Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini, tepatnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura, terdapat banyak keutamaan dan amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh umat Islam.
Para ulama Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa menganjurkan kepada umat Islam, khususnya warga Nahdliyin, untuk menghidupkan hari Asyura dengan berbagai amalan ibadah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin, Kanzun Najah was Surur, dan berbagai kitab mu’tabarah lainnya, amalan-amalan di hari Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa.
1. Puasa Asyura (10 Muharram)
Amalan utama di hari Asyura adalah puasa. Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim No. 1162)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau pun bersabda: “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian,” lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
2. Puasa Tasu’a (9 Muharram)
Rasulullah SAW juga menganjurkan puasa pada tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a) untuk membedakan dengan kaum Yahudi. Beliau bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Sungguh, jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (Muharram).” (HR. Muslim No. 1134)
Bahkan, sebagian ulama menganjurkan puasa dari tanggal 9, 10, dan 11 Muharram sebagaimana pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Hal ini juga diamalkan di banyak pesantren NU di tanah air.
3. Menyantuni Anak Yatim
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada hari Asyura adalah menyantuni dan mengusap kepala anak yatim. Dalam sebuah hadits disebutkan:
مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَرْفَعْ يَدَهُ حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
“Barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, maka tidaklah ia mengangkat tangannya melainkan ditulis untuknya satu kebaikan pada setiap helai rambut yang diusapnya.”
KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, sering mengingatkan pentingnya menyantuni anak yatim tidak hanya pada hari Asyura tetapi di setiap kesempatan. Namun pada hari Asyura, keutamaannya dilipatgandakan oleh Allah SWT.
4. Memperbanyak Sedekah dan Melapangkan Nafkah Keluarga
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي سَائِرِ سَنَتِهِ
“Barangsiapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
Hadits ini menjadi pegangan bagi banyak ulama, termasuk para kyai NU, yang menganjurkan umat Islam untuk memberikan nafkah lebih kepada keluarga, memasak makanan yang lebih baik, dan bersedekah kepada fakir miskin pada hari Asyura. Tradisi membuat bubur Asyura di berbagai daerah di Indonesia merupakan manifestasi dari semangat sedekah ini.
5. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Hari Asyura adalah waktu yang mustajab untuk berdzikir, beristighfar, dan bertaubat kepada Allah SWT. Para ulama menganjurkan untuk memperbanyak:
- Tasbih (Subhanallah)
- Tahmid (Alhamdulillah)
- Tahlil (La ilaha illallah)
- Takbir (Allahu Akbar)
- Istighfar (Astaghfirullahal ‘adzim)
- Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Bacalah dzikir berikut yang dianjurkan para ulama pada hari Asyura:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir "Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung dan penolong."
6. Mandi Sunnah dan Amalan Lainnya
Dalam kitab Kanzun Najah was Surur karya Syaikh Abdul Hamid Al-Qudsi disebutkan beberapa amalan sunnah di hari Asyura, di antaranya:
- Mandi sunnah
- Memakai celak mata
- Bersilaturahim
- Menjenguk orang sakit
- Membaca doa akhir dan awal tahun
Meskipun sebagian ulama memperdebatkan kesahihan dalil-dalilnya, namun para ulama NU memandang bahwa amalan-amalan tersebut termasuk dalam fadha’ilul a’mal (keutamaan amal) yang boleh diamalkan berdasarkan hadits dhaif selama tidak bertentangan dengan syariat. Hal ini sebagaimana kaidah yang dipegang oleh para muhadditsin dan fuqaha.
Penutup
Demikianlah beberapa amalan yang dianjurkan pada hari Asyura. Mari kita jadikan momentum Asyura tahun ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan dosa-dosa yang telah lalu, dan meningkatkan kepedulian sosial kita kepada sesama, khususnya anak-anak yatim dan kaum dhuafa.
Sebagaimana dawuh para masyayikh NU: “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diampuni dosanya, maka muliakanlah hari Asyura dengan amal ibadah.”
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diampuni dosa-dosanya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

