebarkan ilmu kepada masyarakat, bahwa dakwah tidak pilih-pilih orang, golongan tetapi bersifat universal sehingga masyarakat yang belum tersentuh dan mengenal agamapun justru menjadi prioritas. Santri dan pondok pesantren bukan entitas yang eklusif tetapi juga bagian dari masyarakat kebanyakan, yang harus berbaur dengan masyarakat dan memberi kontribusi yang nyata bagi kehidupan keagamaan masyarakat.
KH.Chudlori sangat faham betul kultur masyarakat saat itu, bahkan beliau juga melihat secara tajam nilai keuniversal dakwah Islam, membimbing masyarakat tidak sama dengan membimbing santri yang mukim di pesantren. Ada cerita unik bagaimana jawaban beliau saat diminta pendapatnya terkait polemik dimasyarakat tentang mana yang lebih didahulukan membeli gamelan dan membangun masjid, polemik yang bisa memicu perselisihan di masyarakat desa Tepus saat itu, cara pandang beliau sehingga kemudian ketika disowani dan dimintai dawuh terkait hal itu, beliau menjawab yang terpenting bagi semuanya adalah masyarakat tetep guyub rukun, dan tidak congkrah sehingga beliau menjawab bahwa membeli gamelan bisa menjadi prioritas daripada membangun masjid, karena kepentingan umum dan tipologi masyarakat saat itu yang bisa rukun dan guyub dengan cara seperti itu. Ketika masyarakat sudah guyub dan rukun membangun masjid menjadi hal yang mudah begitu pandangan dan kearifan beliau.
Maka tidak heran jika kemudian ketika alumni-alumni pondok pesantren API terjun kemasyarakatan diterima dengan mudah, sekalipun mereka terjun didaerah yang notabenenya abangan seperti di daerah Solo raya. Sebuah ikhtiar dakwah yang telah digagas Al-maghfurlah Simbah KH.Chudlori senyatanya adalah penerus rolle model dakwah Para Wali Songo.
Abdul Aziz Idris Pangkat
Pemerhati Dakwah Kultural