<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hikmah Archives - Suara NU</title>
	<atom:link href="https://suaranu.id/category/hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaranu.id/category/hikmah/</link>
	<description>Suara Nahdliyin Magelang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Dec 2025 11:10:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://suaranu.id/storage/2025/03/cropped-snu1-55x55.png</url>
	<title>Hikmah Archives - Suara NU</title>
	<link>https://suaranu.id/category/hikmah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Islah di Lirboyo: Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Sepakat Gelar Muktamar Bersama Demi Keutuhan NU</title>
		<link>https://suaranu.id/islah-di-lirboyo-rais-aam-dan-ketua-umum-pbnu-sepakat-gelar-muktamar-bersama-demi-keutuhan-nu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2025 11:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[islah]]></category>
		<category><![CDATA[lirboyo]]></category>
		<category><![CDATA[Rais Aam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=2336</guid>

					<description><![CDATA[<p>KEDIRI, Suara NU – Momentum bersejarah sekaligus menyejukkan terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Rais...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/islah-di-lirboyo-rais-aam-dan-ketua-umum-pbnu-sepakat-gelar-muktamar-bersama-demi-keutuhan-nu/">Islah di Lirboyo: Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Sepakat Gelar Muktamar Bersama Demi Keutuhan NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3162463046" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p><strong>KEDIRI, Suara NU</strong> – Momentum bersejarah sekaligus menyejukkan terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sepakat untuk mengakhiri dinamika internal dan melangkah bersama menuju pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.</p>



<p>​Pertemuan tatap muka yang berlangsung penuh kekeluargaan ini menjadi tanda tercapainya <strong>islah</strong> (rekonsiliasi) di tingkat pucuk pimpinan tertinggi organisasi. Kedua tokoh sentral tersebut sepakat bahwa kepentingan jam&#8217;iyyah dan keutuhan warga Nahdliyin berada di atas segalanya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">​Kesepakatan di Bawah Restu Ulama Sepuh</h3>



<p>​Keputusan besar ini diambil dalam pertemuan gabungan jajaran Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah. Kehadiran Kiai Miftach dan Gus Yahya yang duduk berdampingan di Lirboyo memberikan sinyal kuat bahwa dualisme pandangan yang sempat berkembang telah selesai.</p>



<p>​&#8221;Alhamdulillah, islah telah tercapai. Rais Aam dan Ketua Umum telah bersepakat untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 secara bersama-sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,&#8221; ungkap sumber resmi dalam pertemuan tersebut.</p>



<p>​Kesepakatan ini juga merupakan respons langsung atas dawuh dan aspirasi para kiai sepuh serta Mustasyar yang menginginkan PBNU tetap menjadi pilar stabilitas bagi umat dan bangsa.</p>



<h3 class="wp-block-heading">​Percepatan Muktamar ke-35</h3>



<p>​Sekretaris Jenderal PBNU, H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menegaskan bahwa hasil dari pertemuan di Lirboyo ini memerintahkan organisasi untuk segera melakukan langkah-langkah teknis persiapan Muktamar.</p>



<p>​&#8221;Ini adalah perintah dari para kiai, Mustasyar, dan jajaran Syuriyah. Muktamar akan digelar secepatnya untuk menjaga mandat organisasi agar tetap berjalan sesuai jalurnya (on the track),&#8221; tegas Gus Ipul.</p>



<p>​PBNU akan segera menindaklanjuti kesepakatan Lirboyo ini dengan membentuk panitia penyelenggara dan menentukan waktu serta tempat pelaksanaan melalui rapat pleno yang akan datang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">​Pesan Persatuan untuk Nahdliyin</h3>



<p>​Momen islah antara Kiai Miftach dan Gus Yahya ini disambut haru oleh banyak pihak. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme musyawarah dan penghormatan terhadap ulama sepuh di Pesantren Lirboyo mampu menyelesaikan segala hambatan komunikasi di internal PBNU.</p>



<p>​Dengan tercapainya kesepakatan ini, Muktamar ke-35 tidak lagi hanya dipandang sebagai agenda rutin lima tahunan, melainkan sebagai simbol persatuan dan kebangkitan kembali kekuatan struktural NU dalam melayani umat dan menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.</p>



<p>​<strong>Penulis:</strong> Redaksi Suara NU</p>



<p><strong>Editor:</strong> SHAAR</p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/islah-di-lirboyo-rais-aam-dan-ketua-umum-pbnu-sepakat-gelar-muktamar-bersama-demi-keutuhan-nu/">Islah di Lirboyo: Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Sepakat Gelar Muktamar Bersama Demi Keutuhan NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Doa Lailatul Qodar yang Dianjurkan Nabi Adalah Meminta Afwun (maaf) Bukan Maghfiroh (Ampunan)?</title>
		<link>https://suaranu.id/mengapa-doa-lailatul-qodar-yang-dianjurkan-nabi-adalah-meminta-afwun-maaf-bukan-maghfiroh-ampunan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2025 05:46:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan 1446H]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=1786</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu saat, Aisyah, istri kesayangan Nabi bertanya tentang doa yang sebaiknya dibaca di (malam) lailatul...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/mengapa-doa-lailatul-qodar-yang-dianjurkan-nabi-adalah-meminta-afwun-maaf-bukan-maghfiroh-ampunan/">Mengapa Doa Lailatul Qodar yang Dianjurkan Nabi Adalah Meminta Afwun (maaf) Bukan Maghfiroh (Ampunan)?</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2268051774" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p>Suatu saat, Aisyah, istri kesayangan Nabi bertanya tentang doa yang sebaiknya dibaca di (malam) lailatul qodar. Jawaban Nabi disebutkan dalam hadis riwayat At-Tirmidzi berikut ini,</p>
<p>سنن الترمذى &#8211; مكنز (13/ 6، بترقيم الشاملة آليا)<br />
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »</p>
<p>“Dari Aisyah, ia berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui di malam apa lailatul qodar itu, apa yang aku ucapkan di malam tersebut?’ Beliau menjawab, ‘ucapkanlah ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIM TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNI’ (ya Allah, sesungguhnya engkau maha pemaaf nan mulia yang suka memaafkan, maka maafkanlah aku)”</p>
<p>Pertanyaannya, “Mengapa doa yang dianjurkan adalah فَاعْفُ عَنِّى (maafkan aku) bukan فاغفر لي (ampunilah aku)?”</p>
<p>Jawaban tepatnya tentu saja hanya Allah yang tahu.</p>
<p>Namun, jika dikaitkan dengan nash-nash yang lain, barangkali hal itu terkait dengan dua hal,</p>
<p>Pertama: Perbedaan makna ‘afwun (العفو) dengan maghfiroh (المغفرة)<br />
Kedua : Keistimewaan lailatul qodar dengan malam-malam lainnya</p>
<p>Makna ‘afwun memang memiliki tekanan makna yang sedikit berbeda dengan maghfiroh. ‘afwun menonjolkan makna MENGHAPUS sedangkan maghfiroh menonjolkan makna MENUTUP.</p>
<p>Jadi, ketika kita meminta ‘afwun kepada Allah, hal itu bermakna kita meminta penghapusan dosa sampai hilang tak berbekas sehingga Allah batal menghukum.</p>
<p>Ketika kita meminta maghfiroh kepada Allah, hal itu bermakna kita meminta agar ditutup dosa-dosa kita, sehingga selamat dari terbongkarnya aib di dunia, selamat dari dipermalukan dihari penghisaban, dan penggantian dosa dengan pahala.</p>
<p>Meminta ‘afwun pada lailatul qodar terasa lebih relevan jika dikaitkan dengan keistemewaan lailatul qodar sebagai malam penentuan takdir.</p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa malam lailatul qodar adalah malam ditentukannya takdir, rizki dan ajal sampai setahun ke depan. An-Nawawi berkata,</p>
<p>شرح النووي على مسلم (8/ 57)<br />
قَالَ الْعُلَمَاءُ وَسُمِّيَتْ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لِمَا يُكْتَبُ فِيهَا لِلْمَلَائِكَةِ مِنَ الْأَقْدَارِ وَالْأَرْزَاقِ وَالْآجَالِ الَّتِي تَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ كَقَوْلِهِ تعالى فيها يفرق كل أمر حكيم وَقَوْلِهِ تَعَالَى تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ ربهم من كل أمر وَمَعْنَاهُ يُظْهِرُ لِلْمَلَائِكَةِ مَا سَيَكُونُ فِيهَا وَيَأْمُرُهُمْ بِفِعْلِ مَا هُوَ مِنْ وَظِيفَتِهِمْ</p>
<p>“Para ulama berkata, dikatakan lailatul qodar karena pada malam itu ditulis takdir-takdir, rezeki-rezeki dan ajal-ajal untuk (dibawa) para malaikat yang akan terjadi pada tahun tersebut (setahun yang akan datang) sebagaimana (diisyaratkan) dalam firman Allah ‘FIHA YUFROQU KULLU AMRIN HAKIM’ (di malam lailatul qodar itu ditetapkan semua perkara yang sempurna), dan firman Allah, ‘TANAZZALUL MALAIKATU WARRUHU FIHA BI IDZNI ROBBIHIM MIN KULLI AMRIN (di malam lailatul qodar itu para malaikat dan Jibril turun dengan izin Rabbnya untuk menjalankan setiap perintah)’. Maknanya, Allah menampakkan kepada para malaikat di malam itu perkara yang akan terjadi dan memerintahkan mereka untuk melakukan apa yang menjadi tugas mereka.”</p>
<p>Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa musibah-musibah dan keburukan itu adalah disebabkan dosa dan maksiat yang dilakukan seorang hamba. Allah berfirman,</p>
<p>{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]</p>
<p>“Musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan tangan kalian (sendiri)-yakni dosa-dosa dan maksiat- dan Allah memaafkan banyak (dosa-sehingga tidak dihukum-)”</p>
<p>Karena itu,</p>
<p>Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau ditakdirkan menjadi bangkrut<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau dihukum dengan penyakit kanker<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau ditakdirkan akan mengalami kecelakaan<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau ditakdirkan sulit punya anak<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau ditakdirkan susah menikah</p>
<p>Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau menjadi berat beribadah<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau pikiranmu hanya disibukkan urusan dunia<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau dibenci orang-orang salih<br />
Bisa jadi karena dosamu, maka ditahun depan engkau terhijab dari ilmu-ilmu yang bermanfaat</p>
<p>Dan seterusnya..</p>
<p>Maka ketika seorang hamba meminta ‘afwun, hal itu bermakna dia meminta PENGHAPUSAN DOSA sampai hilang tak berbekas, sehingga Allah tidak menakdirkan musibah-musibah dan keburukan kepada hamba tersebut.</p>
<p>Betapa agungnya doa ini !</p>
<p>Seolah-olah semua warna, ritme, irama, kejadian, anugerah, musibah, kebahagiaan, dan kesengsaraan hidup yang akan kita alami setahun ke depan, semuanya tergantung pada doa yang kita baca pada Lailatul Qodar tersebut!</p>
<p>اللهم وفقنا للخير</p>
<p>Wollohu a&#8217;lam</p>
<p>Kyai Ali Makhrus</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/mengapa-doa-lailatul-qodar-yang-dianjurkan-nabi-adalah-meminta-afwun-maaf-bukan-maghfiroh-ampunan/">Mengapa Doa Lailatul Qodar yang Dianjurkan Nabi Adalah Meminta Afwun (maaf) Bukan Maghfiroh (Ampunan)?</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pandangan-Pandangan Al Imam Abu Hasan Al-Syadzali Dalam Kitab Manakib Karya Al-&#8216;Allamah KH Dalhar Watucongol (Bag.1)</title>
		<link>https://suaranu.id/pandangan-pandangan-al-imam-abu-hasan-al-syadzali-dalam-kitab-manakib-karya-al-allamah-kh-dalhar-watucongol-bag-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 May 2023 01:16:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2023/05/08/pandangan-pandangan-al-imam-abu-hasan-al-syadzali-dalam-kitab-manakib-karya-al-allamah-kh-dalhar-watucongol-bag-1/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh KH Abdul Azis Idris (Wakil Katib Syuriyah PCNU Kab. Magelang) Sebagai mursyid thoriqoh Syadzillah,...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/pandangan-pandangan-al-imam-abu-hasan-al-syadzali-dalam-kitab-manakib-karya-al-allamah-kh-dalhar-watucongol-bag-1/">Pandangan-Pandangan Al Imam Abu Hasan Al-Syadzali Dalam Kitab Manakib Karya Al-&#8216;Allamah KH Dalhar Watucongol (Bag.1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2180456617" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p style="text-align: justify;"><b><i>Oleh KH Abdul Azis Idris (Wakil Katib Syuriyah PCNU Kab. Magelang)</i></b></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai mursyid thoriqoh Syadzillah, KH.Dalhar Watucongol bukan saja membimbing jamaah dengan dzikir dan aurod Syadzillah semata. Namun juga membimbing secara literasi dengan menyusun kitab Manakib ( sejenis biografi, lebih spesifik kepada hal-hal yang istimewa) Al-Imam Abu Hasan Al-Syadzali. Ini penting karena tradisi jamaah thoriqoh di Indonesia lebih cenderung kepada pemahaman dan pengamalan secara tutur ( dawuh-dawuh) dan laku Mursyid yang kemudian ditiru dan diamalkan. Sekalipun pola seperti ini sekalipun telah menghantarkan para penganut thoriqoh pada makom Ihsan ( kedudukan dekat dengan Alloh ) tetapi bagi sebagian kalangan menjadi sulit untuk dikaji dari sisi fiqh, ketika satu dawuh, atau amalan ternyata tidak disebut dalam kitab-kitab primer fiqh. dan bahkan memunculkan pemahaman yang bisa berbeda dengan para Mursyid sebelumnya.</p>
<p>Menjadi menarik untuk dikaji bahwa kitab Manakib ini. KH.Dalhar menyebut dawuh-dawuh Al-Imam Abu Hasan, yang sepertinya sudah benar-benar dipilih oleh KH.Dalhar bisa mudah difahami dan menjadi pedoman rujukan dalam mensikapi pelbagai persoalan. Setidaknya ada beberapa hal yang beliau kutip, yakni :<br />
1, terkait toriqoh dan mengikutinya, seperti :</p>
<p style="text-align: justify;">لا تختر من الأمر شيأ، واختر إن لا يختار<br />
&#8220;Jangan pernah memilih sesuatu, pilihlah terhadap perkara yang tidak dipilih&#8221;.<br />
Sebuah bentuk dawuh tentang penting kepasrahan totalitas seorang hamba terhadap hal-hal didunia ini, menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Alloh sekalipun dalam benak seorang hamba hal tersebut bukan merupakan pilihannya. Karena bagi penempuh jalan toriqoh termasuk sebuah kebaikan adalah ridlo dengan ketentuan dari Alloh, sebaliknya termasuk sebuah sikap yang tercela bahkan dalam pandangan al-Imam Abu Hasan Al-Syadzali bisa membatalkan amal kebaikan adalah ketidaksukaan seorang hamba terhadap ketentuan ( qodlo&#8217; ) dari Alloh SWT.</p>
<p>Penempuh toriqoh adalah orang-orang yang sudah sepenuhnya menghadap kepada Alloh, maka beliau mengutip dawuh Al-Imam ketika seorang penganut toriqoh sedang mendapati rasa berat untuk berdzikir, berkata-kata yang kurang bermanfaat, anggota tubuh terbuai syahwat, tertutupnya pintu tafakur dalam kemaslahatan maka Al-Imam memberi isyarat itu adalah bentuk dosa, karena ada kehendak munafik dalam pribadinya. Dan tiada jalan membersihkan hal tersebut kecuali dengan taubat, memperbaiki diri, berpegang teguh dengan Alloh, ikhlas dalam laku agama. Sebagaimana ayat :</p>
<p style="text-align: justify;">إِلَّا ٱلَّذِینَ تَابُوا۟ وَأَصۡلَحُوا۟ وَٱعۡتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخۡلَصُوا۟ دِینَهُمۡ لِلَّهِ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَۖ</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman &#8220;. ( QS. Al-nisa :146 ). Pada ayat ini beliau memberi dawuh kenapa Alloh tidak mengatakan من المؤمنين tetapi mengatakan فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَۖ tentu perlu perenungan.<br />
<i><br />
Ditulis dalam rangka Haul Al-Maghfurlah KH.Dalhar Watucongol<br />
Senin, 17 syawwal 1444 H / 8 Mei 2023</i></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/pandangan-pandangan-al-imam-abu-hasan-al-syadzali-dalam-kitab-manakib-karya-al-allamah-kh-dalhar-watucongol-bag-1/">Pandangan-Pandangan Al Imam Abu Hasan Al-Syadzali Dalam Kitab Manakib Karya Al-&#8216;Allamah KH Dalhar Watucongol (Bag.1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Qanaah Lahirkan Kebahagiaan</title>
		<link>https://suaranu.id/qanaah-lahirkan-kebahagiaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Mar 2023 01:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2023/03/09/qanaah-lahirkan-kebahagiaan/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kebahagiaan bukanlah diukur dari banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki oleh seseorang, kebahagiaan bukanlah diukur...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/qanaah-lahirkan-kebahagiaan/">Qanaah Lahirkan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2711400274" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p>Kebahagiaan bukanlah diukur dari banyak atau sedikitnya harta yang<br />
dimiliki oleh seseorang, kebahagiaan bukanlah diukur dari rendah<br />
tingginya jabatan yang disandang oleh seseorang, kebahagiaan adalah<br />
suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan<br />
kedamaian.</p>
<div>
<div>Jiwa yang terbebas dari penghambaan kepada dunia, jiwa yang tidak pernah<br />
diperbudak oleh pernik-pernik dunia, dan jiwa yang selalu qanaah<br />
menerima qadla dan qadar-Nya serta hati yang ikhlas dalam melakukan<br />
kebajikan akan melahirkan ketenangan jiwa.</div>
</div>
<p>Hadits nabi dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<h3 style="text-align: right;">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ</h3>
<p>Artinya:<br />
<em>Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi<br />
rezeki yang cukup, dan qanaah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut</em>. (HR Ibnu Majah)</p>
<p>Penulis: <em>H Ahmad Niam Syukri Masruri</em></p>
<p><i>diposting ulang dari jateng.nu.or.id</i></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/qanaah-lahirkan-kebahagiaan/">Qanaah Lahirkan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maaf Memaafkan Dalam Hari Raya Idul Fitri</title>
		<link>https://suaranu.id/maaf-memaafkan-dalam-hari-raya-idul-fitri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 May 2022 01:51:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2022/05/04/maaf-memaafkan-dalam-hari-raya-idul-fitri/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : KH. DR. Abdul Ghofur Maimoen MA Salah satu sikap yang sangat terpuji dan...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/maaf-memaafkan-dalam-hari-raya-idul-fitri/">Maaf Memaafkan Dalam Hari Raya Idul Fitri</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1521060996" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p style="text-align: left;"><i><b>Oleh : KH. DR. Abdul Ghofur Maimoen MA </b></i></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sikap yang sangat terpuji dan amat dibutuhkan oleh samua kita adalah gampang memaafkan. Ia juga adalah cermin kepribadian diri, bahwa kita terbiasa melihat hal-hal positif dari orang lain dan mudah melupakan kesalahannya; menyukai kedamaian; tidak menyukai balas dendam; tidak merasa bersih-suci dari kesalahan; dan piawai mengelola emosi. Sebelum berhubungan dengan orang lain, memaafkan sejatinya berkaitan erat dengan diri sendiri. Gampang memaafkan identik dengan kedamaian hidup, terhindar dari stress, fokus melihat hal-hal positif dalam kehidupan, kedewasaan serta kematangan pribadi, dan tentu saja keinginan mendapatkan ampunan dari Allah, Sang Pemilik Segalanya.</p>
<p style="text-align: left;">Berbagai cerita tentang memaafkan tersebar dalam literatur kita. Beberapa di antaranya sebagai berikut:</p>
<p>Ibn Mas’ud ra. meriwayatkan, “Sepertinya saya melihat Baginda Nabi Muhammad Saw. saat beliau bercerita tentang seorang nabi yang dipukuli kaumnya hingga berdarah. Ia mengusap darah dari wajahnya dan berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku. Mereka sungguh tidak tahu.”[1] Sebagian syarah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. sedang menceritakan dirinya sendiri.[2]</p>
<p>Anas bercerita, Saya kala itu sedang berjalan bersama Rasulullah Saw. Beliau mengenakan “burdu” (kain bergaris yang diselimutkan di badan) made in Najran yang kasar pinggirnya. Tetiba, seorang badui (a’rābiyy) menyusulnya dan menarik dengan keras burdu tersebut hingga saya melihat bekasnya di leher beliau. “Wahai Muhammad, berilah diriku sebagian dari harta Allah yang ada padamu!” kata Si Badui. Rasulullah menengok kepadanya dan tertawa. Beliau lalu memerintahkan untuk memberinya.[3]</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud sedang duduk di pasar membeli sesuatu. Ia hendak mengambil dirham yang ia simpan di serban. Akan tetapi, ikatan di serban itu telah terlepas. “Saat saya suduk, (dirham) itu masih bersamaku,” kata beliau. Orang-orang menyumpahi dia (si pencuri). “Semoga Allah memotong tangan si pencuri!” kata mereka. Tapi Abdullah bin Mas’ud justru berdoa lain, “Duhai Allah, jika ia mencuri karena didorong oleh kebutuhannya maka berkahilah dia atas hajatnya ini, dan jika ia melakukan itu karena keberaniannya melakukan dosa maka semoga itu adalah akhir dari dosa-dosanya.”[4]</p>
<p>Ali Zainal Abidin bin Husain (w. 95 H.). berjalan menuju masjid. Di tengah jalan, seorang lelaki memakinya. Para pembantunya bergegas hendak memukulinya, akan tetapi beliau menahan mereka dan berkata, “Tahan diri kamu semua dari (menyakiti) dia!” Lalu, beliau menengok kepada laki-laki tersebut dan berkata, “Wahai kamu, (keburukan) saya lebih dari dari apa yang kamu katakan. Apa yang tak kamu ketahui tentang (keburukan) diriku lebih banyak dari apa yang kamu ketahui. Jika kamu menginginkannya, saya akan menceritakannya kepadamu.” Atas kemuliaan budi pekertinya ini, lekaki itu merasa sangat malu. Lalu, Zainal Abidin memerintahkan untuk memberinya seribu dirham. Sambil berlalu, lelaki itu pun berkata, “Saya bersaksi bahwa pemuda ini adalah anak (keturunan) Rasulullah Saw.[5]</p>
<p>Sa’īd bin Masrūq menuturkan, Ar Rabī’ bin Khuṡaim (w. sebelum tahun 65 H.) kepalanya terluka karena tertimpa batu. Ia mengusap darah dari mukanya dan berkata, “Duhai Allah, ampuni dia. Dia tak sengaja.”[6]</p>
<p>Imam Al Hakim meriwayatkan dari Anas bin Malik (dengan sanad yang dhaif), ia mengatakan, Saat itu Rasulullah Saw. sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga kelihatan gigi serinya. “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah?” tanya Umar. Nabi Saw. menjawab, Dua lelaki dari umatku berlutut di depan Tuhan Yang Mahaagung. Yang satu menuntut kepada yang lainnya. Si mazlum meminta haknya atas kazaliman yang telah dilakukan terhadap dirinya. Kata Allah kepada si zalim, “Berikanlah hak kezaliman kepada saudaramu!” Ia menjawab, “Wahai Tuhanku, tidak ada sedikitpun kebaikanku yang tersisa untuk saya berikan kepadanya ..” Maka, Allah berkata kepada si penuntut, “Apa yang akan kamu lakukan dengan saudaramu, sementara kebaikannya tak sedikitpun yang tersisa?” Ia menjawab, “Wahai Tuhanku, jika demikian maka biarkan dia memanggul sebagian dosa-dosaku!”.</p>
<p>Rasululllah Saw. pun menangis atas peristiwa ini. Namun, Allah kemudian berkata kepada si zalim, “Tegakkan penglihatanmu baik-baik. Lihatlah ke dalam sorga!” Ia pun menegakkan penglihatannya. “Wahai Tuhanku, saya melihat kota-kota dari perak dan istana-istana dari emas. Semuanya terselimuti oleh mutiara. Untuk siapakah itu semua? Nabi mana, siddiq mana, dan syahid mana yang berhak atasnya?” Allah SWT. berkata, “Ia milik orang yang memberikan harganya!” “Wahai Tuhanku, siapa yang memiliki harganya itu?” Allah SWT. menjawab, “Kamu memilikinya!” “Dengan apa?” tanya dia. “Dengan memberi ampunan kepada saudaramu!” jawab Allah SWT. “Wahai Tuhanku, sungguh saya telah mengampuninya!” kata dia. Allah pun berkata, “Pegang tangan saudaramu dan masukkan dia ke dalam sorga!”.[7]</p>
<p>Hadis ini, meski dhaif, masyhur dikutip oleh para ulama. Sepertinya mereka—dan tentu saja kita semua—sangat berharap agar peristiwa seperti ini terjadi kelak sebagai cara agar banyak orang baik yang kesulitan mendapatkan permaafan dapat masuk surga. Tentu saja tidak ada maksud sedikitpun menganggap enteng hak-hak adami. Wallāhu a’lam.</p>
<p><i><br />
[1] Al Imām Al Bukhāriyy, Al Jāmi’ Aṣ Ṣaḥīḥ, jilid 4, hal. 175; Al Imām Muslim, Al Musnad Aṣ Ṣaḥīḥ, jilid 3, hal. 1417.<br />
[2] Badr ad Dīn al ‘Ayniyy, ‘Umdah Al Qārī Syarḥ Aṣ Ṣaḥīḥ Al Bukhāriyy, jilid 24, hal. 84; Syihāb ad Dīn Al Qasṭalāniyy, Irsyād as Sārī, jilid 10, hal. 83—84.<br />
[3] Al Imām Al Bukhāriyy, Al Jāmi’ Aṣ Ṣaḥīḥ, jilid 4, hal. 94; Al Imām Muslim, Al Musnad Aṣ Ṣaḥīḥ, jilid 2, hal. 730.<br />
[4] Al Imām Al Ġazāliyy, Iḥyā` Ulūm ad Dīn, jilid 3, hal. 184.<br />
[5] Al Imām Al Ġazāliyy, At Tibr al Masbūk fī Naṣīḥat al Mulūk, hal. 25.<br />
[6] Al Imām Al Bayhaqiyy, Syu’ab al Īmān, jilid 10, hal. 425.<br />
[7] Al Imām Al Ḥākim, Al Mustadrak ‘alā aṣ Ṣaḥīḥayn, jilid 4, hal. 620; Al Imām Al Būṣīrī, Itḥāf al Khīrah al Maharah, jilid 8, hal. 203; Al Imām Al Bayhaqiyy, Al Ba’ṡ wa an Nusyūr, hal. 298.</i></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/maaf-memaafkan-dalam-hari-raya-idul-fitri/">Maaf Memaafkan Dalam Hari Raya Idul Fitri</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Asa, Kita Pendosa dan Rahasia Takdir Allah</title>
		<link>https://suaranu.id/menjaga-asa-kita-pendosa-dan-rahasia-takdir-allah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2021 14:57:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/10/15/menjaga-asa-kita-pendosa-dan-rahasia-takdir-allah/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu alasan kenapa kita tidak boleh sombong kepada para pendosa adalah karena kita tidak...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/menjaga-asa-kita-pendosa-dan-rahasia-takdir-allah/">Menjaga Asa, Kita Pendosa dan Rahasia Takdir Allah</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1200011417" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Salah satu alasan kenapa kita tidak boleh sombong kepada para pendosa adalah karena kita tidak tahu akan seperti apa masa depan dia. Boleh jadi, beberapa waktu ke depan dia justru jauh lebih mulia daripada kita. Masa depan adalah rahasia Allah SWT., tak satupun yang tahu kecuali Dia sendiri. Dalam hal ini, Syekh Muhammad Ramaḍān Al Būṭī dalam Syarḥ Al Ḥikam mengutip QS. Asy Syūrā/42: 13:</div>
<div></div>
<div>الله يجتبي إليه من يشاء ويهدي إليه من ينيب</div>
<div></div>
<div>“Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”</div>
<div></div>
<div>Pada penggalan pertama, Allah SWT. menjelaskan mengenai sejumlah orang yang Dia kehendaki untuk menjadi orang-orang pilihannya. Tidak ada yang dapat mendikte kehendak Tuhan. Boleh jadi, Dia justru memilih dari kalangan para pendosa. Sementara penggalan kedua berbicara mengenai apa yang lazim terjadi, yakni Allah WT. akan memberi petunjuk kepada mereka yang berkeinginan kembali kepada-Nya.</div>
<div></div>
<div>Hal ini juga berkaitan dengan kewajiban—terutama kepada para ulama—agar terus memberi harapan, bahwa siapapun bisa menjadi kekasih Allah, termasuk para pendosa. Jangan ada di antara kita yang jatuh dalam kubangan putus asa. Tanamkan terus menerus pada diri kita, bahwa kita semua bisa menjadi orang baik-baik.</div>
<div></div>
<div>==</div>
<div></div>
<div>Abdullah bin Maslamah al Qa’nabī adalah seorang pemuda “gila” yang sering mabuk. Ia acap dikelilingi oleh muda-muda (amrad). Suatu hari ia mengundang mereka. Ia pun duduk menunggu di pintu. Syu’bah bin Al Ḥajjāj dengan menunggang keledai lewat di depannya. Al Qa’nabī berupaya memberhentikannya. Santri-santri di belakang Syu,bah berlarian menjaganya.</div>
<div></div>
<div>“Siapa dia ini?” kata Al Qa’nabī.</div>
<div></div>
<div>“Syu’bah!” kata sebuah jawaban.</div>
<div></div>
<div>“Apa Syu’bah itu?” tanya dia lagi.</div>
<div></div>
<div>“Ahli Hadis (Muḥaddiṡ).”</div>
<div></div>
<div>Al Qa’nabī, dengan memakai sarung merah, menghadap kepadanya.</div>
<div></div>
<div>“Sampaikanlah Hadis kepadaku!” kata Al Qa’nabī.</div>
<div></div>
<div>“Kamu bukan kelompok Ahli Hadis .. Saya tidak bisa meriwayatkan sebuah Hadis kepadamu.” jawab Syu’bah.</div>
<div></div>
<div>Al Qa’nabī mengancam, dia menghunus pisaunya.</div>
<div></div>
<div>“Sampaikan hadis kepadaku, atau aku akan melukaimu!”</div>
<div></div>
<div>Syu’bah pun meriwayatkan sebuah hadis kepadanya, Mansur bercerita kepadaku, dari Rib’ī, dari Ibn Mas’ūd ra., ia mengatakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Jika engkau tak punya rasa malu, lalukan apa saja yang engkau inginkan!”[1]</div>
<div></div>
<div>Al Qa’nabī melempar pisaunya dan kembali ke rumah. Ia menumpahkan semua minuman keras yang dia punya. Kata dia kepada ibunya, “Ini saatnya sahabat-sahabatku datang. Persilahkan mereka masuk ke rumah. Hidangkan makanan kepada mereka. Jika telah usai makan, kabarkan kepada mereka apa yang saya lalukan terhadap minuman-minumanku tadi hingga mereka pulang.” Saat itu juga Al Qa’nabi berangkat ke Madinah.[2]</div>
<div></div>
<div>Di Madinah, Ia bermulazamah kepada Imam Malik bin Anas selama 30 tahun. Ia adalah salah satu perawi utama Imam Malik, bahkan ia merupakan perawi terpercaya Kitab Al Muwaṭṭa`-nya. Ibn Abī Ḥātim (dia dan ayahnya adalah kritikus kelas wahid terhadap para perawi) bertanya kepada ayahnya, Abū Ḥātim, “Siapa yang lebih engkau sukai, Al Qa’nabī atau Ismail bin Abī Uwais?” Abu Ḥātim menjawab, “Al Qa’nabī. Saya tidak pernah melihat orang yang lebih khusyuk melebihi dia.”[3]</div>
<div></div>
<div>==</div>
<div></div>
<div>Sa’d bin Abī Waqqāṣ sedang memimpin Perang Al Qādisiyyah (Sya’ban 15 H./November 636 M.). Seorang pemabuk bernama Abū Miḥjan dihadapkan kepadanya. Ia memerintahkan agar dia diborgol. Saat itu, Sa’d sedang terluka. Ia tidak bisa memimpin pasukan secara langsung. Ia naik ke bukit Użaib di Kufah untuk memantau perjalanan perang. Pasukan kuda ia serahkan kepada Khālid bin ‘Urqaṭah.</div>
<div></div>
<div>Peperangan sedang berkecamuk. Abu Miḥjan membujuk istri Sa’d, Ibnah Khaṣafah, agar berkenan melepaskannya, “Lepaskan diriku. Saya berjanji, jika saya selamat saya akan balik dan meletakkan kakiku pada borgol kembali, dan jika saya terbunuh kamu semua akan tenang!. Perempuan itu melepaskannya. Dia melompat ke atas kuda Sa’d yang bernama Balqā`, lalu mengambil tombak. Ia memasuki medan pertempuran. Tiap sisi medan musuh dia serang, akan segera terkalahkan. Orang-orang mengira, dia adalah “malaikat”. Sa’d yang memantau dari jauh membatin, “Melihat ketabahannya itu adalah Kuda Balqā`, dan melihat gaya menusuknya itu adalah tusukan Abū Miḥjan. Akan tetapi, Abū Miḥjan sedang diborgol.”</div>
<div></div>
<div>Musuh telah terkalahkan, Abū Miḥjan kembali ke tempatnya dan meletakkan kedua kakinya pada borgol. Ibnah Khaṣafah, sang istri, mengabarkan kepada Sa’d, sang suami, atas apa yang terjadi pada Abū Miḥjan. Sa’d pun berkata, “Demi Allah saya tidak akan memukul (menghukum dengan pukulan) seorang lelaki yang merupakan anugerah Allah kepada umat Islam.” Dia melepaskannya. Sejak saat itu, Abū Miḥjan tak lagi meminum arak. Bagi dia, hukuman had adalah penyuci diri dari dosa-dosanya. Jika ia minum dan tak dihukum had, maka jalan satu-satunya untuk membersihkan diri adalah dengan tidak lagi meminumnya.</div>
<div></div>
<div>“Dahulu, saya meminumnya saat saya harus dihukum had karenanya. Saya pun tersucikan darinya. Sekarang, engkau (wahai Sa’d) justru membebaskanku (dari had itu). Maka, tidak .. demi Allah, saya tidak akan meminumnya lagi untuk selama-lamanya ..” demikian janji Sa’d.</div>
<div></div>
<div>Kita adalah pendosa. Semoga Allah SWT. mengulurkan pertolongannya agar kita semua bisa kembali ke jalannya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin ..</div>
<div></div>
<div>[1] Al Imām Al Bukhārī, jilid 4, hal. 177.</div>
<div>[2] Ibn Al Abār Al Quḍā’ī, Mu’jam Aṣḥāb al Qāḍī Abī ‘Alī Aṣ Ṣadafī, hal. 144.</div>
<div>[3]Syams Ad Dīn Aż Żahabī, Siyar A’lām an Nubalā`, jilid 10, hal. 259</div>
<div></div>
<div></div>
<div>==</div>
<div></div>
<div>Keterangan Foto:</div>
<div></div>
<div>Foto ini ada di HP saya, saya menerimanya dari WA. Entah dari siapa. Terimakasih sekali yang telah mengirimnya. Izin saya share di status ini. Monggo memberi komentar untuk Gus Mus, Gus Baha, dan Gus Adib, keponakan Gus Mus.</div>
<div></div>
<div>Terimaksih ..</div>
<div></div>
<div><i><b>Oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen MA</b></i></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/menjaga-asa-kita-pendosa-dan-rahasia-takdir-allah/">Menjaga Asa, Kita Pendosa dan Rahasia Takdir Allah</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kholifah dan Pandemi (Bagian 1)</title>
		<link>https://suaranu.id/kholifah-dan-pandemi-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2021 16:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/07/18/kholifah-dan-pandemi-bagian-1/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Zaman Kholifah Umar bin khottob pernah terjadi wabah penyakit sehingga korban yang meninggal banyak sekali,...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kholifah-dan-pandemi-bagian-1/">Kholifah dan Pandemi (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-754926874" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p>Zaman Kholifah Umar bin khottob pernah terjadi wabah penyakit sehingga korban yang meninggal banyak sekali, tidak terhitung yang disebutkan oleh Aslam dengan perkataannya, &#8221; Sungguh terjadi kematian diantara mereka, dan aku melihat duapertiga dari mereka yang meninggal, dan tersisa sepertiganya. Yang dalam riwayat lain Abu Aswad Ad-Dailami menyebut &#8221; Aku datang ke Madinah, maka aku dapati telah terjadi penyakit didalamnya, dan mereka meninggal dengan cepat.&#8221;</p>
<p>Wabah ini memberi dampak yang luar biasa terhadap perekonomian rakyat, banyak yang kelaparan. Kepedulian Kholifah Umar bin khottob tidak sekedar kebijakan secara umum dari pemerintah kepada masyarakat tetapi beliau sendiri yang bersumpah tidak akan makan daging dan keju sehingga masyarakat hidup seperti semula. Hingga walaupun dibelikan orang lain, maka beliau menolaknya, sebagai bukti satu kali istrinya membelikan keju untuknya pada tahun Ramadah, maka beliau berkata kepadanya, &#8220;Apa ini?&#8221; Ia menjawab, &#8221; ini dari uangku, bukan dari nafaqohmu.&#8221; Maka Umar berkata, &#8221; Aku tidak akan mencicipi hingga manusia hidup tercukupi ( tidak kelaparan)!&#8221;. Sesungguhnya Kholifah Umar memahami urgensi perilaku pribadi pejabat negara, keluarga, dan para aparatnya dalam masa krisis seperti itu, karena manusia akan akan melihat mereka dan terpengaruh dengan kondisi mereka. Dalam hal ini Kholifah Umar mengatakan, &#8221; Sesungguhnya manusia akan senantiasa Istiqomah, selama pemimpin mereka Istiqamah terhadap mereka.&#8221;</p>
<p>Pada sisi lain, bahwa ketika Kholifah Umar melarang suatu perkara, maka beliau mengundang keluarga lalu berkata, &#8221; sesungguhnya aku melarang demikian dan demikian, dan bahwa rakyat akan melihat kamu seperti burung melihat daging; maka jika kamu melanggar , melanggar pulalah manusia, dan jika kamu takut maka takutlah manusia. Sungguh demi Alloh, tidakah seseorang diantara kamu melakukan sesuatu yang aku larang  kepada rakyat, melainkan aku lipat gandakan hukuman pelanggaran itu karena keluargaku. Kholifah Umar telah menjadikan diri, keluarga dan aparat negara sebagai teladan bagi rakyat dalam masa krisis.</p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><i><b>Penulis adalah KH. Abdul Azis Idris Abdan, Wakil Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Magelang, Pengasuh PP Al Munir, Pangkat, Mangunrejo, Tegalrejo.</b></i></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kholifah-dan-pandemi-bagian-1/">Kholifah dan Pandemi (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syawwalan Sebagai Sebuah Kearifan</title>
		<link>https://suaranu.id/syawwalan-sebagai-sebuah-kearifan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2020 03:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/05/31/syawwalan-sebagai-sebuah-kearifan/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Abdul Aziz Idris  Sekalipun syariah ini sudah purna, namun karakternya tetap selalu dinamis,...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/syawwalan-sebagai-sebuah-kearifan/">Syawwalan Sebagai Sebuah Kearifan</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3572393497" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div><b><i>Oleh : Abdul Aziz Idris </i></b></div>
<div>
<div></div>
<div>Sekalipun syariah ini sudah purna, namun karakternya tetap selalu dinamis, dan lentur ketika menjadi bagian dari perilaku sosial dan bahkan nilai sosial masyarakat. Seperti apa yang terjadi dalam bulan syawwal dalam rentang tasyri ( pensyariatan ) zaman Nabi SAW, dimana ada mitos bahwa menikah dibulan syawwal termasuk hal yang tidak baik, merujuk kepada perilaku hewan onta betina yang tidak mau dikawin oleh unta pejantan di bulan ini. Kemudian hal ini dibatalkan oleh Nabi SAW, karena Nabi SAW sendiri menikahi &#8216;Aisyah dibulan ini. Sehingga dalam ijtihad ulama menikah di bulan syawwal adalah bagian dari keafdolan/ keutamaan tersendiri dalam persoalan nikah sebagaimana disebut dalam kitab kitab fiqh.</div>
<div></div>
<div>Ketika Islam masuk di tanah jawa kelenturan dan sifat dinamis agama ini menjadi kunci bagi masuknya Islam dan kemudian ketika terjadi relasi Islam dan budaya justru melahirkan perilaku dan bahkan tradisi, adat masyarakat yang baik dan sangat mendasar secara fiqh.</div>
<div></div>
<div>Satu contoh adalah tradisi Syawalan, dimana setelah sepekan hari raya idul fitri, selepas sebagian umat Islam menyempurnakan puasa ramadhan dengan enam hari puasa syawwal. Kemudian berkumpul, saling kunjung mengunjungi, bersilaturrohmi, secara fisik sekalipun mungkin untuk keadaan sekarang agak berbeda tetapi esensinya tidak hilang kembali merajut tali persaudaraan dengan saling berkirim pesan permohonan maaf, dan saling mendoakan melalui media sosial, atau dengan bentuk virtual.</div>
<div>Dimana kearifan itu?, Ada riwayat hadist dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</div>
<div></div>
<div>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</div>
<div></div>
<div>“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)</div>
<div>Disinilah kejelian Ulama, Kyai dahulu memberi ruang bagi sebagian umat yang hendak menjalankan sunnah Nabi SAW dengan berpuasa enam hari dibulan syawwal. Baru kemudian acara, event syawalan diadakan setelahnya.</div>
<div></div>
<div>Sehingga kemudian tidak cukup hanya dengan berbekal dalil Al-Quran dan hadist semata untuk menilai sebuah tradisi, adat yang mengakar dan bersingungan dengan perilaku masyarakat karena faktanya apa yang sudah berlaku selalu berdasar dalil yang jelas. Yang diperlukan adalah kearifan dalam mensikapi sesuatu yang sudah menjadi tradisi. Karena kemunculan, keberadaan satu adat itu hasil ijtihad kearifan para Ulama, Kyai sepuh.</div>
<div></div>
<div>Pangkat, 7 Syawwal 1441</div>
</div>
<div></div>
<div><b><i>Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang dan Wakil Katib Syuriah PCNU Kabupaten Magelang</i></b></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/syawwalan-sebagai-sebuah-kearifan/">Syawwalan Sebagai Sebuah Kearifan</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyimak Pesan Ayat Dalam Khutbah Id Rois Syuriyyah PCNU Kab. Magelang.</title>
		<link>https://suaranu.id/menyimak-pesan-ayat-dalam-khutbah-id-rois-syuriyyah-pcnu-kab-magelang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2020 06:47:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/05/29/menyimak-pesan-ayat-dalam-khutbah-id-rois-syuriyyah-pcnu-kab-magelang/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Abdul aziz idris Materi khutbah idul fitri yang disusun oleh KH. Toha Mansyur...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/menyimak-pesan-ayat-dalam-khutbah-id-rois-syuriyyah-pcnu-kab-magelang/">Menyimak Pesan Ayat Dalam Khutbah Id Rois Syuriyyah PCNU Kab. Magelang.</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-292929189" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>
<p>Oleh : Abdul aziz idris</p>
</div>
<div></div>
<div>Materi khutbah idul fitri yang disusun oleh KH. Toha Mansyur untuk kesempatan kali ini disamping singkat, dan padat juga memberi isyarat yang dalam akan nilai nilai yang perlu dijadikan pegangan dan rujukan terlebih dengan keadaan saat ini. Ayat itu adalah ayat ke 30 dari surat Ar &#8211; ruum.</div>
<div></div>
<div> فأقم وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</div>
<div>Arti: &#8221; Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221;</div>
<div></div>
<div>Kutipan ayat yang dijadikan penutup dalam khutbah Idul fitri yang di sampaikan KH. Toha Mansyur selaku Rois Syuriyyah PCNU Kab. Magelang setidaknya memberi petunjuk, arahan dan sekaligus dawuh bahwa dari pemahaman ayat ini, setidaknya kita menjadi semakin yakin akan keberadaan manusia di muka bumi ini.</div>
<div></div>
<div>Dalam pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab ayat 30 surat Ar rum mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan, dan hal tersebut merupakan fitrah ( bawaan ) manusia sejak awal kejadiannya. Hal senada juga yang difahami oleh Imam Fakhrur rozi, Imam Baidhowi yang memahami ayat ini hanya dalam persoalan aqidah, dengan dasar bahwa ayat ayat sebelumnya berisi kecaman terhadap kemusyrikan, dan batalnya keyakinan orang orang musyrik. Ada yang menarik pandangan Imam Muhammad At-Thohir ibnu &#8216;Asyur terkait ayat ini. Beliau memandang ayat ini bukan hanya berbicara persoalan tauhid, dengan mentaqdirkan ( mengadakan dengan ungkapan bahasa yang lain ) ,</div>
<div></div>
<div>إذَا علمتَ مابينٓاه للناس في الدلائل الوحدانية وابطال الشرك 🙁 فأقم وجهك ) أي توجه لدين الاسلام الذي هو الفطرة .</div>
<div>&#8221; Ketika kamu mengetahui apa yang telah kami jelaskan kepada manusia dalam ( persoalan ) dalil dalil keesaan ( Tuhan ) dan batalnya kesyirikan. Maka menghadaplah kepada agama Islam yang merupakan fitroh &#8221; .</div>
<div></div>
<div>Makna fitroh disini adalah aqidah dan syariah sebagaimana tafsir Imam Zamahsyari bahwa manusia tercipta untuk bisa menerima aqidah dan syariah Islam. Lebih lanjut bahwa fitroh adalah keteraturan yang Alloh SWT wujudkan kepada setiap makhluk, fitroh manusia adalah terciptanya manusia secara lahir , batin, dalam bentuk jasad, dan akal serta hati. Manusia berjalan dengan kaki adalah fitroh secara jasad, maka kalau kemudian memungut, mengambil sesuatu dengan kaki bukan dengan tangan adalah bentuk menyelisihi fitroh, begitu juga orang menabur benih untuk kemudian berharap mendapatkan panen adalah juga bentuk fitroh akal, andai ada yang berharap memanen dengan tanpa menanam dan bentuk iktiyar lain maka hal tersebut termasuk berlawanan dengan fitroh akal. Maka jika kemudian agama Islam disebut agama fitroh karena dogma, dan ajaran / syariah islam adalah perkara yang bisa diterima oleh akal dan berlandaskan kepada kesesuaian yang bisa diterima oleh akal.</div>
<div></div>
<div>Fitroh merupakan pondasi dasar maqoshid syariah atau tujuan tujuan dari sebuah ajaran, sehingga dinamika kehidupan masyarakat seperti apapun Islam tetap akan luwes dan bisa di jadikan rujukan bagi sebuah pemikiran dan sikap yang mendasarkan kepada nilai nilai maslahah. Ketika dalam keadaan normal dan keadaan yang tidak seperti biasa, bahkan keadaan yang diluar perkiraan manusia, dalam suasana peperangan, bencana dan musibah massal.</div>
<div></div>
<div>Saat inipun manusia harus kembali kepada fitroh untuk bukan hanya sekedar melaksanakan syariah tetapi memahami bahwa pelaksanaan syariah sebagai bagian usaha manusia untuk kembali kepada keberlangsungan kehidupan alam ini. Memahami syariah sesuai dengan pemahaman yang telah menjadi hal yang disampaikan dengan turun menurun dan bersanad adalah upaya yang perlu di jadikan tradisi yang mengakar. Sehingga pemahaman berislam menjadi utuh dan bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT. Setelah tranfer ilmu tentu amal, lelaku juga berdasar nilai kearifan tidak cukup hanya berdasar dalil yang difahami secara subjektif dan kaku. Dan yang lebih terpenting lagi bahwa masing masing dari individu manusia mempunyai peran, dan fungsi sosial yang berbeda-beda, yang petani kembali rajin ke sawah, yang pegawai ke kantor dan lain sebagainya urusan beragama dan hukum serahkan kepada para ahlinya, para Kyai, Pesantren sebagai sumber dan gudang ilmu.</div>
<div></div>
<div>Pangkat, 4 Syawwal 1441 H</div>
<div>                 27 Mei 2020</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/menyimak-pesan-ayat-dalam-khutbah-id-rois-syuriyyah-pcnu-kab-magelang/">Menyimak Pesan Ayat Dalam Khutbah Id Rois Syuriyyah PCNU Kab. Magelang.</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Berlalu, Dengan Sepenuh Doa Badai Pun Berlalu</title>
		<link>https://suaranu.id/ramadhan-berlalu-dengan-sepenuh-doa-badai-pun-berlalu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 08:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2020/05/23/ramadhan-berlalu-dengan-sepenuh-doa-badai-pun-berlalu/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abdul Aziz Idris Berlalunya bulan mulia Ramadhon dengan segala pernik perniknya tahun ini tanpa...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/ramadhan-berlalu-dengan-sepenuh-doa-badai-pun-berlalu/">Ramadhan Berlalu, Dengan Sepenuh Doa Badai Pun Berlalu</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-418731286" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><p>Oleh Abdul Aziz Idris</p>
<p>Berlalunya bulan mulia Ramadhon dengan segala pernik perniknya tahun ini tanpa acara bukber, ngebeburit bahkan sebagian sholat teraweh di rumah memberi nilai kenangan tersendiri. Kebiasaan, adat dan hal yang bersifat sosial bisa berubah dan sepantasnya manusia bisa menyesuaikan hal ini untuk tidak kemudian kaget dan bahkan menolak perubahan keadaan ini tanpa kemudian merasa tertekan secara kejiwaan. Anjuran, himbauan untuk di rumah saja harus diambil pelajaran untuk kembali bercengkrama dengan keluarga terdekat orang tuan, istri dan anak.</p>
<p>Sholat di rumah juga sebenarnya wujud kecintaan Alloh SWT untuk kita , yang sering bergurau mengatakan : &#8221; Bolehkan aku menjadi imammu, saat ngegobal kepada seorang yang akan dinikahi, ada banyak hikmah di balik semua dan yang terpenting syarat, dan rukun puasa tidak terkait dengan keadaan kita saat ini. Bahkan bisa jadi keadaan ini memberi peluang kepada kita untuk lebih untuk memperbanyak ibadah dan dekat dengan keluarga. Islam bukan ajaran yang kaku tetapi ajaran yang dinamis dan selalu bisa mengikuti dinamika masyarakat di setiap masa dan dimanapun berada, ketika kemudian masjid di batasi dan mungkin di tutup untuk sementara waktu, Nabi sudah memberi gambaran yang luas dengan sabdanya, :</p>
<p>وجُعِلَتْ لِيَ الأرض مسجد وطهورا ( رواه البخاري )<br />
&#8221; Dan dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan suci &#8220;. ( HR. Bukhori )<br />
Hadist ini berbicara tentang nilai kekhususan umat Nabi Muhammad SAW, dimana bahwa umat umat sebelum Nabi SAW dalam persoalan ibadah mahdhoh, sholat hanya dilakukan di tempat ibadah yang sudah ditentukan, tidak bisa kemudian melakukan ibadah di sembarang tempat, ini berbeda dengan umat Nabi SAW yang diberi kekhususan bolehnya sholat dimanapun semua lapisan permukaan bumi ini selama memenuhi syarat suci. Sungguh nilai kekhususan yang mengandung pula nilai kemudahan bagi umat ini.</p>
<p>Begitu juga ketika kemudian keadaan tidak memungkinkan kita berkerumun dengan orang banyak, memberi hikmah pelajaran, bahwa semisal ketika kita menunggu waktu maghrib dengan ngebeburit nilai apakah yang didapat sehingga nilai puasa menjadi lebih sempurna? , Bukankah ketika ngebeburit justru terkesan hanya kebiasaan menghabiskan waktu dengan hanya menunggu waktu maghrib dengan hal hal yang kadang kurang bernilai positif , cenderung main main dan buang buang waktu, keadaan stay at home membuka kembali nilai penting berkumpul dengan keluarga terutama menjelang maghrib, karena Nabi SAW pun mengajarkan doa doa tertentu dengan beberapa riwayat ketika berbuka, dan doa ketika berbuka, adalah doa yang tidak akan tertolak. Sebagaimana hadist, :</p>
<p>ان للصائم عند فطره دعوة ماترد ( رواه البيهقي )</p>
<p>&#8221; Sesunggunya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka ada doa yang tidak akan tertolak. &#8221;<br />
Sungguh banyak nilai luar biasa di saat Romadhon ini, setidaknya meneguhkan kembali bagi umat manusia terutama masyarakat Muslim untuk optimis dan mengedepankan sikap husnudhon kepada Alloh SWT,  ada satu atsar dari sahabat Abdulloh bin Mas&#8217;ud  yang menarik dan perlu dijadikan sikap bagi kita saat saat seperti ini :</p>
<p>والذي لا اله الا غيره لا يحسن عبد بالله الظن إلا أعطاه ظنه وذلك لان الخير في يده ( رواه الطبراني )</p>
<p>&#8221; Demi dzat yang tidak ada tuhan selain Dia, Tidaklah seorang hamba bersangka baik kepada Alloh, kecuali Alloh akan memberi persangkaan tersebut. Hal itu karena semua kebaikan ada dalam kekuasaan Alloh &#8220;. Ketika Romadhon hampir pasti semua umat Islam berdoa dan hampir pasti ada yang berdoa untuk kebaikan umat Islam dan manusia secara keseluruhan. Dan dengan konsep husnudhon ini meneguhkan Alloh akan segera mengangkat segala hal yang memberatkan dan menjadi persoalan hidup dan kehidupan manusia.</p>
<p>Semoga Alloh mendengar doa doa yang melambung tinggi dengan segala pengharapan ini.</p>
<p>Pangkat, 30 Ramdhan 1441 H<br />
22 Mei 2020</p>
<p><i><b>Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang dan Wakil Katib Syuriah PCNU Kabupaten Magelang</b></i></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/ramadhan-berlalu-dengan-sepenuh-doa-badai-pun-berlalu/">Ramadhan Berlalu, Dengan Sepenuh Doa Badai Pun Berlalu</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
