Musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia menjadi momentum tepat bagi umat Islam untuk bermuhasabah. Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema kekeringan sebagai pengingat akan kebesaran Allah dan panggilan untuk peduli terhadap sesama makhluk hidup.
Air adalah Sumber Kehidupan
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 30: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa air adalah sumber kehidupan. Tidak ada makhluk hidup di muka bumi ini yang bisa bertahan tanpa air — manusia, hewan, tumbuhan, semuanya bergantung pada air. Maka saat air menjadi langka di musim kemarau, sesungguhnya Allah sedang mengingatkan betapa bergantungnya kita kepada-Nya.
Di ayat lain, Surat Al-Mulk ayat 30, Allah bertanya secara retoris: “Katakanlah (Muhammad), ‘Tahukah kamu jika sumber airmu menjadi kering, siapakah yang akan memberimu air yang mengalir?’” Pertanyaan ini menusuk kesadaran kita — saat sumur mengering dan sawah retak-retak, siapa yang bisa mendatangkan air selain Allah? Tidak ada.
Teladan Rasulullah dalam Menyikapi Kemarau
Rasulullah SAW mengajarkan sikap yang tepat dalam menghadapi fenomena alam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, diceritakan bahwa ketika angin bertiup kencang, raut wajah Nabi SAW berubah. Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, biasanya orang-orang gembira saat melihat angin karena berharap itu membawa rahmat (hujan).” Nabi menjawab, “Tapi aku khawatir justru angin ini membawa azab.”
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memandang fenomena alam dengan sikap “biasa-biasa saja”. Beliau selalu mengaitkannya dengan kekuasaan Allah. Sikap waspada dan penuh perhitungan inilah yang seharusnya kita teladani.
Tiga Pelajaran dari Musim Kemarau
Pertama, kesabaran. Nabi SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim). Musim kemarau dengan segala kesulitannya adalah ladang kesabaran.
Kedua, syukur. Saat air melimpah di musim hujan, seringkali kita lupa bahwa itu adalah nikmat. Begitu kemarau datang dan air susah didapat, barulah kita tersadar betapa besar nikmat air selama ini. Bukankah ini saatnya memperbanyak syukur?
Ketiga, solidaritas. Di saat sebagian dari kita masih bisa menikmati air bersih, saudara-saudara kita di pelosok desa harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan seember air. Inilah saatnya kepedulian sosial diuji.
Islam dan Pelestarian Air
Islam adalah agama yang sangat peduli dengan kelestarian air. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah berlebihan dalam menggunakan air, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.” Subhanallah! Bahkan di tepi sungai yang airnya melimpah sekalipun, Rasulullah melarang boros air. Hadits ini adalah teguran keras bagi kita semua.
Dalam ajaran Islam, terdapat tiga prinsip pengelolaan air: larangan israf (berlebihan), larangan ihtisar (menimbun/memonopoli air), dan anjuran irtifaq (memanfaatkan secara berkelanjutan). Nabi SAW bahkan melarang seseorang menahan kelebihan air yang dapat merusak padang rumput, karena air adalah kebutuhan bersama.
Lima Amalan di Musim Kemarau
- Shalat Istisqa — Shalat memohon hujan adalah sunnah muakkadah yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau sendiri melaksanakannya bersama para sahabat ketika Madinah dilanda kekeringan panjang.
- Memperbanyak Istighfar — Allah berfirman dalam QS. Nuh: 10-12 bahwa istighfar membuka pintu langit dan mendatangkan hujan yang lebat.
- Sedekah Air — Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah memberi air.” (HR. Ahmad). Mari berlomba menyediakan air bersih bagi yang membutuhkan.
- Menjaga Lingkungan — Menanam pohon, tidak membakar lahan, dan menjaga daerah resapan air adalah bagian dari ibadah. Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, burung, atau binatang, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”
- Doa dan Tawakal — Perbanyak doa memohon hujan yang bermanfaat, dan setelah berikhtiar maksimal, serahkan hasilnya kepada Allah.
Musim kemarau bukan hanya tentang panas dan kekeringan. Ia adalah undangan dari Allah untuk kembali kepada-Nya. Ia adalah alarm agar kita tidak lalai. Ia adalah panggilan untuk peduli pada sesama. Semoga Allah menurunkan hujan rahmat-Nya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur. Aamiin.

