<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tokoh Archives - Suara NU</title>
	<atom:link href="https://suaranu.id/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaranu.id/category/tokoh/</link>
	<description>Suara Nahdliyin Magelang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Mar 2025 09:49:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://suaranu.id/storage/2025/03/cropped-snu1-55x55.png</url>
	<title>Tokoh Archives - Suara NU</title>
	<link>https://suaranu.id/category/tokoh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</title>
		<link>https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Feb 2025 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2025/02/04/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kemajuan NU dari sisi struktural adalah saat NU menjadi partai politik, karena keputusan...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/">Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3342636982" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Salah satu kemajuan NU dari sisi struktural adalah saat NU menjadi partai politik, karena keputusan menjadi partai politik memberi implikasi pembentukan kepengurusan sampai tingkat bawah atau ranting. Namun dalam perkembangannya terbentuk kepengurusan yang lengkap tetap membutuhkan kampanye, sosialisasi sebagai strategi mencari dukungan dan untuk mendulang suara lebih banyak ke masyarakat.</div>
<div></div>
<div>Pemilu tahun 1955 yang disebut pemilihan umum paling demokratis dalam sepanjang perhelatan politik di negeri ini menyisakan pernik-pernik perjuangan para Kyai di negeri ini. Salah satu upaya satu Kyai sepuh, Kyai Abdan Koripan ketika berkampanye demi partai NU saat itu. Cara yang unik karena beliau kerso menghadang orang di satu jalur jalan yang menjadi jalur utama orang bepergian ke kota Magelang saat itu , untuk dengan penuh keikhlasan beliau mengatakan kepada orang yang lewat jalan itu : &#8221; mbenjang pemilu , nderek nyoblos partai NU, gambar jagat njeh ?. Sami nderek Mbah Romo Agung Payaman !&#8221;. Begitu ajakan beliau. Ini beliau lakukan beberapa kali. Dan ternyata usaha dan model kampanye Simbah Kyai Abdan ini di amini oleh Kyai yang lain lewat jalur isyarat langit, dimana Simbah Kyai Muhsin Geger yang memang Waskito dalam istikhoroh mendapatkan petunjuk kebenaran terhadap apa yang dilakukan oleh Simbah Kyai Abdan, dengan bermimpi melihat Simbah Kyai Abdan berposisi sebagai seorang masinis kereta dengan gerbong yang panjang penuh oleh penumpang, sebagai isyarat bahwa pemilu 1955 partai NU mendapatkan dukungan dan suara yang banyak dari rakyat Indonesia. Begitulah ikhtiar para kasepuhan selalu selaras dengan isyarat-isyarat langit yang memberkahi langkah dan tindakannya.</div>
<div></div>
<div>Apakah kiprah beliau terkait NU hanya diperhelatan politik saja, tentu tidak bahkan yang lebih terpenting dari sebuah organisasi adalah kaderisasi, beberapa santri ditempa menjadi kader NU yang dimasanya adalah aktivis dan pejuang NU, salah satunya adalah KH. Idris Shiddiq Karanganyar yang kemudian melanjutkan belajar di pesantren Tebuireng dan disinilah mata rantai NU Magelang terjalin. Sebagaimana tatkala NU berdiri yang diisyaratkan dengan restu Mahakyai Syaikhina Kholil Bangkalan Madura dengan mengirimkan tongkat, tasbih kepada Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari, begitu juga NU Magelang secara isyarat juga adanya surat yang dikirim oleh Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari kepada Simbah KH.Sirodj Romo Agung Payaman. Sebuah upaya mengikat dan menyambungkan jejaring Ulama Nusantara yang pernah saling berikrar untuk perjuangan Islam di Makkah saat itu.</div>
<div></div>
<div>Pengkaderan justru menjadi fokus utama beliau, sehingga dikemudian hari beberapa santri, dan putro wayah berkiprah di masyarakat terlebih di Jam&#8217;iyyah NU , salah satu contoh kecil dari hasil pengkaderan itu, menurut H.M.Ridwan salah satu ketua Tanfidziyah PCNU kab Magelang menceritakan di jajaran kepengurusan NU saat itu ada dua Idris, Idris sepuh dan Idris enom ( muda ). Idris sepuh adalah KH. Idris Siddiq Karanganyar santri Tebuireng yang menjadi kurir Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari membawa surat kepada KH.Sirodj Romo Agung. Sementara Idris yang satu lagi, Idris enom adalah KH.Idris Abdan Putro pertama beliau yang meneruskan jejak perjuangan di Nahdlatul ulama dengan merintis lembaga pendidikan dasar , Madrasah ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dimana saat itu sementara masyarakat masih sedikit antipati dengan pendidikan formal, namun disisi yang lain juga masih memandang sebelah mata akan keberadaan sekolah yang berbasis pendidikan agama. Sebuah dilema yang tidak menjadi penghalang bagi Kyai Idris muda untuk tetap berhidmah di Nahdlatul Ulama dari jalur pendidikan.</div>
<div></div>
<div>Sementara untuk hidmah kemasyarakatan, beliau mengkader santri-santri untuk kelak kemudian hari terjun dimasyarakat dengan bekal ilmu, berdakwah dan memberi pencerahan bagi masyarakat, salah satu santri beliau adalah KH.Chudhori bin Ihsan pendiri pondok pesantren Asrama Perguruan Islam ( API ) Tegalrejo, KH. Yasin pendiri pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin Kombangan Tegalrejo , KH. Hamid Usman Kajoran dan beberapa Kyai di sekitar Tegalrejo. Sebuah jejak perjuangan yang terus ditapaki sehingga pondok pesantren yang dirintis beliau masih memberi kontribusi, dan peran yang nyata di masyarakat sampai saat ini setelah melampaui rentang satu abad.</div>
<div></div>
<div>Sumber cerita : KH.M. Sholikhun, KH.Mudris Payaman, KH.Ihsanudin Abdan</div>
<div></div>
<div><b>Abdul Aziz Pangkat</b></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/">Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>40 Hari Kepergian Kyai Thoriqoh</title>
		<link>https://suaranu.id/40-hari-kepergian-kyai-thoriqoh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2020 12:49:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/05/31/40-hari-kepergian-kyai-thoriqoh/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abdul Aziz Idris  Perjalanan panjang Beliau membimbing umat, masyarakat, warga Nahdliyin di ranah thoriqoh...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/40-hari-kepergian-kyai-thoriqoh/">40 Hari Kepergian Kyai Thoriqoh</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3620698236" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div><b><i>Oleh Abdul Aziz Idris </i></b></div>
<div>
<div></div>
<div>Perjalanan panjang Beliau membimbing umat, masyarakat, warga Nahdliyin di ranah thoriqoh sungguh luar biasa, meyambangi ummat, menuntun dan membimbing dengan penuh ketelatenan menuju hakikat yang sejati wushul ( sampai) ke hadrot Illahi. Begitu panjang dari masa Abah Beliau KH. Ali Abahnya yang menapaki dunia thoriqoh dengan bimbingan K.H. Umar Payaman yang kemudian tahun 1934 mengangkat KH. Ali Sempu sebagai badal thoriqoh, baru kemudian empat tahun berikutnya di angkat sebagai Mursyid oleh KH. Shiddiq Berjan setelah sebelumnya diperintahkan untuk berjalan kaki dari rumahnya di Sempu Secang ke Berjan Purworejo. KH. Ali berangkat setiap hari kamis sore dan kembali setelah sholat jum&#8217;ah di Berjan dan ini dijalani beliau selama tiga tahun. Sungguh perjalanan ini tidak kemudian berhenti, namun diteruskan estafet perjuangan ini oleh putra beliau KH. Ismail Ali yang kemudian juga menekuni laku thoriqoh seperti Abahnya.</div>
<div></div>
<div>KH. Ismail lahir di Magelang tahun 1937 di kampung Sempu, sedari kecil dididik dalam asuhan Ibu Nyai Salbiyah dan Abahnya KH. Ali yang juga seorang Mursyid Thoriqoh. Sedemikian dalam urusan adab, akhlak dan sunnah sunnah Rosululloh SAW. kemudian sebagaimana lazimnya putra Kyai kemudian dihantarkan ke pesantren Berjan Purworejo untuk belajar dan berhidmah kepada KH. Shiddiq. Di pesantren ini Ismail kecil lebih banyak berhidmah di ndalem kepada KH. Shiddiq dan juga putranya KH. Nawawi kedekatan santri dan Kyai sedemikian nyata. Seorang santri akan selalu di anggap anak oleh Kyai, dengan sikap welas asih dan lembah manahnya santri akan di tempa, di asuh dengan penuh kasih sayang, dan di curahkan cahaya ilmu serta hikmah.</div>
<div>Hingga kemudian perjalanan hidup beliaupun berdasar arahan dan dawuh Kyai, untuk pulang berhidmah kepada orang tua , kepada masyarakat. Menjadi penganti Abahnya membimbing masyarakat suluk/ menempuh jalan thoriqoh dengan menuntun dzikir, dan meyambangi umat di daerah Magelang, Temanggung, Klaten, Gunung kidul, Semarang, Demak,  Malang, Lampung tengah, Lampung utara, Palembang, Jambi, kalimantan dengan nasehat, dan dawuh dawuh yang sejuk, dan menentramkan hingga ke lubuk sanubari dan menjadi laku di keseharian dalam bentuk sikap sabar, nerimo, ngalah dan mendasarkan kepada nilai utuh dalam ibadah, dan ubudiyah.</div>
<div></div>
<div>Lahul Fatihah &#8230;</div>
</div>
<div></div>
<div><b><i>Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang dan Wakil Katib Syuriah PCNU Kabupaten Magelang</i></b></div>
<div></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/40-hari-kepergian-kyai-thoriqoh/">40 Hari Kepergian Kyai Thoriqoh</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa</title>
		<link>https://suaranu.id/kh-dalhar-watucongol-kiai-pejuang-dan-cucu-panglima-perang-jawa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Feb 2020 06:19:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/02/29/kh-dalhar-watucongol-kiai-pejuang-dan-cucu-panglima-perang-jawa/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jaringan ulama santri berjuang secara gigih dalam memperjuangkan negeri. Perjuangan para kiai dan santri pesantren...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kh-dalhar-watucongol-kiai-pejuang-dan-cucu-panglima-perang-jawa/">KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2228305553" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>
<div>Jaringan ulama santri berjuang secara gigih dalam memperjuangkan negeri. Perjuangan para kiai dan santri pesantren dimulai embrionya sejak berabad silam. Catatan sejarah menunjukkan, bahwa jaringan pesantren berkontribusi penting dalam perlawanan kolonial pada masa Perang Jawa (1825-1830). Para kiai pesantren menjadi tulang punggung laskar pendukung Dipanegara dalam Perang Jawa. Akan tetapi, fakta sejarah ini terkesan hanya samar-samar dituliskan. Narasi pengetahuan dan ilmu sosial di Indonesia, belum memberikan ruang yang lebar bagi aksi para kiai-santri dalam berjuang melawan penjajah serta mengawal kemerdekaan Indonesia. Dari riset tentang Perang Jawa mutakhir, yang tampil justru para ksatria yang dianggap berjuang dengan gagah. Sedangkan, para kiai-santri dikesampingkan dalam peranan menghadapi tentara Belanda (Carey, 2007; Djamhari, 2004). Pada titik ini, jaringan ulama-santri perlu dibangkitkan kembali dalam narasi sejarah dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penulisan ulang, dengan sudut pandang yang berimbang, serta memberi ruang bagi kisah-kisah para kiai pesantren perlu dihadirkan untuk dipahami pembaca. Kisah para Kiai dalam jaringan Perang Jawa, memunculkan nama Kiai Hasan Tuqo serta putranya Syekh Abdurrauf yang menjadi panglima perang pada masa itu. Perjuangan Kiai Hasan Tuqo dan Syekh Abdurrauf, diteruskan oleh cucunya, Kiai Dalhar bin Abdurrahman yang berjuang dalam mengawal santri berjuang pada masa kemerdekaan.   Kiai Dalhar lahir di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang. Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870. Nama kecilnya adalah Nahrowi, nama pemberian orang tuanya. Nasab Kiai Dalhar tersambung pada trah Raja Mataram, Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Pada waktu perjuangan Perang Jawa, Kiai Abdurrauf membantu Dipanegara berjuang di tanah Jawa. Kiai Abdurrauf dikenal sebagai salah satu Panglima Perang Dipanegara, membantu laskar pada Perang Jawa. Dari silsilah Kiai Hasan Tuqo, tersambung kepada Raja Amangkurat III (memerintah 1703-1705), atau Amangkurat Mas. Kiai Hasan Tuqo memiliki nama ningrat, yakni Raden Bagus Kemuning. Pada waktu itu, Kiai Hasan Tuqo tidak senang berada di kawasan Keraton, serta memilih untuk memperdalam ilmu agama. Kiai Hasan Tuqo kemudian memilih menyepi di kawasan Godean, Yogyakarta. Nama desa Tetuko sampai sekarang masih masyhur sebagai petilasan Kiai Hasan Tuqo. Pada waktu Perang Jawa (1825-1830) meletus, Pangeran Dipanera dibantu oleh barisan kiai yang berjuang untuk melawan Belanda. Di antaranya, tercatat nama Kiai Modjo, Kiai Hasan Besari, Kiai Nur Melangi, serta Kiai Abdurrauf. Putra Kiai Hasan Tuqo, Kiai Abdurrauf inilah yang mendapat tugas sebagai panglima Perang Dipanegara, yang menjaga kawasan Magelang. Pada kisaran awal abad 19, kawasan Magelang menjadi jalur penting dalam ekonomi dan politik, karena menjadi titik pertemuan dari kawasan Yogykarta menuju Temanggung dan Semarang di daerah pesisiran. Kiai Abdurrauf menjadi panglima untuk menjaga wilayah Magelang, serta memberi pengaruh penting penganut Dipanegara di kawasan ini. Demi menjaga kawasan Magelang dan mendukung pergerakan Dipanegara, Kiai Abdurrauf bertempat di kawasan Muntilan, yakni di Dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Muntilan.</div>
<div></div>
<div>Di kawasan ini, Kiai Abdurrauf mendirikan pesantren untuk mengajar ilmu agama kepada pengikutnya dan warga sekitar. Dukuh Santren di Desa Gunungpring menjadi saksi perjuangan dakwah dan militer Kiai Abdurrauf. Rihlah ilmiyyah Kiai Dalhar Kiai Dalhar mewarisi semangat dakwah dan perjuangan dari ayah dan kakeknya. Sejak kecil, beliau haus akan ilmu agama, dengan mengaji dan belajar di pesantren. Pada umur 13 tahun, Nahrowi (Dalhar kecil) mulai belajar mondok. Ia mengaji kepada Mbah Kiai Mad Ushul di kawasan Mbawang, Ngadirejo, Salaman, Magelang. Di pesantren ini, Kiai Dalhar belajar ilmu tauhid selama 2 tahun. Setelah itu, Dalhar kecil melanjutkan mengaji di kawasan Kebumen. Ayahnya menitipkan Kiai Dalhar di pesantren Sumolangu, di bawah asuhan Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau dikenal sebagai Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani. Ketika mengaji di pesantren Sumolangu, Kiai Dalhar mengabdi di ndalem sang Syaikh selaam delapan tahun. Hal ini, merupakan permintaah Kiai Abdurrahman kepada Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani. Pada tahun 1314 H/1896, putra Syaikh Abdul Kahfi at-Tsani berniat untuk belajar di Makkah. Sang Syaikh memerintah Kiai Dalhar agar menemani putranya, yakni Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani. Di Makkah, dua pemuda pengabdi ilmu ini, diterima oleh Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani, yang merupakan kerabat dari Syaikh Ibrahim al-Hasani. Syaikh Sayyid Muhammad Babashol, pada waktu itu merupakan Mufti Syafi&#8217;iyyah Makkah. Di rubath kawasan Misfalah, Kiai Dalhar bersama Syaikh Muhammad al-Jilani al-Hasani bermukim selama mengaji di Makkah. Pada tahun pertama Kiai Dalhar mengaji di Makkah, terjadi peristiwa penyerangan Hijaz oleh tentara Sekutu. Tanah Hijaz yang masuk dalam kuasa Turki Utsmani diserang oleh tentara sekutu. Syekh Muhammad al-Jilani mendapat tugas untuk berjuang membantu perlawanan tanah Hijaz, setelah 3 bulan mengaji. Sedangkan, Kiai Dalhar beruntung dapat terus mengaji selama 25 tahun di tanah suci. Di tanah Hijaz, nama &#8220;Dalhar&#8221; menemukan sejarahnya, yakni pemberian dari Syaikh Sayyid Muhammad  Babashol al-Hasani, hingga tersemat nama Nahrowi Dalhar. Kiai Dalhar memperoleh ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Dari jalur thariqah inilah, Kiai Dalhar dikenal sebagai mursyid, sufi, ulama &#8216;alim, sekaligus penggerak perjuangan pada masa kemerdekaan di Indonesia. Kiai Dalhar menurunkan ijazah thariqah syadziliyyah kepada 3 orang muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dhimyati Banten, dan Kiai Ahmad Abdul Haq. Ketika mengaji di Makkah, secara istiqomah Kiai Dalhar tidak pernah buang hadats di tanah suci. Ketika ingin berhadats, Kiai Dalhar memilih pergi di luar tanah Suci, sebagai bentuk penghormatan. Inilah bentuk ta&#8217;dzim sekaligus sikap istiqomah Kiai Dalhar yang telah teruji. Kiai Dalhar dikenal menulis beberapa kitab, di antaranya: Kitab Tanwir al-Ma&#8217;ani, Manaqib Syaikh as-Sayyid Abdul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar as-Syadzili al-Hasani, Imam Tariqah Saydziliyyah. Kiai Dalhar juga menjadi rujukan beberapa kiai yang kemudian menjadi pengasuh pesantren-pesantren ternama. Di antara murid Kiai Dalhar, yakni Kiai Ma&#8217;shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dhimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek. Gus Miek juga dikenal dekat dengan Kiai Dalhar. Dalam catatan Ibad (2007: 31), Gus Miek bisa membina hubungan dengan Mbah Jogoroso, Kiai Ashari, Gus Mad putra Kiai Dalhar, Kiai Mansyur dan Kiai Arwani. Kemudian, mata rantai berlanjut, dari Kiai Ashari, Gus Miek membina hubungan dengan Kiai Abdurrahman bin Hasyim (Mbah Benu) dan Kiai Hamid Kajoran. Lalu, dari Kiai Hamid Kajoran, Gus Miek berinteraksi dengan Mbah Juneid, Mbah Mangli dan Mbah Muslih Mranggen. Perjuangan kebangsaan Ketika era perjuangan melawan rezim kolonial, peran Kiai Dalhar tidak bisa dilupakan. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma&#8217;, doa dan ijazah kekebalan, serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa. Dikisahkan, ketika para pejuang menggempur Belanda di kawasan Benteng Ambarawa, dimudahkan oleh Allah dengan semangat dan kekuatan. Dorongan doa dan semangat yang diberikan Kiai Dalhar serta beberapa kiai lainnya, menambah daya juang para santri untuk bertempur mengawal kemerdekaan. Pertempuran laskar santri dan pemuda melawan tentara sekutu, meletus pada 21 November 1945. Atas desakan laskar dan tentara rakyat, yang dikomando oleh Jendral Soedirman, tentara sekutu mundur ke Semarang. Namun, mundurnya Sekutu juga membuat ribut di Ambarawa, yang kemudian disebut Palagan Ambarawa. Pada perang ini, Laskar Hizbullah dari Yogyakarta dan kawasan sekitar, bersatu dengan beberapa tentara rakyat mengepung Ambarawa. Laskar Hizbullah Yogyakarta mengirim Batalyon Bachron Edrees, tepatnya di kawasan Jambu dan Banyubiru. Front Ambarawa dikepung dari beberapa penjuru. Kawasan Selatan dikepung pasukan gabungan dari Surakarta dan Salatiga. Utara ditempati pasukan Kedu dan Ambarawa, dari sisi Timur hadir pasukan Divisi IV BKR Salatiga. Pihak Belanda dan tentara Sekutu bermarkas di Kompleks Gereja Margo Agung, serta pos militer di perkebunan. Laskar santri di bawah komando Bachron Edress berhasil mengakses front Ambarawa. Laskar-laskar santri dan pemuda yang bertempur di Ambarawa, sebagian besar sowan ke Kiai Dalhar Watucongol dan Kiai Subchi Parakan untuk minta doa sebelum bergerilya. Mbah Kiai Dalhar mencatatkan sejarah dalam jaringan ulama Nusantara, sebagai rujukan keilmuan, perjuangan serta sufisme dalam tradisi pesantren. Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959. Jasad Kiai Dalhar dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang. Kisah perjuangan dan keteladanan Kiai Dalhar menjadi bukti betapa penting jaringan ulama-santri dalam mengawal negeri, menjemput kemerdekaan Indonesia.</div>
<div></div>
<div><b><i>Penulis adalah Munawir Azis (Wakil Sekretaris LTN PBNU, Peneliti Islam Nusantara)</i></b></div>
</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kh-dalhar-watucongol-kiai-pejuang-dan-cucu-panglima-perang-jawa/">KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal KH Hasyim Asyari, Tanggal Lahir 14 Februari 1871 atau 10 April 1875?</title>
		<link>https://suaranu.id/mengenal-kh-hasyim-asyari-tanggal-lahir-14-februari-1871-atau-10-april-1875/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Feb 2020 04:17:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/02/20/mengenal-kh-hasyim-asyari-tanggal-lahir-14-februari-1871-atau-10-april-1875/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 14 Februari yang disinyalir sebagai hari kelahiran mBah Hasyim pada tahun 1871, versi Wikipedia....</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/mengenal-kh-hasyim-asyari-tanggal-lahir-14-februari-1871-atau-10-april-1875/">Mengenal KH Hasyim Asyari, Tanggal Lahir 14 Februari 1871 atau 10 April 1875?</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2549114895" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>
<p>Tanggal 14 Februari yang disinyalir sebagai hari kelahiran mBah Hasyim pada tahun 1871, versi Wikipedia.</p>
</div>
<div></div>
<div>Sementara beberapa sumber lain menerangkan bahwa mBah K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947.</div>
<div>Riwayat Keluarga</div>
<div>K.H. M. Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy&#8217;ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di bagian selatan kota Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).</div>
<div></div>
<div>
<div style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUKept6OjLOwwACNhzgEPkc06eJfaB6gfFAf0qr3lW54wFYTtbRFJcOHDDi6gH1xsoaWVq8ivdhAsD9kxj5Nu_PcjVXVnVml48XceseDGP3w858eGDNc2Qh9SLORroYZLH_ZZ-GZNBojy5/s1600/1582172210356343-1.png" data-lbwps-width="700" data-lbwps-height="412" data-lbwps-srcsmall="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUKept6OjLOwwACNhzgEPkc06eJfaB6gfFAf0qr3lW54wFYTtbRFJcOHDDi6gH1xsoaWVq8ivdhAsD9kxj5Nu_PcjVXVnVml48XceseDGP3w858eGDNc2Qh9SLORroYZLH_ZZ-GZNBojy5/s1600/1582172210356343-1.png"><br />
<img decoding="async" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUKept6OjLOwwACNhzgEPkc06eJfaB6gfFAf0qr3lW54wFYTtbRFJcOHDDi6gH1xsoaWVq8ivdhAsD9kxj5Nu_PcjVXVnVml48XceseDGP3w858eGDNc2Qh9SLORroYZLH_ZZ-GZNBojy5/s1600/1582172210356343-1.png" width="400" border="0" /><br />
</a></div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>Kyai Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.</div>
<div>Silsilah Nasab</div>
<div>Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) K.H. M. Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasul Allah saw. dengan silsilah sebagai berikut:</div>
<div>&gt; Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)</div>
<div>&gt; Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)</div>
<div>&gt; Abdul Halim (Pangeran Benawa)</div>
<div>&gt; Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)</div>
<div>&gt; Abdul Halim</div>
<div>&gt; Abdul Wahid</div>
<div>&gt; Abu Sarwan</div>
<div>&gt; K.H. Asy’ari (Jombang)</div>
<div>&gt; K.H. M. Hasyim Asy’ari (Jombang)</div>
<div>Berdasarkan pada catatan nasab Sa’adah Ba&#8217;lawi Hadramaut, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan yang bertemu pada Rasul Allah saw. dengan silsilah sebagai berikut:</div>
<div>&gt; Husain bin Ali ra.</div>
<div>&gt; Ali Zainal Abidin ra.</div>
<div>&gt; Muhammad al-Baqir</div>
<div>&gt; Ja’far ash-Shadiq</div>
<div>&gt; Ali al-Uraidhi</div>
<div>&gt; Muhammad an-Naqib</div>
<div>&gt; Isa ar-Rumi</div>
<div>&gt; Ahmad al-Muhajir</div>
<div>&gt; Ubaidullah</div>
<div>&gt; Alwi Awwal</div>
<div>&gt; Muhammad Sahibus Saumiah</div>
<div>&gt; Alwi ats-Tsani</div>
<div>&gt; Ali Khali’ Qasam</div>
<div>&gt; Muhammad Shahib Mirbath</div>
<div>&gt; Alwi Ammi al-Faqih</div>
<div>&gt; Abdul Malik (Ahmad Khan)</div>
<div>&gt; Abdullah (al-Azhamat) Khan</div>
<div>&gt; Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)</div>
<div>&gt; Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)</div>
<div>&gt; Maulana Ishaq, dan</div>
<div>&gt; ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)</div>
<div></div>
<div>
<div style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu2_y721oY0M9AkksM-V_RpMJYxbahwcM0MjlbrOzQCn0wUZXQXQKEA8D0uueJB9gCZLkhEE4HGBPFsaUlHnkhDVlJB33kzutSVxZo7rEuZrus2YWaDjJYj4_FglzVuVG-CRGDnoq45p5S/s1600/1582172157200055-2.png" data-lbwps-width="720" data-lbwps-height="924" data-lbwps-srcsmall="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu2_y721oY0M9AkksM-V_RpMJYxbahwcM0MjlbrOzQCn0wUZXQXQKEA8D0uueJB9gCZLkhEE4HGBPFsaUlHnkhDVlJB33kzutSVxZo7rEuZrus2YWaDjJYj4_FglzVuVG-CRGDnoq45p5S/s1600/1582172157200055-2.png"><br />
<img decoding="async" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhu2_y721oY0M9AkksM-V_RpMJYxbahwcM0MjlbrOzQCn0wUZXQXQKEA8D0uueJB9gCZLkhEE4HGBPFsaUlHnkhDVlJB33kzutSVxZo7rEuZrus2YWaDjJYj4_FglzVuVG-CRGDnoq45p5S/s1600/1582172157200055-2.png" width="400" border="0" /><br />
</a></div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div><b>Latar Pendidikannya</b></div>
<div>Kyai Hasyim sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan memang sudah terlihat oleh keluarga. Hasyim kecil kerap tampil sebagai pemimpin dalam komunitas sebaya. Ketika usianya menginjak tahun ketigabelas, Hasyim kecil sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.</div>
<div></div>
<div>Kyai Hasyim belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, K. Utsman, yang juga pemimpin Pesantren Nggedang Jombang. Pada usia 15 tahun Kyai Hasyim meninggalkan kedua orangtuanya untuk berkelana memperdalam ilmu ke berbagai pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang diterimanya, Hasyim remaja itu melanjutkan nyantri di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Syaikhuna K.H. Cholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo di bawah asuhan Kyai Ya’qub. Di pesantren  inilah, Hasyim muda merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan.</div>
<div></div>
<div>Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan &#8216;alim dalam ilmu agama. setidaknya lima tahun Hasyim muda menyerap ilmu di Pesantren Siwalan ini. Kyai Ya’qub pun kesengsem berat pada pemuda yang cerdas dan &#8216;alim itu, sehingga Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga isteri. Ketika itu Kyai Hasyim baru berumur 21 tahun. Beliau dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama isterinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji pada tahun 1893, dan menetap selama tujuh tahun di sana guna berguru pada beberapa syaikh dari Indonesia dan Arab yang terkenal seperti Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh at-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmatullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Kemudian kyai Hasyim kembali ke tanah air setelah isteri dan anaknya meninggal.</div>
<div>Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.</div>
<div></div>
<div>Silsilah Keilmuannya</div>
<div>&gt; KH Muhammad Saleh Darat, Semarang</div>
<div>&gt; KH Cholil Bangkalan</div>
<div>&gt; Kyai Ya’qub, Sidoarjo</div>
<div>&gt; Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau</div>
<div>&gt; Syaikh Mahfudz At-Tarmasi</div>
<div>&gt; Syaikh Ahmad Amin Al Aththar</div>
<div>&gt; Syaikh Ibrahim Arab</div>
<div>&gt; Syaikh Said Yamani</div>
<div>&gt; Syaikh Rahmaullah</div>
<div>&gt; Syaikh Sholeh Bafadlal</div>
<div>&gt; Sayyid Abbas Al Maliki</div>
<div>&gt; Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf</div>
<div>&gt; Sayyid Husain Al Habsyi</div>
<div>&gt; Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani</div>
<div>&gt; Sayyid Abdullah al-Zawawi</div>
<div>&gt; Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas</div>
<div>&gt; Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi</div>
<div>&gt; Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad</div>
<div></div>
<div>Muridnya</div>
<div>Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tidak sedikit di antara santri Kyai Hasyim yang kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh pada masyarakat luas. Di antara mereka adalah:</div>
<div>1. K.H. Abdul Wahab Hasbullah (pendiri Pesantren Tambak Beras, Jombang);</div>
<div>2. K.H. Bisri Syansuri (pendiri Pesantren Denanyar, Jombang);</div>
<div>3. K.H. R As’ad Syamsul Arifin;</div>
<div>4. K.H. Wahid Hasyim (puteranya);</div>
<div>5. K.H. Achmad Shiddiq;</div>
<div>6. Syekh Sa’dullah al-Maimani (Mufti di Bombay, India);</div>
<div>7. Syekh Umar Hamdan (ahli hadits di Makkah);</div>
<div>8. Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria);</div>
<div>9. K.H. R Asnawi (Kudus);</div>
<div>10. K.H. Dahlan (Kudus);</div>
<div>11. K.H. Shaleh (Tayu);</div>
<div></div>
<div>Keturunannya</div>
<div></div>
<div>Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu:</div>
<div>&gt; Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu &gt; Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah</div>
<div>&gt; Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.</div>
<div>Putra-putri dari Nyai Nafiqoh:</div>
<div>1. Hannah</div>
<div>2. Khoiriyah</div>
<div>3. Aisyah</div>
<div>4. Azzah</div>
<div>5. Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim</div>
<div>6. Abdul Hakim (Abdul Kholik)</div>
<div>7. Abdul Karim</div>
<div>8. Ubaidillah</div>
<div>9. Mashuroh</div>
<div>10. Muhammad Yusuf</div>
<div>Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:</div>
<div>1. Abdul Qodir</div>
<div>2. Fatimah</div>
<div>3. Khotijah</div>
<div>4. Muhammad Ya’kub</div>
<div>Jasa Bagi Ahlussunnah wal Jamaah: Komite Hijaz, sebagai Benteng Islam Tradisional</div>
<div>Mendirikan Pesantren Tebuireng</div>
<div>Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal.</div>
<div>Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.</div>
<div>Setelah dua tahun membangun pesantren Tebuireng, Jombang, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan.</div>
<div>Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.</div>
<div>Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.</div>
<div></div>
<div>Peran Beliau dalam Kemerdekaan Indonesia</div>
<div>Perjuangan dan Penjajahan Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.</div>
<div>Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu.</div>
<div>Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng, Jombang pun tak luput dari sasaran represif Belanda.</div>
<div>Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan.</div>
<div>Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum.</div>
<div>Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an.</div>
<div>Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim.</div>
<div>Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang.</div>
<div>Kyai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya. Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan.</div>
<div>Setelah penahanan Hadratus Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng, Jombang vakum total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.</div>
<div>Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha dari KH Wahid Hasyim dan KH Abdul Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.</div>
<div>Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut. Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.</div>
<div>Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947.</div>
<div>Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.</div>
<div>Kisah Teladan Beliau</div>
<div>1. Kesan Akhlak dan Kecerdasan</div>
<div>Pernah terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Cholil Bangkalan, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari Madura ini populer dipanggil.</div>
<div>Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”</div>
<div>Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.</div>
<div>Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.</div>
<div>Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga KH Cholil Bangkalan adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.</div>
<div>Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.</div>
<div>Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kyai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian ummat Islam.</div>
<div>Maka tak heran bila pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, KH Cholil Bangkalan. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH R As’ad Syamsul Arifin, KH Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Shiddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kyai Hasyim.</div>
<div>Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.</div>
<div></div>
<div>2. Mengambil Cincin Gurunya dari Lubang WC</div>
<div>Salah satu rahasia seorang murid bisa berhasil mendapatkan ilmu dari gurunya adalah taat dan hormat kepada gurunya. Guru ada lah orang yang punya ilmu. Sedangkan murid adalah orang yang mendapatkan ilmu dari sang guru. Seorang murid harus berbakti kepada gurunya. Dia tidak boleh membantah apalagi menentang perintah sang guru (kecuali jika gurunya mengajarkan ajaran yang tercela dan bertentangan dengan syariat Islam maka sang murid wajib tidak menurutinya). Kalau titah guru baii, murid tidak boleh membantahnya.</div>
<div>Inilah yang dilakukan Kyai Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul ‘Ulama). Beliau nyantri kepada KH Cholil Bangkalan, Bangkalan. Di pondok milik Kyai Kholil, Kyai Hasyim dididik akhlaknya. Saban hari, Kyai Hasyim disuruh gurunya angon (merawat) sapi dan kambing. Kyai Hasyim disuruh membersihkan kandang dan mencari rumput. Ilmu yang diberikan Kyai Kholil kepada muridnya itu memang bukan ilmu teoretis, melainkan ilmu pragmatis. Langsung penerapan.</div>
<div>Sebagai murid, Kyai Hasyim tidak pernah ngersulo (mengeluh) disuruh gurunya angon sapi dan kambing. Beliau terima titah gurunya itu sebagai khidmat (penghormatan) kepada guru. Beliau sadar bahwa ilmu dari gunya akan berhasil diperoleh apabila sang guru ridlo kepada muridnya. Inilah yang dicari Kyai Hasyim, yakni keridoan guru. Beliau tidak hanya berhadap ilmu teoretis dari Kyai Kholil tapi lebih dari itu, yang diinginkan adalah berkah dari KH Cholil Bangkalan.</div>
<div>Kalau anak santri sekarang dimodel seperti ini, mungkin tidak tahan dan langsung keluar dari pondok. Anak santri sekarang kan lebih mengutamakan mencari ilmu teoretis. Mencari ilmu fikih, ilmu hadits, ilmu nahwu shorof, dan sebagainya. Sementara ilmu “akhlak” terapannya malah kurang diperhatikan.</div>
<div>Suatu hari, seperti biasa Kyai Hasyim setelah memasukkan sapi dan kambing ke kandangnya, Kyai Hasyim langsung mandi dan sholat Ashar. Sebelum sempat mandi, Kyai Hasyim melihat gurunya, Kyai Kholil termenung sendiri. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati sang guru. Maka diberanikanlah oleh Kyai Hasyim untuk bertanya kepada Kyai Kholil.</div>
<div>“Ada apa gerangan wahai guru kok kelihatan sedih,” tanya Kyai Hasyim kepada Syaikhuna KH Cholil Bangkalan.</div>
<div>” Bagaimana tidak sedih, wahai muridku. Cincin pemberian istriku jatuh di kamar mandi. Lalu masuk ke lubang pembuangan akhir (septictank),” jawab Kyai Kholil dengan nada sedih.</div>
<div>Mendengar jawaban sang guru, Kyai Hasyim segera meminta ijin untuk membantu mencarikan cincin yang jatuh itu dan diijini. Langsung saja Kyai Hasyim masuk ke kamar mandi dan membongkar septictank (kakus). Bisa dibayangkan, namanya kakus dalamnya bagaimana dan isinya apa saja. Namun Kyai Hasyim karena hormat dan sayangnya kepada guru tidak pikir panjang. Beliau langsung masuk ke septictank itu dan dikeluarkan isinya. Setelah dikuras seluruhnya, dan badan Kyai Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin milik gurunya berhasil ditemukan.</div>
<div>Betapa riangnya sang guru melihat muridnya telah berhasil mencarikan cincinnya itu. Sampai terucap doa: “Aku ridho padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu”.</div>
<div>Demikianlah do&#8217;a yang keluar dari KH Cholil Bangkalan. Karena yang berdoa seorang wali, ya mustajab. Tiada yang memungkiri bahwa di kemudian hari, Kyai Hasyim menjadi ulama besar. Mengapa bisa begitu? Di samping karena Kyai Hasyim adalah pribadi pilihan, beliau mendapat “berkah” dari gurunya karena gurunya ridho kepadanya.(MS2F)</div>
<div></div>
<div></div>
<div>&#8211;&gt; disadur dari berbagai sumber</div>
<div></div>
<div><i>Dituliskan ulang oleh <b>Mahlail Syakur</b> (Ketua LTN PWNU Jawa Tengah)</i></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/mengenal-kh-hasyim-asyari-tanggal-lahir-14-februari-1871-atau-10-april-1875/">Mengenal KH Hasyim Asyari, Tanggal Lahir 14 Februari 1871 atau 10 April 1875?</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
