<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah Archives - Suara NU</title>
	<atom:link href="https://suaranu.id/category/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaranu.id/category/sejarah/</link>
	<description>Suara Nahdliyin Magelang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Feb 2026 15:28:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://suaranu.id/storage/2025/03/cropped-snu1-55x55.png</url>
	<title>Sejarah Archives - Suara NU</title>
	<link>https://suaranu.id/category/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tradisi Punggahan di Bulan Sya’ban: Kearifan Lokal Warga Nahdliyin Magelang dalam Merawat Spirit Ruwahan</title>
		<link>https://suaranu.id/tradisi-punggahan-di-bulan-syaban-kearifan-lokal-warga-nahdliyin-magelang-dalam-merawat-spirit-ruwahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2026 15:28:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[unggahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=2395</guid>

					<description><![CDATA[<p>Magelang, Bulan Sya’ban atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah menjadi momentum penting...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/tradisi-punggahan-di-bulan-syaban-kearifan-lokal-warga-nahdliyin-magelang-dalam-merawat-spirit-ruwahan/">Tradisi Punggahan di Bulan Sya’ban: Kearifan Lokal Warga Nahdliyin Magelang dalam Merawat Spirit Ruwahan</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2776261188" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p>Magelang, Bulan Sya’ban atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah menjadi momentum penting bagi masyarakat Magelang, khususnya warga Nahdliyin, untuk memperkuat kesiapan spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Salah satu ekspresi kultural-religius yang terus lestari hingga kini adalah tradisi punggahan, sebuah praktik yang sarat nilai filosofis, sosial, dan spiritual.</p>



<p>Punggahan lazim dilaksanakan dengan berkumpulnya warga di masjid, musala, atau rumah tokoh masyarakat. Mereka membawa hidangan sederhana, diiringi doa bersama, tahlil, dan kenduri. Namun lebih dari sekadar pertemuan ritual, punggahan merupakan ruang perjumpaan batin yang mempertemukan manusia dengan Tuhan, sesama, dan para leluhur.</p>



<p><strong>Filosofi Punggahan: Unggah Menuju Kesucian</strong></p>



<p>Kata punggahan berasal dari kata “unggah” yang berarti naik. Secara filosofis, punggahan dimaknai sebagai proses menaikkan kualitas batin, membersihkan diri dari kesalahan, serta menata niat sebelum memasuki Ramadan. Bagi warga Nahdliyin Magelang, Ramadan tidak boleh disambut dalam keadaan lalai, melainkan dengan kesadaran spiritual yang utuh.</p>



<p>Tradisi ini juga menjadi sarana mendoakan para leluhur. Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah, doa bagi orang yang telah wafat adalah bentuk birrul walidain yang melampaui batas usia. Ruwahan menjadi momentum refleksi akan keterhubungan antargenerasi, bahwa kehidupan hari ini tidak lepas dari jasa mereka yang telah mendahului.</p>



<p><strong>Apem dan Ketan: Simbol Permohonan Maaf dan Persatuan</strong></p>



<p>Dalam tradisi punggahan di Magelang, apem dan ketan bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan simbol yang mengandung makna filosofis mendalam.<br>Apem diyakini berasal dari kata Arab ‘afwun yang berarti ampunan. Kehadiran apem dalam punggahan dimaknai sebagai permohonan maaf, baik kepada Allah Swt. maupun kepada sesama manusia. Tekstur apem yang lembut melambangkan harapan agar hati manusia dilunakkan, dijauhkan dari sifat keras, dendam, dan kebencian. Apem menjadi simbol kesadaran akan keterbatasan manusia dan kebutuhan akan pengampunan sebelum memasuki bulan penuh rahmat.</p>



<p>Sementara itu, ketan memiliki makna kebersamaan dan persatuan. Sifat ketan yang lengket melambangkan eratnya tali silaturahmi dan harapan agar hubungan sosial antarwarga tetap “nempel”, tidak mudah tercerai-berai. Dalam konteks sosial, ketan mengajarkan pentingnya hidup rukun, saling menguatkan, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan.</p>



<p>Perpaduan apem dan ketan mencerminkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial: memohon ampun kepada Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.</p>



<p><strong>Ruwahan sebagai Ruang Sosial dan Spirit Kebersamaan</strong></p>



<p>Punggahan juga menjadi ruang sosial yang egaliter. Semua warga hadir tanpa memandang status ekonomi maupun sosial. Hidangan dibagi rata, doa dipanjatkan bersama, dan kebersamaan menjadi nilai utama. </p>



<p>Disinilah kearifan lokal warga Nahdliyin Magelang tampak nyata: agama dihayati sebagai laku sosial yang membumi.<br>Di tengah arus modernisasi yang cenderung individualistik, punggahan berfungsi sebagai pengikat sosial, sarana saling memaafkan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah serta ukhuwah wathaniyah.</p>



<p>Islam Nusantara dan Identitas Nahdliyin<br>Tradisi punggahan mencerminkan wajah Islam Nusantara yang ramah dan inklusif. Nilai-nilai Islam disampaikan melalui simbol budaya yang mudah dipahami masyarakat. Apem, ketan, doa, dan kenduri menjadi media dakwah kultural yang efektif, tanpa kehilangan esensi ajaran Islam.</p>



<p>Di Magelang, tradisi ini diwariskan lintas generasi. Para kiai kampung, tokoh masyarakat, hingga generasi muda ikut merawatnya sebagai bagian dari identitas Nahdliyin. Punggahan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus relevan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-2397" srcset="https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-1024x1024.jpg 1024w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-300x300.jpg 300w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-150x150.jpg 150w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-768x768.jpg 768w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-85x85.jpg 85w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-664x664.jpg 664w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-990x990.jpg 990w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-480x480.jpg 480w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-410x410.jpg 410w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-55x55.jpg 55w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045-105x105.jpg 105w, https://suaranu.id/storage/2026/02/IMG-20260202-WA0045.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p><strong>Menjaga Tradisi, Menjaga Makna</strong></p>



<p>Merawat tradisi punggahan berarti menjaga kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Dari apem yang melambangkan permohonan ampun hingga ketan yang merekatkan persaudaraan, punggahan mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya soal relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama.<br>Dalam kesederhanaannya, punggahan di Magelang menjadi pengingat bahwa spiritualitas sejati tumbuh dari hati yang bersih, hubungan yang rukun, dan kesadaran akan keterhubungan manusia dengan sejarah dan budayanya.</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/tradisi-punggahan-di-bulan-syaban-kearifan-lokal-warga-nahdliyin-magelang-dalam-merawat-spirit-ruwahan/">Tradisi Punggahan di Bulan Sya’ban: Kearifan Lokal Warga Nahdliyin Magelang dalam Merawat Spirit Ruwahan</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (1)</title>
		<link>https://suaranu.id/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Feb 2025 06:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2025/02/09/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-1/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dibulan Sya&#8217;ban di daerah Magelang dan sekitarnya akan ramai dengan event pengajian dalam rangka khataman...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-1/">Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-4280627845" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Dibulan Sya&#8217;ban di daerah Magelang dan sekitarnya akan ramai dengan event pengajian dalam rangka khataman atau penutupan kegiatan pembelajaran, ngaji. baik itu di pesantren-pesantren atau pengajian-pengajian di kampung, yang menarik adalah event khataman yang menjadi agenda rutin pondok pesantren API ( Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo. Kenapa menarik karena selain pengajian akbar dengan kehadiran ribuan orang dipuncak khatamannya, ada juga pekan seni budaya yang berlangsung sebagai rangkaian acara Haflah akhirussanah ( perayaan akhir tahun ).</div>
<div>
<div></div>
<div>Pekan seni budaya ( Pawiyatan Budaya Agung ) ini sudah menjadi tradisi pondok pesantren API dari sejak zaman Pendiri pondok pesantren yakni Al-maghfurlah Simbah KH.Chudlori, selama sepekan masyarakat bukan hanya para santri tetapi masyarakat umum juga menikmati pentas seni dari beberapa grup kesenian yang memang sudah menjadi langganan hadir meramaikan, ada pentas seni wayang kulit, ketoprak, topeng ireng.</div>
<div></div>
<div>Partisipasi dari para seniman dalam perhelatan khataman pondok pesantren ini tentu menjadi hal yang unik, karena tidak semua pesantren mengadakan, tetapi sebenarnya bukan hal yang aneh, karena secara &#8220;sanad&#8221; tradisi ini tidak lepas dari sosok Sang Pendiri pondok pesantren yakni Al-maghfurlah Simbah KH.Chudlori yang pernah ngaji, mondok di pondok pesantren Bendo Kediri yang disana juga ada tradisi tasyakuran khataman kitab Ihya Ulumuddin dengan nanggap dangdut, sebuah ijtihad dakwah Kyai Khozin Bendo yang ditiru oleh KH.Chudlori Tegalrejo.</div>
<div></div>
<div>Sebuah ikhtiar dakwah dengan pola seperti ini secara tidak langsung sebenarnya membuka wawasan kepada para santri untuk lebih terbuka dalam berdakwah kelak kemudian hari ketika harus pulang untuk menyebarkan ilmu kepada masyarakat, bahwa dakwah tidak pilih-pilih orang, golongan tetapi bersifat universal sehingga masyarakat yang belum tersentuh dan mengenal agamapun justru menjadi prioritas. Santri dan pondok pesantren bukan entitas yang eklusif tetapi juga bagian dari masyarakat kebanyakan, yang harus berbaur dengan masyarakat dan memberi kontribusi yang nyata bagi kehidupan keagamaan masyarakat.</div>
<div></div>
<div>KH.Chudlori sangat faham betul kultur masyarakat saat itu, bahkan beliau juga melihat secara tajam nilai keuniversal dakwah Islam, membimbing masyarakat tidak sama dengan membimbing santri yang mukim di pesantren. Ada cerita unik bagaimana jawaban beliau saat diminta pendapatnya terkait polemik dimasyarakat tentang mana yang lebih didahulukan membeli gamelan dan membangun masjid, polemik yang bisa memicu perselisihan di masyarakat desa Tepus saat itu, cara pandang beliau sehingga kemudian ketika disowani dan dimintai dawuh terkait hal itu, beliau menjawab yang terpenting bagi semuanya adalah masyarakat tetep guyub rukun, dan tidak congkrah sehingga beliau menjawab bahwa membeli gamelan bisa menjadi prioritas daripada membangun masjid, karena kepentingan umum dan tipologi masyarakat saat itu yang bisa rukun dan guyub dengan cara seperti itu. Ketika masyarakat sudah guyub dan rukun membangun masjid menjadi hal yang mudah begitu pandangan dan kearifan beliau.</div>
<div></div>
<div>Maka tidak heran jika kemudian ketika alumni-alumni pondok pesantren API terjun kemasyarakatan diterima dengan mudah, sekalipun mereka terjun didaerah yang notabenenya abangan seperti di daerah Solo raya. Sebuah ikhtiar dakwah yang telah digagas Al-maghfurlah Simbah KH.Chudlori senyatanya adalah penerus rolle model dakwah Para Wali Songo.</div>
<div></div>
<div><b><i>Abdul Aziz Idris Pangkat </i></b></div>
<div><b><i>Pemerhati Dakwah Kultural</i></b></div>
</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-1/">Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</title>
		<link>https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Feb 2025 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2025/02/04/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kemajuan NU dari sisi struktural adalah saat NU menjadi partai politik, karena keputusan...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/">Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-186846776" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Salah satu kemajuan NU dari sisi struktural adalah saat NU menjadi partai politik, karena keputusan menjadi partai politik memberi implikasi pembentukan kepengurusan sampai tingkat bawah atau ranting. Namun dalam perkembangannya terbentuk kepengurusan yang lengkap tetap membutuhkan kampanye, sosialisasi sebagai strategi mencari dukungan dan untuk mendulang suara lebih banyak ke masyarakat.</div>
<div></div>
<div>Pemilu tahun 1955 yang disebut pemilihan umum paling demokratis dalam sepanjang perhelatan politik di negeri ini menyisakan pernik-pernik perjuangan para Kyai di negeri ini. Salah satu upaya satu Kyai sepuh, Kyai Abdan Koripan ketika berkampanye demi partai NU saat itu. Cara yang unik karena beliau kerso menghadang orang di satu jalur jalan yang menjadi jalur utama orang bepergian ke kota Magelang saat itu , untuk dengan penuh keikhlasan beliau mengatakan kepada orang yang lewat jalan itu : &#8221; mbenjang pemilu , nderek nyoblos partai NU, gambar jagat njeh ?. Sami nderek Mbah Romo Agung Payaman !&#8221;. Begitu ajakan beliau. Ini beliau lakukan beberapa kali. Dan ternyata usaha dan model kampanye Simbah Kyai Abdan ini di amini oleh Kyai yang lain lewat jalur isyarat langit, dimana Simbah Kyai Muhsin Geger yang memang Waskito dalam istikhoroh mendapatkan petunjuk kebenaran terhadap apa yang dilakukan oleh Simbah Kyai Abdan, dengan bermimpi melihat Simbah Kyai Abdan berposisi sebagai seorang masinis kereta dengan gerbong yang panjang penuh oleh penumpang, sebagai isyarat bahwa pemilu 1955 partai NU mendapatkan dukungan dan suara yang banyak dari rakyat Indonesia. Begitulah ikhtiar para kasepuhan selalu selaras dengan isyarat-isyarat langit yang memberkahi langkah dan tindakannya.</div>
<div></div>
<div>Apakah kiprah beliau terkait NU hanya diperhelatan politik saja, tentu tidak bahkan yang lebih terpenting dari sebuah organisasi adalah kaderisasi, beberapa santri ditempa menjadi kader NU yang dimasanya adalah aktivis dan pejuang NU, salah satunya adalah KH. Idris Shiddiq Karanganyar yang kemudian melanjutkan belajar di pesantren Tebuireng dan disinilah mata rantai NU Magelang terjalin. Sebagaimana tatkala NU berdiri yang diisyaratkan dengan restu Mahakyai Syaikhina Kholil Bangkalan Madura dengan mengirimkan tongkat, tasbih kepada Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari, begitu juga NU Magelang secara isyarat juga adanya surat yang dikirim oleh Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari kepada Simbah KH.Sirodj Romo Agung Payaman. Sebuah upaya mengikat dan menyambungkan jejaring Ulama Nusantara yang pernah saling berikrar untuk perjuangan Islam di Makkah saat itu.</div>
<div></div>
<div>Pengkaderan justru menjadi fokus utama beliau, sehingga dikemudian hari beberapa santri, dan putro wayah berkiprah di masyarakat terlebih di Jam&#8217;iyyah NU , salah satu contoh kecil dari hasil pengkaderan itu, menurut H.M.Ridwan salah satu ketua Tanfidziyah PCNU kab Magelang menceritakan di jajaran kepengurusan NU saat itu ada dua Idris, Idris sepuh dan Idris enom ( muda ). Idris sepuh adalah KH. Idris Siddiq Karanganyar santri Tebuireng yang menjadi kurir Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari membawa surat kepada KH.Sirodj Romo Agung. Sementara Idris yang satu lagi, Idris enom adalah KH.Idris Abdan Putro pertama beliau yang meneruskan jejak perjuangan di Nahdlatul ulama dengan merintis lembaga pendidikan dasar , Madrasah ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dimana saat itu sementara masyarakat masih sedikit antipati dengan pendidikan formal, namun disisi yang lain juga masih memandang sebelah mata akan keberadaan sekolah yang berbasis pendidikan agama. Sebuah dilema yang tidak menjadi penghalang bagi Kyai Idris muda untuk tetap berhidmah di Nahdlatul Ulama dari jalur pendidikan.</div>
<div></div>
<div>Sementara untuk hidmah kemasyarakatan, beliau mengkader santri-santri untuk kelak kemudian hari terjun dimasyarakat dengan bekal ilmu, berdakwah dan memberi pencerahan bagi masyarakat, salah satu santri beliau adalah KH.Chudhori bin Ihsan pendiri pondok pesantren Asrama Perguruan Islam ( API ) Tegalrejo, KH. Yasin pendiri pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin Kombangan Tegalrejo , KH. Hamid Usman Kajoran dan beberapa Kyai di sekitar Tegalrejo. Sebuah jejak perjuangan yang terus ditapaki sehingga pondok pesantren yang dirintis beliau masih memberi kontribusi, dan peran yang nyata di masyarakat sampai saat ini setelah melampaui rentang satu abad.</div>
<div></div>
<div>Sumber cerita : KH.M. Sholikhun, KH.Mudris Payaman, KH.Ihsanudin Abdan</div>
<div></div>
<div><b>Abdul Aziz Pangkat</b></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/">Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jelang Harlah NU ke-102, Kekuatan Doa ( 2 )</title>
		<link>https://suaranu.id/jelang-harlah-nu-ke-102-kekuatan-doa-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2025 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2025/01/11/jelang-harlah-nu-ke-102-kekuatan-doa-2/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh KH Abdul Aziz Idris  Berdirinya NU dan perjuangan Jam&#8217;iyyah ini tidak sesuatu yang instan...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/jelang-harlah-nu-ke-102-kekuatan-doa-2/">Jelang Harlah NU ke-102, Kekuatan Doa ( 2 )</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3012479138" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div><b><i>Oleh KH Abdul Aziz Idris </i></b></div>
<div></div>
<div>Berdirinya NU dan perjuangan Jam&#8217;iyyah ini tidak sesuatu yang instan dan hanya sebuah reaksi atas satu, dua hal yang menjadi persoalan masyarakat saat itu. Namun ada isyarat dan doa-doa, serta laku Para Ulama, Kyai yang dengan penuh keikhlasan dan basyirohnya benar-benar berikhtiar untuk Islam, masyarakat dan peradabannya. Fragmen sejarah NU secara jelas mengabadikan isyarat dan doa salah satu guru para Ulama, Kyai pendiri NU, salah-satunya adalah isyarat yang diberikan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH.Hasyim Asy&#8217;ari yang dituturkan oleh KH.R. As&#8217;ad Syamsul Arifin ( 2000:49-56) dalam buku berjudul &#8221; Percik-percik Pemikiran Kiai Salaf, Wejangan Dari Balik Mimbar &#8220;. Sebagai berikut :</div>
<div></div>
<div>Pada 1924, di suatu pagi setelah ngaji saya dipanggil Kyai Kholil beliau memarahinya karena tidak bisa melafalkan huruf ro sesuai makhrajnya yang tepat Saya memang cadel dari kecil lalu Kyai Kholil membuka mulut saya dan meludahi, besok paginya cadel bawaan saya sembuh, Dan saya bisa ngaji dengan makhraj yang benar ini salah satu karomahnya Kyai Kholil yang diberikan kepada saya.</div>
<div></div>
<div>Besok paginya saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil saya diperintah guru saya untuk mengantarkan sebilah tongkat kepada Kyai Hasyim Asy&#8217;ari dan memberi saya uang saku sebesar 1 Ringgit untuk bekal di perjalanan dan ringgit itu sampai sekarang masih disimpan. Pada keesokan harinya ketika saya mau berangkat ke Jombang Kyai Kholil memanggil saya lagi dan memberikan tambahan uang saku lagi sebesar 1 Ringgit lalu Kyai Khalil membacakan ayat Alquran Surat Thaha ayat 17-23 setelah itu saya berangkat menuju Jombang selama dalam perjalanan saya dikatakan orang gila, ada juga yang mengatakan Wali tapi saya tetap sabar dan tak mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, memenuhi perintah guru saya.</div>
<div></div>
<div>Buat saya ini adalah ujian yang harus dihadapi. singkat kata pada sore harinya saya sampai ke rumah Kyai Hasyim Asy&#8217;ari di Tebuireng Jombang setelah bertemu dengan Kyai Hasyim saya menceritakan perihal diri saya dan pesan atau amanat guru saya untuk beliaunya, kemudian tongkat dari Kyai Kholil saya berikan kepada Kyai Hasyim disertai dengan bacaan ayat Alquran Surat Thaha ayat 17-23 dengan perasaan haru dan riang gembira di Hasyim Asy&#8217;ari berkata kepada saya :&#8221; alhamdulillah saya telah direstui untuk mendirikan jamiyah Nahdlatul Ulama &#8220;ini tongkatnya Nabi Musa&#8221; diberikan kepada saya oleh Kyai Kholil kata Kyai Hasyim kepada saya. ( Kalimat ini berulang kali disampaikan Kiai Hasyim kepada saya ).</div>
<div></div>
<div>&#8220;Sampaikan kepada Kiai Kholil, bahwa saya akan mendirikan Jam&#8217;iyyah Ulama&#8221;, tambah Kiai Hasyim sambil menangis.</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/jelang-harlah-nu-ke-102-kekuatan-doa-2/">Jelang Harlah NU ke-102, Kekuatan Doa ( 2 )</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sambut Muktamar Dengan Menyegarkan Kembali Gerakan Mabadi Khaira Ummah ( I )</title>
		<link>https://suaranu.id/sambut-muktamar-dengan-menyegarkan-kembali-gerakan-mabadi-khaira-ummah-i/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2021 14:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/11/09/sambut-muktamar-dengan-menyegarkan-kembali-gerakan-mabadi-khaira-ummah-i/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abdul Aziz Idris Keberadaan NU adalah untuk umat, bahwa NU sebagai ormas keagamaan harus...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sambut-muktamar-dengan-menyegarkan-kembali-gerakan-mabadi-khaira-ummah-i/">Sambut Muktamar Dengan Menyegarkan Kembali Gerakan Mabadi Khaira Ummah ( I )</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3496931097" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div><b><i>Oleh Abdul Aziz Idris</i></b></div>
<div></div>
<div>Keberadaan NU adalah untuk umat, bahwa NU sebagai ormas keagamaan harus selalu bisa merespon, tanggap dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan mampu memberi bimbingan, solusi, tuntutan, dan keteladanan sesuai ajaran Islam. Perkembangan kehidupan manusia di era yang sedemikan rupa menuntut peran nyata NU baik secara perorangan tokoh-tokoh NU atau kelembagaan untuk proaktif dan responsif serta bertanggung jawab untuk membina, memelihara dan mengembangkan kelangsungan peranan NU dibidang konsepsi maupun amaliyah keagamaan.</div>
<div></div>
<div>Merujuk kepada khazanah pemikiran para Ulama/pimpinan NU pada kongres NU XII tahun 1935 dicanangkan gerakan Mabadi Khaira ummah yang dibuat sebagai acuan untuk hidmah NU kepada masyarakat, umat. Latar belakang konsep Mabadi Khaira ummah ini mengacu kepada kendala utama terhambatnya kemampuan umat untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan menegakkan ajaran agama adalah kemiskinan dan lemahnya posisi ekonomi umat. Para pemimpin NU pada waktu itu berkeyakinan bahwa akar kegagalan umat dalam mengembangkan kekuatan sosial-ekonomi mereka terletak pada faktor manusianya, terutama sikap mental yang mendasari cara bergaul dan berkiprah di tengah masyarakat dan dunia usaha. Ajaran-ajaran agama dari teladan Rosululloh SAW banyak dilupakan sehingga ummat kehilangan ketangguhannya.</div>
<div></div>
<div>Berdasarkan telaah diatas atas berbagai kelemahan ( penyakit ) ummat Islam, pemimpin-pemimpin NU menunjuk tiga prinsip dasar berupa nilai-nilai paling strategis dari ajaran agama sebagai kunci pemecahan atau obatnya. Ketiga prinsip dasar itu adalah :</div>
<div>1, Asshidqu</div>
<div>Selalu jujur, benar, tidak berdusta kecuali yang diizinkan oleh agama kerena mengandung maslahat lebih besar.</div>
<div>2, Al-Amanah wal Wafa bil&#8217;ahdi</div>
<div>Menetapi segala janji.</div>
<div>3, Atta&#8217;awun</div>
<div>Tolong menolong diantara anggota-anggota NU khususnya dna sebisa-bisanya sesama muslimin pada umumnya.</div>
<div></div>
<div>Bersambung&#8230;</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sambut-muktamar-dengan-menyegarkan-kembali-gerakan-mabadi-khaira-ummah-i/">Sambut Muktamar Dengan Menyegarkan Kembali Gerakan Mabadi Khaira Ummah ( I )</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA</title>
		<link>https://suaranu.id/spiritualitas-oleh-kh-dr-abdul-ghofur-maimoen-ma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2021 10:09:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/10/11/spiritualitas-oleh-kh-dr-abdul-ghofur-maimoen-ma/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu tugas Nabi Muhammad Saw. adalah melakukan pendidikan spiritual. Ngaji-ngaji yang beliau gelar di...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/spiritualitas-oleh-kh-dr-abdul-ghofur-maimoen-ma/">Spiritualitas oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2767869317" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>
<p>Salah satu tugas Nabi Muhammad Saw. adalah melakukan pendidikan spiritual. Ngaji-ngaji yang beliau gelar di masjid atau di tempat lainnya tidak hanya sekedar kegiatan transfer ilmu, tapi juga berfungsi penguatan spiritual. Sejumlah ayat Al Quran menegaskannya. Kita bisa baca QS. Al Baqarah/2: 129 dan 151; QS. Āli ‘Imrān/3: 164; serta QS. Al Jum’ah/62: 02. Saya ingin menyertakan salah satunya di sini:</p>
</div>
<div></div>
<div>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ</div>
<div></div>
<div>“Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” QS. Āli ‘Imrān/3: 164.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Fungsi inilah yang dengan terang kita baca dari kisah Hanẓalah ra. Ia adalah salah satu sekertaris Rasulullah, hal yang mungkin dapat memberi persepsi adanya kedekatan pribadi antara keduanya. Ia mengeluh kepada Abu Bakar ra. bahwa saat bersama Rasulullah Saw., mendengarkan petuah-petuahnya tentang sorga dan neraka, ia merasa benar-benar kuat iman dan islamnya sehingga seakan ia bisa melihat sorga dan neraka itu. Namun, jika ia telah pulang kembali, bertemu dengan istri dan anak-anaknya, juga melakukan pekerjaannya, suasana spiritual yang ia alami bersama Rasulullah banyak yang sirna. Atas semua itu, ia merasa seperti orang munafik. Ternyata Abu Bakar, tempat ia menyampaikan keluh-kesahnya, juga merasakan hal yang sama.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Keduanya lalu sowan kepada Baginda Rasul untuk menyampaikan ini. Jawaban Rasulullah Saw. sangat menggembirakan, bahwa yang seperti itu bukan pertanda munafik. Allah SWT. tidak membebani mereka untuk ajeg dalam rasa spiritualitas seperti saat bersama Rasulullah Saw. Kata Rasulullah kepada Hanẓalah, “Akan tetapi, wahai Hanẓalah, sesaaat .. sesaat.” Beliau mengulanginya hingga tiga kali.[1] Mungkin maksudnya adalah ada saatnya benar-benar konsentrasi beribadah seperti halnya ketika bersama Rasulullah, dan ada saatnya untuk untuk menyenangkan diri seperti bersama keluarga dan saat bekerja. [2]</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Dalam cerita ini tampak sekali keberadaan Rasul Saw. sebagai magnet bagi para sahabat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini pulalah yang kemudian dijalankan oleh para sahabat penerus keulamaan sepeninggal Rasulullah. Posisi apapun yang dijalani, termasuk sebagai penguasa atau pengusaha, mereka tetap menghadirkan diri sebagai “penjaga” spiritualitas umat.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di dunia Islam adalah Al Azhar di Mesir. Ia dibangun oleh Dinasti Fathimiyyah, yang menganut Mazhab Syiah, pada tahun 361 H/972 M. sebagai masjid sekaligus lembaga pendidikan Syiah. Dinasti Fathimiyyah diambil-alih oleh Dinasti Ayyubiyyah yang Sunni di bawah pimpinan Shalahuddin Al Ayyubi pada tahun 567 H/1171 M. Khutbah di Masjid Al Azhar ditiadakan selama hampir 100 tahun. Masjid Al Azhar kembali dibuka untuk salat pada tahun 1266 atas perintah sultan Mamluk, Al Malik Aẓ Ẓāhir Rukn ad Dīn Baibars, dan Pada 17 Desember 1267, atas perintahnya pula, Al Azhar kembali menyelenggarakan salat Jumat. Di era Mamalik ini, Al Azhar juga kembali menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikin, akan tetapi sebagai lembaga Sunni bukan Syiah. Banyak ulama besar yang keilmuannya terkait dengan lembaga pendidikan Al Azhar, seperti Ibn Khaldūn (732—808 H./1332—1403 M.), Ibn Ḥajar Al ‘Asqalānī (773—852 H./1371—1449 M.), As Sakhāwī (831—902 H.), Ibn Taġrī Bardī (813—874 H./1410—1470 M.), dan Al Qalqasyandī (756—821 H./1355—1418 M.).</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Di era ini, pimpinan tertingginya masih disebut dengan nāẓir seperti waqaf-waqaf lainnya. Meski tanpa formalitas tertentu, semua kalangan telah mafhum bahwa Al Azhar tidak saja mengajarkan ilmu, namun juga merupakan simbol spiritualitas. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, simbol spiritualitas ini tampaknya perlu ditegaskan secara formal. Sultan Otoman, Suleyman Al Qānūnī (1494—1566 M.), menetapkan dekrit perlunya mengangkat Syaikh Al Azhar yang dipilih oleh para ulama.</div>
<div></div>
<div>Syekh Al Azhar pertama adalah Muhammad bin Abdullah al Khurāsyī. Ia ditetapkan sebagai Syaikh Al Azhar sejak tahun 1101 H./1690 M hingga tahun 1106 H./1695 M. Sampai sekarang, telah diangkat 44 Syekh Al Azhar. Syaik Al Azhar tidak saja merupakan pimpinan intelektual Islam, akan tetapi juga merupakan simbol pimpinan spiritual. Beberapa nama dari Syuyūkh Al Azhar sangat akrab di telinga kita, santri-santri pesantren, seperti: Abdullah Asy Syarqāwī (1150—1227 H.), penulis Ḥāsyiyah Asy Syarqāwī ‘alā Tuḥfah Aṭ Ṭullāb; Hasan Al ‘Aṭṭār, penulis Ḥāsyiyah Al ‘Aṭṭār ‘alā Syarḥ al Maḥallī ‘alā Jam’ al Jawāmi’; dan Ibrāhīm Al Bājūrī, penulis Ḥāsyiyah al Bājūrī ‘alā (Fatḥ al Qarīb).</div>
<div></div>
<div>Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir antara tahun 1805 dan tahun 1848, melakukan modernisasi besar-besaran di Mesir, termasuk lembaga Al Azhar. Tradisi pembaharuan ini terus bergulir hingga puncaknya pada tahun 1961, di mana Al Azhar secara resmi berubah menjadi Universitas. Pembaharuan di Al Azhar memiliki kekhasan tersendiri, karena ia tetap bertahan pada tradiri (tradisi). Jangkar tradisi tetap kokoh meski mengalami pembaharuan-pembaharuan. Buku-buku turats tetap dikaji dengan baik. Dan, yang terpenting, Syaikh Al Azhar—pimpinan tertinggi yang menyimbolkan spiritualitas dan intelektualitas—tetap di pertahankan. Al Azhar tidak saja hadir dalam forum-forum akademik-intelektual, tapi juga hadir dalam forum-forum spiritual-keagamaan dunia, sejajar dengan pimpinan-pimpinan agama lain. Tokoh-tokoh intelektual-spiritual dunia lahir dari Al Azhar modern ini. Sebut saja misalnya, Asy Syaikh Muhammad Ramaḍān Al Būṭī, Asy Syaikh Wahbah Az Zuḥailī; As Sayyid Al ‘Ārif bi Allāh Muhammad bin ‘Alawī Al Mālikī; dan Al Habīb Muhammad Quraish Shihab.</div>
<div></div>
<div>Nahdhatul Ulama lahir tahun 1926 oleh sejumlah kyai kharismatik yang dipimpin oleh Hadhratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari (1871—1947 M.). Semua mafhum bahwa ini adalah organisasinya para ulama. Nilai-nilai spiritual adalah ruh utama organisasi. Berbagai keputusannya banyak yang tidak saja di dasari oleh nilai-niai rasionalitas, akan tetapi juga didasari oleh semacam ilham spiritual. Gerak langkahnya tak pernah luput dari pertimbangan keagamaan-spiritual. Masyarakat pun mengerti bahwa tunduk-patuh kepada Nahdhatul Ulama bukan semata bersifat organisatoris, akan tetapi juga berdimensi spiritual. Sang Maha Guru, Syaikhona Khalil, pada tahun 1924 mengutus santrinya, KH. As’ad Syamsul Arifin—dikemudian hari menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo—untuk menyerahkan sebuah tongkat kepada KH. Hasyim yang juga adalah santrinya. Tongkat ini adalah simbol tongkat Nabi Musa as. Beliau membacakan QS. Thaha/20: 17—21:</div>
<div></div>
<div>وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى (21)</div>
<div></div>
<div>“17. Apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?” 18. (Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.” 19. (Allah) berfirman, “Lemparkanlah (tongkat) itu, wahai Musa!” 20. Maka, dia (Musa) melemparkannya. Tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. 21. Dia (Allah) berfirman, “Ambillah dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya pada keadaannya semula.”</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Dalam tradisi sufistik, Tongkat Musa dimaknai sebagai simbol kepemimpinan spiritual. Ismail Ḥaqqī, dalam Tafsirnya, mengatakan, dalam tongkat terdapat isyarat bahwa para nabi adalah penggembala umat. Mereka harus menjaganya dari ‘srigala syetan’ dan ‘singa hawa nafsu’. Sebagian ahli makrifat menyampaikan, tongkat adalah gambaran mengenai nafs al muṭmainnah, jiwa yang tenang, yang dapat menghancurkan persepsi-persepsi salah (al mauhūmāt) dan khayalan-khayalan (al mutakhayyalāt).[3]</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Akhir tahun 1924 Syaikhona Khalil kembeli mengutus santrinya, KH. Syamsul Arifin. Kali ini untuk membawa tasbih. Dia meminta agar tasbih dikalungkan di lehernya. Tasbih dalam tradisi sufistik juga merupakan simbol spiritual, sama seperti halnya tongkat. Imam As Sayūṭī, dalam bukunya Al Minḥah fi As Sabḥah, mengutip dari Ibn Khalikān dalam Wafiyyāt al A’yān, bahwa suatu hari Abū al Qāsim Al Junaid bin Muhammad terlihat membawa tasbih di tangannya. Lalu, disampaikan kepadanya, “Engkau dengan segala kemuliaanmu masih menggunakan tasbih di tanganmu?”. Ia pun menjawab, “(ini adalah) jalan yang mengantarkan diriku ‘wushul’ kepada Tuhanku. Saya tidak akan berpisah darinya.”[4] Imam As Sayūṭī lalu menyebut sanad musalsal tasbih yang sambung sampai Imam Ḥasan Al Baṣrī, ia mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang kami gunakanan pada awal-awal (jalan). Kami tidak akan meninggalkannya di (jalan-jalan) penghujung. Saya menyukai zikir kepada Allah dengan hatiku, serta dalam tangan dan lisanku.”[5]</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Barangkali, inilah salah satu yang melatar-belakangi kenapa banyak warga NU berharap, bahwa kelas Nahdhatul Ulama ini harus dijaga sekuat tenaga. Sebentar lagi Nahdhatul Ulama punya gawe terbesarnya, yakni Muktamar, yang akan diselenggarakan di Lampung 23—25 Desember. Siapapun yang nanti terpilih, sedikit-banyak secara simbolis dia mewarisi tongkat dan tasbih Hadhratusy Syekh KH. Hasyim Asyari. Dia harus dipilih dengan hati nurani yang paling dalam, serta melalui cara-cara yang menebarkan aura spiritualitas. Begitu pula pimpinan tanfidziyahnya, karena sejatinya ia adalah pelaksana kebijakan lembaga Syuriah, meskipun ia tidak sesakral Syuriah.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Beberapa waktu lalu, Ahad 3 Oktober, kami, Sekolah Tinggi Agama Islam Al Anwar, kedatangan Rais Am Nahdhatul Ulama. Kami merasa sangat terhormat. Kampus ini didirikan oleh guru spiritual-intelektual Kami, KH. Maimoen Zubair, dengan cita-cita besar ingin menyelaraskan antara intelektualitas dan spiritualias. Karena itu, secara struktural di atas Ketua ada Majelis Pengasuh. Seperti disampaikan Kyai Luthfi Thomafi, alhamdulillah kami pernah kerawuhan KH. Musthofa Bisri dan KH. Makruf Amin, dua Rais Am Nahdhatul Ulama pada eranya. Bagi kami, Rais Syuriah Nahdhatul Ulama adalah tokoh spiritual Bangsa Indonesia.</div>
<div></div>
<div>==</div>
<div></div>
<div>[1] Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imām Muslim dari Hanẓalah bin Ar Rabī’ al Usaidī ra.:</div>
<div></div>
<div>عَنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ، قَالَ: &#8211; وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; قَالَ: لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ: كَيْفَ أَنْتَ؟ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ: قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ، حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «وَمَا ذَاكَ؟» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ نَكُونُ عِنْدَكَ، تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ، عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، نَسِينَا كَثِيرًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي، وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً» ثَلَاثَ مَرَّاتٍ</div>
<div></div>
<div>[2] Al Amīr al Kaḥlānī Aṣ Ṣan’ānī, At Tanwīr Syarḥ al Jāmi’ Aṣ Ṣaġīr, jilid 6, hal. 275.</div>
<div>[3] Ismail Ḥaqqī, Rūḥ al Bayān, jilid 5, hal. 373.</div>
<div>[4] Al Imām As Sayuṭī, Al Minḥah fi As Sabḥah, hal. 27; Ibn Khalikān, Wafiyyāt al A’yān</div>
<div>[5] Al Imām As Sayuṭī, Al Minḥah fi As Sabḥah, hal. 28—29.</div>
<div></div>
<div>__________</div>
<div>
<div><b><i>oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen,MA </i></b></div>
<div></div>
</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/spiritualitas-oleh-kh-dr-abdul-ghofur-maimoen-ma/">Spiritualitas oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI</title>
		<link>https://suaranu.id/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2021 01:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/06/05/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Ahmad Muntaha AM [1] ِِA. SEJARAH Memahami sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah diniyah...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/">Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1446020049" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p><em><strong>Oleh: Ahmad Muntaha AM [1]</strong></em></p>



<p><strong>ِِA. SEJARAH</strong></p>



<p>Memahami sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah diniyah (organisasi keagamaan) tidak cukup hanya dengan membaca formalitas kelahirannya pada 31 Januari 1926 di kampung Kertopaten Surabaya, bersamaan pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Arab Saudi. Jauh sebelum itu, NU sudah ada dan berwujud dalam bentuk jama’ah(community) yang terikat oleh aktivitas keagamaan yang mempunyai karakteristik tertentu. Terkait hal ini Rais Akbar Nahdlatul Ulama, Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan:</p>



<p>قَدْ كَانَ مُسْلِمُو الْأَقْطَارِ الْجَاوِيَّةِ فِي الزَّمَانِ الْخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الْآرَاءِ وَالْمَذْهَبِ، وَمُتَّحِدِ الْمَأْخَذِ وَالْمَشْرَبِ. فَكُلُّهُمْ فِي الْفِقْهِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ النَّفِيسِ مَذْهَبِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيسَ، وَفِي أُصُولِ الدِّينِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ وَالْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الشِاذِلِيّ.[2]</p>



<p><em>“Sungguh kaum muslimin tanah Jawa (Nusantara) pada masa lalu sepakat dalam pendapat dan madzhabnya; tunggal sumber rujukannya. Semuanya dalam fikih memedomani madzhab indah, madzhab al-Imam Muhamamd bin Idris asy-Syafi’i, dalam ushuluddin memdomani madzhab al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf memedomani madzhab al-Imam al-Ghazali dan al-Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili.”</em></p>



<p>Dalam musyawarah pemberian nama organisasi ini, KH. Abdul Hamid dari Sidayu Gersik mengusulkan nama Nuhudlul Ulama dengan penjelasan para ulama mulai bersiap-siap bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Namun pendapat ini mendapat sanggahan dari KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz. Menurut beliau, kebangkitan ulama bukan sedang akan dimulai, namun sebenarnya sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz, namun kebangkitan dan pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisir secara rapi. Sebab itu, KH. Mas Alwi mengusulkan nama Nahdhatul Ulama yang lebih condong pada makna gerakan serentak ulama dalam suatu pengarahan, atau gerakan bersama-sama yang terorganisir.[3]</p>



<p>Dari sini bisa dipahami bahwa pendirian NU tiada lain merupakan pengorganisasian, peningkatan dan pengembangan peran ulama pesantren yang sudah ada. Dengan kata lain, didirikannya NU agar menjadi wadah bagi usaha menyatukan langkah ulama pesantren dalam rangka pengabdian yang tidak terbatas pada persoalan keagamaan saja–meskipun ini merupakan tujuan utamanya–, namun juga merambah pada masalah-masalah sosial, ekononomi, dan persoalan kemasyarakatan pada umumnya. Hal ini terlihat secara jelas dalam Statuen Perkoempoelan Nahdlotoel ‘Oelama, Fatsal 2 dan 3:</p>



<p><em>“Fatsal 2:</em></p>



<p><em>Adapoen maksoed perkoempulan ini jaoetu: “Memegang tegoeh pada salah satoe dari madzhabnya Imam ampat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris Asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboehanifah An-Noe’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam.”</em></p>



<p>Fatsal 2:</p>



<p>Oentoek mentjapai maksoed perkoempoelan ini maka diadakan ichtiar:</p>



<p>1. Mengadakan perhoeboengan di antara ‘Oelama-‘Oelama jang bermadzhab tersebut dalam fatsal 2.</p>



<p>2. Memeriksai kitab-kitab sebeloemnja dipakai oentoek mengadjar, soepaja di ketahoei apakah kitab itoe dari pada kitab-kitabnja Ahli Soennah Wal Djama’ah atau kitab-kitabnja Ahli Bid’ah.</p>



<p>3. Menjiarkan Agama Islam di atas madzhab sebagai tersebut dalam fatsal 2, dengan djalanan apa sadja jang baik.</p>



<p>4. Berichtiar memperbanjakkan Madrasah-Madrasah jang berdasar Agama Islam.</p>



<p>5. Memperhatikan hal-hal jang berhoeboengan dengan masdjid2, langgar2, dan pondok2, begitoe djuga dengan hal ahwalnja anak-anak jatim dan orang-orang jang fakir miskin.</p>



<p>6. Mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan, dan peroesahaan, jang tiada dilarang oleh sjara` Agama Islam.”[4]</p>



<p>Selain itu, berdirinya NU tidak bisa dilepaskan dari tujuan membangun semangat nasionalisme bangsa yang sedang terjajah. Selain tercermin dalam keterlibatan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam Syarikat Islam, Indonesische Studie Club, Nahdlatul Wathan, Taswir al-Afkar, dan berbagai organisasi lainnya, hal ini sekali lagi ditegaskan oleh beliau sehari sebelum lahirnya NU. Setelah undangan pertemuan ulama untuk membicarakan Komite Hijaz pada 31 Januari 1926 selesai diedarkan, Kiai Abdul Halim bertanya kepada Kiai Wahab, apakah rencana pembentukan organisasi ulama itu mengandung tujuan untuk menuntut kemerdekaan? Kiai Wahab menjawab dengan penuh isyarat: “Tentu, itu syarat nomor satu. Umat Islam menuju ke jalan itu. Umat Islam tidak leluasa sebelum Negara kita merdeka.”[5]</p>



<p>Kiai Abdul Halim ragu dengan tujuan tersebut, sebab pembentukan perkumpulan ulama saja baru pada tahap pengiriman undangan. Ia bertanya: “Apakah usaha semacam ini bisa menuntut kemerdekaan?” Kiai Wahab langsung menyalakan api rokoknya sambil berkata: “Ini bisa menghancurkan bangunan perang. Kita jangan putus asa. Kita harus yakin tercapai negeri merdeka.”[6]</p>



<p>Dengan demikian, lahirnya NU juga didorong oleh semangat membangun nasionalisme. Membangun nasionalisme pada waktu itu sama halnya dengan membela tanah air, membela tuntutan rakyat untuk merdeka.[7]</p>



<p><strong>B. SIKAP KEMASYARAKATAN NU</strong></p>



<p>Sikap kemasyarakatan NU telah dirumuskan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo, No. 02/MNU-27/1984 tentang Khitthah NU. Namun, untuk memahaminya perlu dipahami terlebih dahulu Dasar-Dasar Faham Keagamaan NU, yaitu:[8]</p>



<p>1. Nahdlatul Ulama mendasarkan faham keagamaan kepada sumber ajaran agama Islam: al-Qur`an, as-Sunnah,al-Ijma’,dan al-Qiyas.</p>



<p>2. Dalam memahami, menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya di atas, Nahdlatul Ulama mengikuti faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan menggunakan jalan pendekatan (al-Madzhab): a) di bidang aqidah, Nahdlatul Ulama mengikuti Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipelopori oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi; b) di bidang fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuti jalan pendekatan (al-madzhab) salah satu dari madzhab Abu Hanifah an-Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hanbal; dan c) di bidang tasawuf, mengikuti antara lain Imam al-Junaid al-Baghdadi, dan Imam al-Ghazali serta imam-imam yang lain.</p>



<p>Nahdlatul Ulama mengikuti pendirian, bahwa Islam adalah agama yang fitri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia. Faham keagamaan yang dianut oleh Nahdlatul Ulama bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang baik yang sudah ada dan menjadi milik serta ciri-ciri suatu kelompok manusia, seperti suku maupun bangsa, dan tidak bertujuan menghapus nilai-nilai tersebut.</p>



<p>Dasar-dasar pendirian keagamaan NU ini menumbuhkan sikap kemasyarakatan NU yang bercirikan:[9]</p>



<p>1. Sikap Tawassuthdan I’tidal</p>



<p>Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim).</p>



<p>2. Sikap Tasamuh</p>



<p>Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.</p>



<p>3. Sikap Tawazun</p>



<p>Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.</p>



<p>4. Amar Ma’ruf Nahi Munkar</p>



<p>Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguna, dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.</p>



<p>Dalam tataran praktisnya dasar-dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan itu membentuk perilaku warga Nahdlatul Ulama, baik dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi yang:[10]</p>



<p>1. Menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran Islam.</p>



<p>2. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.</p>



<p>3. Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dan berkhidmah serta berjuang.</p>



<p>4. Menjunjung tinggi persaudaraan (al-ukhuwwah), persatuan (al-ittihad), serta kasih mengasihi.</p>



<p>5. Meluhurkan kemuliaan moral (al-akhlaq al-karimah), dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berfikir, bersikap, dan bertindak.</p>



<p>6. Menjunjung tinggi kesetiaan (loyalitas) kepada bangsa dan negara.</p>



<p>7. Menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.</p>



<p>8. Menjunjung tinggi ilmu-ilmu pengetahuan serta ahli-ahlinya.</p>



<p>9. Selalu siap untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa kemaslahatan bagi manusia.</p>



<p>10. Menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu, dan mempercepat perkembangan masyarakatnya.</p>



<p>11. Menjunjung tinggi kebersamaan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>



<p><strong>C. PANCASILA DALAM PERSPEKTIF NU</strong></p>



<p>Mempertentangkan Pancasila dan Islam memang terasa lebih mudah daripada memahami keduanya secara proporsional. Namun demikian, NU telah menegaskan pandangannya yang jelas dan jernih, yang tercantum dalam Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam, sebagai hasil keputusan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama tahun 1983 di Situbondo, sebagai berikut:[11]</p>



<p>1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia adalah prinsip fundamental namun bukan agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.</p>



<p>2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara menurut pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.</p>



<p>3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.</p>



<p>4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan kewajiban agamanya.</p>



<p>5. Sebagai konsekuensi dari sikap tersebut di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.</p>



<p>Merujuk pernyataan KH. Achmad Siddiq, Peletak Dasar Khitthah NU:[12] “Nahdlatul Ulama menerima Pancasila menurut bunyi dan makna yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 (bil lafdhi wal ma’nal murad), dengan rasa tanggung jawab dan tawakkal kepada Allah.”[13]</p>



<p><strong>D. NKRI DALAM PERSPEKTIF NU</strong></p>



<p>Demokrasi di era reformasi telah membuka seluas-luasnya pintu kebebasan. Bahkan kebebesan yang menjurus pada tindakan makar terhadap negara pun leluasa bergerak.[14] Namun bagi NU, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) merupakan upaya final dari perjuangan seluruh penduduk Indonesia–termasuk umat Islam di dalamnya– dalam mendirikan negara.[15] NKRI adalah negara yang sah menurut hukum Islam, yang menjadi wadah berkiprah melaksanakan dakwah yang akomodatif dan selektif, serta bertaqwa sesempurna mungkin, tidak usah mencari atau membuat negara yang baru.[16] Bahkan merujuk Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, mempertahankan dan menegakkan NKRI menurut hukum Agama Islam adalah wajib, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap muslim, dan jihad fi sabilillah.[17] Karena itu, NU mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, baik dahulu, sekarang, maupun masa mendatang.</p>



<p>Terkait tanggung jawab tersebut, melalui Muktamar ke-29 di Cipasung Tasikmalaya pada 1 Rajab 1415 H/ 4 Desember 1994 M, NU mengeluarkan Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama No. 02/MNU-29/1994 tentang Pengesahan Hasil Sidang Komisi Ahkam/Masail Diniyah, yang di antaranya terkait dengan Pandangan dan Tanggung Jawab NU Terhadap Kehidupan Kebangsaan dan Kenegaraan, yang mana di antara isinya adalah sebagaimana berikut:[18]</p>



<p>“IV. WAWASAN KEBANGSAAN DAN KENEGARAAN DALAM PANDANGAN NAHDLATUL ULAMA</p>



<p>1. Nahdlatul Ulama menyadari bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara -di mana sekelompok orang yang oleh karena berada di wilayah geografis tertentu dan memiliki kesamaan, kemudian mengikatkan diri dalam satu sistem dan tatanan kehidupan merupakan “realitas kehidupan” yang diyakini merupakan bagian dari kecenderungan dan kebutuhan yang fitri dan manusiawi. Kehidupan berbangsa dan bernegara adalah perwujudan universalitas Islam yang akan menjadi sarana bagi upaya memakmurkan bumi Allah dan melaksanakan amanatNya sejalan dengan tabiat atau budaya yang dimiliki bangsa dan wilayah itu.</p>



<p>2. Kehidupan berbangsa dan bernegara seyogyanya merupakan langkah menuju pengembangan tanggung jawab kekhilafahan yang lebih besar, yang menyangkut “kehidupan bersama” seluruh manusia dalam rangka melaksanakan amanat Allah, mengupayakan keadilan dan kesejahteraan manusia, lahir dan batin, di dunia dan di akhirat.</p>



<p>3. Dalam kaitan itu, kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah dibangun atas dasar prinsip ketuhanan, kedaulatan, keadilan, persamaan dan musyawarah. Dengan demikian maka pemerintah (umara’) dan ulama -sebagai pengemban amanat kekhilafahan- serta rakyat adalah satu kesatuan yang secara bersama-sama bertanggung jawab dalam mewujudkan tata kehidupan bersama atas dasar prinsip-prinsip tersebut.</p>



<p>4. Umara’ dan ulama dalam konteks di atas, merupakan pengemban tugas khilafah dalam arti menjadi pengemban amanat Allah dalam memelihara dan melaksanakan amanatNya dan dalam membimbing masyarakat sebagai upaya memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang hakiki. Dalam kedudukan seperti itu, pemerintah dan ulama merupakan ulil amri yang harus ditaati dan diikuti oleh segenap warga masyarakat. Sebagaimana firman Allah yang artinya:</p>



<p>“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang Demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. al-Nisa’: 59) …</p>



<p>VII. TANGGUNG JAWAB NAHDLATUL ULAMA TERHADAP KEHIDUPAN BERBANGSA DI MASA MENDATANG</p>



<p>1. Umat Islam Indonesia dan Nahdlatul Ulama, sejak semula memandang Indonesia sebagai “kawasan amal dan dakwah”. Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, dan (karenanya) merupakan lahan dari ajaran Islam yang universal itu (Kaffatan linnas dan Rahmatan lil ‘alamin).</p>



<p>2. Indonesia dalam berbagai kondisinya, adalah rahmat yang sangat besar dari Allah Swt., yang wajib disyukuri seluhur-luhurnya, dengan melestarikannya, mengembangkannya dan membangunnya sepanjang zaman. Segala kekurangan dan kelemahannya diperbaiki, dan segala kebaikannya ditingkatkan dan disempurnakan untuk mencapai “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”, negara adil dan makmur di bawah maghfirah (ampunan) Allah Swt.</p>



<p>3. Dalam menyongsong masa depan, Nahdlatul Ulama bertekad untuk selalu berperan besar dalam meningkatkan kualitas umat, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Dengan itulah umat Islam mampu memenuhi peran dan tanggung jawab sebagai mayoritas bangsa, sebagai khalifah Allah di bumi dan sekaligus sebagai hamba yang harus selalu mengabdi dan beribadah kepadaNya. Untuk itu, tugas Nahdlatul</p>



<p>4. Ulama pada masa kini dan masa mendatang adalah: a) Sebagai “kekuatan pembimbing spiritual dan moral umat dan bangsa ini”, dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara -politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek- untuk mencapai kehidupan yang maslahat, sejahtera dan bahagia, lahir dan batin, dunia dan akhirat. b) Berusaha akan dan terus secara konsisten menjadi “Jam’iyah diniyah/ organisasi keagamaan” yang bertujuan untuk ikut membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat Indonesia yang bertakwa kepada Allah Swt., cerdas, terampil, adil, berakhlak mulia, tenteram dan sejahtera. c) Berperan aktif memeperjuangkan pemerataan sarana perikehidupan yang lebih sempurna demi mewujudkan keadilan sosial yang diridhai Allah Swt. d) Menjadikan warga Nahdlatul Ulama dan seluruh warga bangsa Indonesia sebagai warga negara yang senantiasa menyadari tanggung jawabnya dalam membangun Indonesia secara utuh, menegakkan keadilan dan kebenaran, memelihara kemanusiaan dan kejujuran serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. e) Menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka, berdaulat, mandiri, terbebas dari penjajahan dan penganiayaan oleh siapapun dalam bentuk apapun, sehingga nilai kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, serta ajaran Islam yang lain, dapat dimasyarakatkan dan disatukan dengan dan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Indonesia adalah wilayah atau bagian dari bumi Allah, yang menjadi tempat kaum muslimin menghambakan dirinya kepada Allah Swt., dengan penuh ketenangan dan keleluasaan, dalam seluruh aspek kehidupan.”</p>



<p>Demikian sekilas pengetahuan tentang sejarah NU, sikap kemasyarakatan dan pandangannya terhadap Pancasila dan NKRI. Diharap dengannya kaum muslimin secara luas dapat memperkokoh niat untuk masuk dan berkhidmah di dalamnya, sebagai implementasi praktis dari khidmat terhadap agama, bangsa dan negara.</p>



<p>Semoga Ahli Nahdlah semakin yakin, Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah yang penuh berkah akan mengantarkannya untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat, sebagaimana seruan as-Sayyid Ahmad bin Abdullah as-Saqaf–rahimahullah–yang termaktub dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyah Nahdlatul Ulama:</p>



<p>إِنَّهَا الرَّابِطَةِ قَدْ سَطَعَتْ بَشَائِرُهَا، وَاجْتَمَعَتْ دَوَائِرُهَا وَاسْتَقَمَتْ عَمَائِرُهَا. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ عَنْهَا، أَيُّهَا الْمُعْرِضُونَ؟ كُونُوا مَعَ السَّابِقِينَ، أَوْ لَا، فَمِنَ اللَّاحِقِينَ. وَإِيَّاكُم مِّنَ الْخَالِفِينَ، فَيُنَادِيكُمْ لِسَانُ التَّقْرِيعِ بِقَوَارِعِ: رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ [التوبة 87] …[19]</p>



<p>“Sungguh Nahdlatul Ulama adalah perhimpunan yang telah menampakkan tanda-tanda menggembirakan, daerah-daerahnya menyatu, bangunan-bangunannya telah berdiri tegak. Maka kemana kamu akan pergi darinya, wahai orang yang berpaling? Jadilah kalian bersama generasi awalnya. Bila tidak, maka jadilah generasi yang menyusulnya. Jangan sampai kalian menjadi golongan yang tertinggal (tidak memasukinya), sehingga suara penggoncang akan menggoncang-goncangkan dengan perkataan: “Kaum munafik rela tinggal (tidak berjihad) bersama perempuan-perempuan yang tinggal di rumah, dan hati mereka dibutakan, maka mereka tidak memahami kebaikan.”</p>



<p>[1] Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur dan Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Artikel juga pernah dimuat di website: aswajamuda.com</p>



<p>[2] Muhammad Hasyim Asy’ari, Risalah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah (Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, 1418 H), Cet. I, 9.</p>



<p>[3] Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU (Ttp.: PT. Duta Aksara Mulia, 2010), cet. III, 3-4.</p>



<p>[4] Statuen Perkoempoelan Nahdlotoel ‘Oelama, (1926: pasal 2 dan 3).</p>



<p>[5] Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 36-37.</p>



<p>[6] Ibid., 37.</p>



<p>[7] Ibid.</p>



<p>[8] Abdul Muchith Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran; Refleksi 65 Th. Ikut NU (Surabaya: Khalista, 2007), cet. IV, 25-26.</p>



<p>[9] Ibid., 26-27.</p>



<p>[10] Ibid., 27.</p>



<p>[11] LTN PBNU, Ahkamul Fuqoha, Solusi Problematika Hukum Islam; Keputusan Muktamar Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (Surabaya: Khalista, 2011), cet. I, 757.</p>



<p>[12] Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, Antologi NU; Sejarah, Istilah, Amaliah Uswah (Surabaya: Khalista, 2010), cet. III, I/176.</p>



<p>[13] Choirul Anam, Pemikiran K.H. Achmad Siddiq tentang: Aqidah, Syari’ah dan Tasawuf, Khitthah NU 1926, Hubungan Agama dan Pancasila, Negara Kesatuan RI Bentuk Final, Watak Sosial Ahlussunnah, Seni dan Agama (Jakarta: PT. Duta Aksara Mulia, 2010), cet. II, 71.</p>



<p>[14] An-Nadwah al-‘Alamiyah li asy-Syabab al-Islami, al-Mausu’ah al-Muyassarah fi al-Ayan wa al-Madzahib, wa al-Ahzab al-Mu’ashirah (ttp.: Dar an-Nadwah al-‘Alamiyah, tth.), bab al-Harakah wa al-Jama’ah al-Islamiyah. CD al-Maktabah asy-Syamilah, al-Ishdar ats-Tsani, vol. 2.11.</p>



<p>[15] Anam, Pemikiran K.H. Achmad Siddiq, IX .</p>



<p>[16] Ibid., 83-83.</p>



<p>[17] Arif Hanafi A.H., Narasi Resolusi Jihad, 7-9.</p>



<p>[18] LTN PBNU, Ahkamul Fuqoha, 746-758.</p>



<p>[19] Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran, 11, dan Muhammad Hasyim Asy’ari, at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, 1418 H), 26.</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/">Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menelisik Sejarah Madrasah Ma&#8217;arif di Magelang</title>
		<link>https://suaranu.id/menelisik-sejarah-madrasah-maarif-di-magelang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2020 15:47:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/06/17/menelisik-sejarah-madrasah-maarif-di-magelang/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abdul Azis Idris Abdan Keberadaan madrasah atau sekolah di bawah pengelolaan LP. Ma&#8217;arif saat...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/menelisik-sejarah-madrasah-maarif-di-magelang/">Menelisik Sejarah Madrasah Ma&#8217;arif di Magelang</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-822405217" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p><i>Oleh Abdul Azis Idris Abdan</i></p>
<p>Keberadaan madrasah atau sekolah di bawah pengelolaan LP. Ma&#8217;arif saat ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah perjuangan dan kontribusi tokoh-tokoh NU, masyarakat Nahdliyin dan umat Islam secara umum. Ada kepedulian masyarakat saat itu atas pentingnya nilai pendidikan. Sedangkan di sisi lain keberadaan sekolah masih sangat minim. Di dekade tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintah masih sedikit membangun sekolah. Maka kemudian berdirilah madrasah-madrasah yang diinisiasi dan dibangun oleh masyarakat dengan dukungan penuh para tokoh masyarakat, utamanya kalau di Jawa adalah para Kyai atau Ulama setempat.<br />
Saat NU menjadi partai politik, lembaga pendidikan di bawah naungannya tentu tetap harus dikelola dengan profesional, sekalipun persoalan politik tidak kemudian dibawa-bawa ke ranah pendidikan. Maka kemudian dibentuk lembaga yang secara khusus menangani dan mengelola unit-unit pendidikan yang dirikan dan dikelola di bawah naungan NU.<br />
Ada fakta menarik terkait dengan keberadaan madrasah yang dikelola oleh NU ini saat menjadi partai politik, yakni bahwa terkait dengan bantuan dana pemerintah untuk lembaga pendidikan di bawah pengelolaan partai politik nilainya lebih besar dibandingkan dengan yang dikelola oleh yayasan murni yang tidak terkait dengan afiliasi politik saat itu. Bahwa saat itu bantuan pemerintah untuk anak didik berbeda-beda dilihat dari siapa pengelola sekolah atau madrasah;<br />
Rp 30 per anak di sekolah yang dikelola di bawah partai politik, Rp 20 per anak di sekolah yang dikelola di bawah yayasan, dan Rp 10 anak di sekolah yang dikelola di bawah yayasan milik pribadi atau dikelola secara perseorangan. Saat itulah kemudian banyak  madrasah-madrasah bergabung dengan NU.</p>
<p>Berbeda dengan keadaan di masa Orde Baru, sekitar tahun 1972. Karena tekanan rejim Orde Baru, bahwa sekolah atau madrasah tidak boleh bernaung di bawah partai politik, maka beberapa madrasah di Magelang membuat yayasan baru sebagai pengelola madrasah seperti YAJRI di Kecamatan Secang, YAKTI di Kecamatan Tegalrejo, YASPI di Kecamatn Pakis dan lain-lain. Beberapa fakta ini menarik sebagai bagian dari sikap warga NU di dalam mengelola lembaga pendidikan untuk selalu survive, bertahan dan berkembang dalam keadaan dan sistem kebijakan pemerintah yang berbeda-beda.</p>
<p>Semoga di era saat ini dan masa yang akan datang sekolah, madrasah dan lembaga pendidikan di bawah naungan LP. Ma&#8217;arif NU senantiasa berkembang dan terkelola secara profesional dan mampu kokoh berdiri seiring dengan zaman dan keadaan yang selalu berubah dan berbeda-beda. Amin.</p>
<p>Pangkat, 17 Juni 2020</p>
<p><i><b>Penulis adalah Wakil Katib Syuriah PCNU Kabupaten Magelang</b></i></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/menelisik-sejarah-madrasah-maarif-di-magelang/">Menelisik Sejarah Madrasah Ma&#8217;arif di Magelang</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Spirit Perang Badar dalam Menghadapi Pandemi</title>
		<link>https://suaranu.id/spirit-perang-badar-dalam-menghadapi-pandemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2020 21:16:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/05/10/spirit-perang-badar-dalam-menghadapi-pandemi/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abdul Aziz Idris 16 hari sudah berlalu, malam 17 menjadi hari yang istimewa bagi...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/spirit-perang-badar-dalam-menghadapi-pandemi/">Spirit Perang Badar dalam Menghadapi Pandemi</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2395474595" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>
<p>Oleh Abdul Aziz Idris</p>
</div>
<div></div>
<div>16 hari sudah berlalu, malam 17 menjadi hari yang istimewa bagi umat ini karena turunnya Alqur&#8217;an dan ini sudah menjadi hal yang maklum bagi semua. Namun ada peristiwa yang juga luar biasa terjadi pada diri Rosululloh SAW dan shahabatnya di tanggal ini. Yakni kejadian perang Badr yang terjadi di hari jum&#8217;ah pagi tanggal 17 romadhan tahun kedua dari hijrohnya Nabi Muhammad SAW, perang yang berlangsung tidak lama hanya sekitar dua jam ( zubair muhammad &#8216;afanah, Durus wa ibar sirotu khoiril basyar Muhammad SAW ) namun memberi nilai pelajaran tentang banyak hal.</div>
<div></div>
<div>
<div style="clear: both; text-align: center;"><a style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5jsEhYrBT2q5tKjhpwjnFTpw0W2hZEEnvCaCgZ1LPqkxtTNOZUCzchn7ZnY8_IZ-6K-4PHOViYH_hrSPVCXDnO4frsGJ5UPik6MhBqxy3KuQQPCubjbDv5W_lwhpHfXwR4SKvNrEgQQ83/s1600/1589145398407257-1.png" data-lbwps-width="720" data-lbwps-height="694" data-lbwps-srcsmall="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5jsEhYrBT2q5tKjhpwjnFTpw0W2hZEEnvCaCgZ1LPqkxtTNOZUCzchn7ZnY8_IZ-6K-4PHOViYH_hrSPVCXDnO4frsGJ5UPik6MhBqxy3KuQQPCubjbDv5W_lwhpHfXwR4SKvNrEgQQ83/s1600/1589145398407257-1.png"><br />
<img decoding="async" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5jsEhYrBT2q5tKjhpwjnFTpw0W2hZEEnvCaCgZ1LPqkxtTNOZUCzchn7ZnY8_IZ-6K-4PHOViYH_hrSPVCXDnO4frsGJ5UPik6MhBqxy3KuQQPCubjbDv5W_lwhpHfXwR4SKvNrEgQQ83/s1600/1589145398407257-1.png" width="400" border="0" /><br />
</a></div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div></div>
<div>Banyak hal menarik untuk dikaji dan kemudian menjadi pijakan sikap bagi umat untuk menghadapi satu persoalan yang menyangkut kepentingan banyak orang dan hajat hidup orang banyak. Beberapa hal tersebut adalah, :</div>
<div></div>
<div>1, sikap seorang pemimpin untuk selalu mengedepankan musyawaroh, dialog untuk menghadapi, dan mensikapi serta menyelesaikan masalah, sampai Rosululloh SAW mengatakan , :</div>
<div></div>
<div>اشيروا علىّ أيها الناس</div>
<div>&#8221; Berilah pendapat kalian kepadaku wahai manusia &#8220;</div>
<div>Ini diperkuat lagi oleh pernyataan sahabat Abu Huroiroh sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Turmudzi , :</div>
<div></div>
<div>مارأيت أحدا أكثر مشورة لأصحابه من رسول الله عليه الصلاة والسلام</div>
<div>&#8220;Tidaklah saya melihat seorangpun yang paling banyak bermusyawarah dengan sahabatnya daripada Rosululloh SAW &#8220;.</div>
<div>Dalam perang ini Rosululloh SAW tidak hanya sekali meminta pendapat dan masukan dari para sahabat, sementara Rosululloh SAW tidaklah lepas dari wahyu . Sebuah sikap pemimpin yang sebenarnya. Sehingga suatu keputusan akan menjadi sebuah sikap bersama dan tanpa banyak pertentangan apalagi polemik yang tidak bermanfaat. Menjadi keharusan bagi pemimpin negeri ini di setiap levelnya untuk tidak melakukan kebijakan apapun kecuali atas dasar musyawarah dan kebersamaan sehingga rakyat menjadi tenang dan bisa menjalani kehidupan secara normal meski di musim pandemi.</div>
<div></div>
<div>2, Mensikapi masalah dengan pendekatan material. Sekalipun di awal mula sikap para sahabat tidak dalam menghadapi perang , karena memang tidak ada gambaran perang di benak mereka saat itu, namun kemudian sebab material, ikhtiyar dhohir tetap menjadi prioritas Rosululloh SAW dan sahabat, sebagaimana ayat 60 surat Al-Anfal</div>
<div>وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ لَا تُظْلَمُونَ</div>
<div>&#8221; Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)&#8221;.</div>
<div></div>
<div>Dengan segenap kesungguhan meski dengan hasil persiapan yang seadanya Rosululloh tetap berikhiyar secara dhohir menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal, pelajaran yang diambil bagi kita saat ini dalam menghadapi pandemi ini tentu dengan melaksanakan anjuran, himbauan dari pemerintah terkait dengan cuci tangan, berpola hidup sehat, tetap di rumah dan tidak keluar, menghindari kerumunan massa, menjaga jarak secara fisik dengan orang lain. Semua sebagai upaya memutus pergerakan virus ini yang meluas.</div>
<div></div>
<div>3, Mencari penyelesaian  secara maknawi.</div>
<div></div>
<div>Saat setelah Rosulilloh SAW melakukan persiapan dhohir secara maksimal malamnya Rosululloh dengan sahabat dekatnya Abu Bakar RA memperbanyak berdoa , bertadharuk kepada Alloh SWT untuk ummatnya sampai sampai sahabat Abu Bakar memohon kepada Rosululloh untuk menghadapi dengan yakin akan janji Alloh SWT. Namun Rosululloh SAW meski yakin pula dengan pertolongan Alloh mengajarkan kepada ummatnya akan satu pelajaran terpenting bahwa berikhtiyar secara dhohir saja tidak cukup, tetapi harus kembali menyerahkan segala persoalan kepada Alloh SWT. Sebegitu juga seharusnya sikap kita saat ini menghadapi pandemi ini, sekalipun mungkin beberapa masjid ditutup tetapi tetaplah yakin, dan optimis bahwa pintu doa senantiasa terbuka. Banyak kearifan dari doa doa yang diajarkan para Kyai, Ulama, perbanyak doa terlebih di bulan mulia ini. Dan yakin bahwa semua akan berakhir dengan penuh makna dan pelajaran bagi umat manusia.</div>
<div></div>
<div>Terakhir dengan berkah bulan suci ini dan dengan washilah kepada Para sahabat Badr semoga Alloh SWT beri ketenangan dan pertolongan bagi hamba-Nya, umat manusia dalam menghadapi pandemi ini. Dan segera mengangkat pandemi ini.</div>
<div></div>
<div>وختمتها متوسلا ببقية الـ</div>
<div>                                    أصحاب إجمالا وسادات خير</div>
<div>Pangkat,</div>
<div>17 Ramadhan 1441</div>
<div>10 Mei 2020</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/spirit-perang-badar-dalam-menghadapi-pandemi/">Spirit Perang Badar dalam Menghadapi Pandemi</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NU Dituduh Penjilat Penguasa Ketika Menyelamatkan Negara dari Cengkeraman PKI</title>
		<link>https://suaranu.id/nu-dituduh-penjilat-penguasa-ketika-menyelamatkan-negara-dari-cengkeraman-pki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2020 17:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/03/10/nu-dituduh-penjilat-penguasa-ketika-menyelamatkan-negara-dari-cengkeraman-pki/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu NU mengadakan Muktamar ke-20 di Medan Desember 1956 lalu, daerah itu sedang bergolak akibat...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/nu-dituduh-penjilat-penguasa-ketika-menyelamatkan-negara-dari-cengkeraman-pki/">NU Dituduh Penjilat Penguasa Ketika Menyelamatkan Negara dari Cengkeraman PKI</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3349606568" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Sewaktu NU mengadakan Muktamar ke-20 di Medan Desember 1956 lalu, daerah itu sedang bergolak akibat tindakan yang dilakukan oleh Dewan Gajah pimpinan Kol. Simbolon. Di Sumatera Barat, Dewan Banteng pimpinan Kol. Ahmad Husein juga melakukan tindakan sama, sehingga Muktamar berlangsung di bawah dentuman meriam dan tekanan bayonet. Untungnya semua hambatan bisa diatasi. Muktamar selesai dengan lancar, meski beberapa peserta termasuk Idham Cholid dan Djamaluddin Malik  sempat tertahan.</div>
<div>
<div></div>
<div>Selesai Muktamar, NU dikejutkan lagi dengan rencana Masyumi untuk menarik para menterinya di kabinet. NU berusaha keras membujuknya agar Masyumi tetap bertahan di kabinet, sebab kalau posisi itu ditinggalkan, maka akan diduduki PKI. Nasehat NU tidak digubris. Masyumi tetap keukeuh menarik diri dari kabinet sehingga mengakibatkan Ali-&lt;&gt;Rum-Idham  bubar.</div>
<div></div>
<div>Mengingat keadaan negara waktu itu sedang genting, maka Presiden Soekarno pada 14 Maret 1957 mengumumkan negara dalam keadaan bahaya (SOB). Padahal saat itu sangat dibutuhkan keamanan mengingat para wakil rakyat di Konstituante sedang giatnya menyusun Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Dengan demikian, kehidupa sosial politik menjadi terganggu. Seluruh peraturan normal tidak berjalan lagi dalam mengatur kehidupan Negara.</div>
<div></div>
<div>Persis tengah malam  pada 15 Februari 1958, Kiai Wahab terkejut bukan main mendengar Masyumi bergabung dengan pemberontak Dewan Banteng dan Dewan Gajah yang memproklamirkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tanpa menunggu waktu lama, Rais Aam PBNU itu segera mengutus santrinya untuk memanggil Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid dan yang lainnya untuk melakukan koordinasi.</div>
<div></div>
<div>Ketika mendapat panggilan dari Rois Aam, tanpa  berpikir panjang Idham Cholid segera bangun dan bergegas berangkat. Tentu saja isterinya kaget di tengah malam seperti itu sang kiai hendak pergi.</div>
<div>Idham hanya bilang pada isterinya, “saya sedang mendapatkan tugas dari Pangti (Panglima Tertinggi),” demikian Idham biasa menyebut Rais Aam. Sang isteri segera mafhum terhadap watak Pangti-NU yang cerdik dan tak kenal lelah itu sehingga membiarkan suaminya pergi.</div>
<div></div>
<div>Ketika sampai dirumahnya, ternyata di sana telah berkumpul beberapa orang. Kiai Wahab segera menyambut Idham Chalid dan berkata, “Celaka Masyumi melakukan pemberontakan dan membentuk pemerintahan sendiri dengan cara kekerasan dengan memproklamirkan PRRI di Sumatera Barat”</div>
<div></div>
<div>“Wah ini sudah jelas bughot, tidak bisa dibenarkan, lalu apa yang mesti kita lakukan Kiai?” tanya Idham Cholid</div>
<div></div>
<div>“Kita harus segera membuat statement (pernyataan/sikap), agar tidak didahului oleh kelompok Syuyuiyin(PKI), karena PKI akan memanfaatkan peristiwa ini untuk menggebuk Masyumi dan umat Islam semuanya. Karena itu, kita mengeluarkan pernyataan sikap ini dengan dua tujuan. Pertama, agar PKI tahu bahwa tidak semua umat Islam setuju dengan pemberontakan PRRI. Kedua, agar dunia internasional jangan sampai menganggap bahwa pemerintah pusat sudah sepenuhnya dikuasasi PKI, sebagaimana dipropagandakan Masyumi dan PSI untuk menggalang dukungan internasional” tandas Kiai Wahab dengan yakin.</div>
<div></div>
<div>“Kapan statement kita keluarkan” tanya Kiai Idham</div>
<div></div>
<div>“Malam ini kita rapat untuk menyusun draftnya, besok pagi sudah harus diumumkan.” Jawab kiai Wahab tegas, layaknya seorang Pangti.</div>
<div></div>
<div>Walaupun NU selalu bergandengan tangan dengan Masyumi, tetapi soal pemberontakannya tetap tidak setuju. Bagi NU, Masyumi merupakan mitra penting dalam menghadapi PKI. Karena itu ketika Masyumi dibubarkan tahun 1960, akibat pemberontakan PRRI itu, NU merasa sangat kehilangan mitra perjuangan, sehingga NU berjuang sendiri melawan PKI dalam Kabinet dan Nasakom.</div>
<div></div>
<div>Tetapi sejarawan berbicara lain. NU dituduh ikut mendorong pembubaran Masyumi, kemudian dituduh oportunis karena ikut masuk dalam pemerintahan Bung Karno. Padahal di sana NU tidak hanya bertopang dagu menikmati kekuasaan, melainkan berjuang sendirian menyelamatkan Islam, menyelamatkan negara dan termasuk menyelamatkan Bung Karno dari cengkeraman PKI.</div>
<div></div>
<div><b>Penulis: Abdul Mun’im DZ</b></div>
</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/nu-dituduh-penjilat-penguasa-ketika-menyelamatkan-negara-dari-cengkeraman-pki/">NU Dituduh Penjilat Penguasa Ketika Menyelamatkan Negara dari Cengkeraman PKI</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
