<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Archives - Suara NU</title>
	<atom:link href="https://suaranu.id/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suaranu.id/category/artikel/</link>
	<description>Suara Nahdliyin Magelang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Oct 2025 05:28:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://suaranu.id/storage/2025/03/cropped-snu1-55x55.png</url>
	<title>Artikel Archives - Suara NU</title>
	<link>https://suaranu.id/category/artikel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>KH Usman Penerus Perjuangan Sunan Geseng</title>
		<link>https://suaranu.id/kh-usman-penerus-perjuangan-sunan-geseng/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 03:31:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=2213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Abdul Aziz Idris Dakwah perjuangan Wali songo tidak berhenti hanya dengan keberadaan situs-situs...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kh-usman-penerus-perjuangan-sunan-geseng/">KH Usman Penerus Perjuangan Sunan Geseng</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2645765557" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p></p>



<p>Oleh : Abdul Aziz Idris</p>



<p>Dakwah perjuangan Wali songo tidak berhenti hanya dengan keberadaan situs-situs sejarah, seperti makom, dan masjid masjid bersejarah, namun wali songo juga meninggal jejak lewat para muridnya, adalah Sunan Geseng yang masyhur merupakan salah satu murid Sunan Kalijogo pun mengikuti jalan dakwah &#8220;Sang Guru&#8221; dengan jelajah desa milang kori, melakukan perjalanan dari satu desa ke desa lain untuk mengenalkan Islam sebagai agama luhur dan mendakwahkan ajaran Nabi Muhammad, salah satu daerah yang menjadi petilasan laku dakwah Sunan Geseng adalah Desa Tarukan yang kalau sekarang masuk bagian dari Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Di Tarukan ada Makom Nyai Sunan Geseng dan diziarahi masyarakat, disinilah pula beberapa penderek kemudian menetap dan menjaga makam ini sekaligus meneruskan dakwah Sunan Geseng.</p>



<p>KH. Usman adalah penerus dakwah Sunan Geseng yang tinggal di Tarukan, tidak tercatat sejarah tentang waktu lahir beliau, beliau adalah anak dari Kyai Syuaib bin Kyai Abil Hasan bin Kyai Ibrohim. Usman muda tumbuh ditempa ilmu, dan tirakat sebagai mana layaknya santri. Sehingga ketika dewasa matang secara ilmu, akhlak. Meneruskan perjuangan dakwah bukan hal yang mudah, begitu juga yang dijalani Kyai Usman.</p>



<p>Kondisi masyarakat sekitar Tarukan yang masih awam, dangkal akidahnya serta merajalela kemaksiatan, salah satunya kepercayaan masyarakat setempat kepada satu tempat yang dianggap keramat sehingga mereka melakukan ritual sesat, meminta-minta hajat dengan persembahan tertentu. Hal ini di sadari betul oleh Kyai Usman perlu difahamkan dan dan diluruskan. Salah satu pendekatan dakwah beliau adalah mengundang masyarakat sekitar Tarukan yang melakukan sholat Jumah di masjid Tarukan ke rumah dan dijamu makan secukupnya, sebagaimana ajaran Catur piwulangnya Sunan Drajat, berupa Wenehono pangan marang wong kang kaliren. Setelah itu sedikit demi sedikit memberi pemahaman tentang akidah dan syariah Islam secara sederhana dan mudah. Sehingga kemudian secara perlahan masyarakat mulai meninggalkan kebiasaan ritual sesat meminta-minta kepada selain Alloh.</p>



<p>Masa hidup Kyai Usman masyarakat masih dibawah penjajah Belanda, beliau termasuk bagian dari pejuang yang diawasi oleh Belanda, karena beliau adalah bagian dari jejaring pasukan Pangeran Diponegoro, Tetapi dengan usaha batin dan doa beliau membentengi desa Tarukan secara khusus dengan benteng batin. Sehingga pasukan Belanda tidak bisa masuk ke wilayah desa Tarukan, bahkan sampai saat beliau sudah wafat pasukan Belanda tidak bisa masuk ke desa Tarukan. Tidak cukup perjuangan secara sendiri tetapi beliau juga mengkader putra-putra beliau ikut berjuang di masyarakat. Beberapa putra beliau adalah tokoh-tokoh pejuang dimasanya, KH. Abdan pendiri pesantren pertama di wilayah Magelang timur, KH. Abdurrohman Butuh, kyai yang mengembleng, memberi doa khusus kepada santri yang berperang melawan pasukan Belanda di pertempuran Ambarawa. KH. Dimyati Tarukan yang dikenal sebagai salah satu Kyai Hikmah.</p>



<p>Pada hari Jum&#8217;ah, 31 Oktober 2025 dengan momentum Hari Santri Nasional (HSN), Bupati Kabupaten Magelang mengapresiasi jejak perjuangan KH.Usman dengan menetapkan nama beliau sebagai nama jalan di ruas jalan Kabupaten Magelang, tepatnya di ruas jalan Klopo, Sindas yang melintas di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Tegalrejo&nbsp;dan&nbsp;Kecamatan Secang.</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kh-usman-penerus-perjuangan-sunan-geseng/">KH Usman Penerus Perjuangan Sunan Geseng</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mbah Kyai Mansur bin Kyai Bakri</title>
		<link>https://suaranu.id/mbah-kyai-mansur-bin-kyai-bakri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2025 18:45:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=2146</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Abdul aziz Idris Sosok yang mungkin tidak begitu masyhur di sebagian kalangan, tetapi...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/mbah-kyai-mansur-bin-kyai-bakri/">Mbah Kyai Mansur bin Kyai Bakri</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1606694684" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p>Oleh : Abdul aziz Idris</p>



<p>Sosok yang mungkin tidak begitu masyhur di sebagian kalangan, tetapi Istiqomah beliau di pesantren adalah bukti hidmah totalitas beliau untuk santri. Santri bagi beliau adalah kader penerus perjuangan Kanjeng Nabi.</p>



<p>Satu kali diadakan pelatihan di pondok pesantren beliau, kerjasama dengan LKKNU sekitar tahun 1993 , menurut cerita fasilitator pelatihan saat itu, ditengah kegiatan, Ibu Nyai beliau kapudut sedo/wafat. Panitia bingung bagaimana ini, tiba-tiba beliau Simbah Kyai masuk ruangan pelatihan dan ngendiko:&#8221; adik-adik semua, Monggo pelatihan tetep diteruskan, ini program sudah direncanakan. Soal kapundut Ibu saya sudah ada yang mengurusi, dan itu fardlu kifayah, sudah cukup !&#8221;. Begitu mendengar dawuh begitu, panitia menjadi bingung, namun kemudian di ambil keputusan pelatihan dipindah ke tempat lain di daerah Dukun, karena secara etis tidak layak tetep diteruskan di pondok pesantren Al Huda, sekalipun Simbah Kyai Mansur sudah dawuh begitu.</p>



<p>Dan yang lebih membuat panitia terhenyak kaget dan terharu adalah, beberapa waktu kemudian di sekretariat fasilitator pelatihan yang di Jogjakarta datang santri utusan Simbah Kyai Mansur, yang diterima oleh Mas Md, santri itu datang sambil mengengam kertas lusuh, yang kemudian di berikan kepada mas Md, betapa santri ini memaknai dawuh Mbah Kyai, :&#8221; bawa kertas ini, dan sampaikan ke panitia pelatihan&#8221;. Sehingga kertas itu dari Sugihan Kajoran dipegang, dan tidak berani dikantongi ke saku, Karena dawuh tadi. Begitu dibuka alangkah kaget dan kembali terharu Mas Md saat membuka kertas lusuh, dan membacanya :&#8221; Mas … Mohon maaf, uang pelatihan kemarin minta izin, dan halalnya, kita gunakan untuk merenovasi fasilitas mck di pondok &#8220;. Sebuah teladan sikap dari beliau yang luar biasa.</p>



<p>Lahul fatihah kagem Kyai Mansur bin Bakri pengasuh pondok pesantren Al Huda Sugihan Kajoran&nbsp;Magelang.</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/mbah-kyai-mansur-bin-kyai-bakri/">Mbah Kyai Mansur bin Kyai Bakri</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sanad Keilmuan Al-Maghfurlah KH Dalhar Watuconggol dari Syekh Mahfudz at Tarmasy ( I )</title>
		<link>https://suaranu.id/sanad-keilmuan-al-maghfurlah-kh-dalhar-watuconggol-dari-syekh-mahfudz-at-tarmasy-i/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2025 04:56:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=1932</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Abdul Aziz Idris Pasca perang Diponegoro, atau sering juga disebut perang Jawa, banyak kyai...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sanad-keilmuan-al-maghfurlah-kh-dalhar-watuconggol-dari-syekh-mahfudz-at-tarmasy-i/">Sanad Keilmuan Al-Maghfurlah KH Dalhar Watuconggol dari Syekh Mahfudz at Tarmasy ( I )</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-4131824067" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p><em>Oleh Abdul Aziz Idris</em></p>



<p> Pasca perang Diponegoro, atau sering juga disebut perang Jawa, banyak kyai yang menjadi bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro menyebar ke pelosok-pelosok daerah untuk menghindar dari kejaran Penjajah Belanda. Namun menyebarnya para ulama ini tidak sekedar menghindar dari Belanda karena justru dari sinilah kemudian pola perjuangan di mulai kembali dengan strategi yang berbeda, dengan mendirikan pondok pesantren, Dan salah satu Panglima pasukan Pangeran Diponegoro, Kyai Abdur Rouf yang memilih dusun Tempur sebagai tempat mengkader pejuang, mendirikan pesantren. Kyai Abdur Rauf adalah putra Kyai Hasan  Tuqo ( Raden Bagus Kemuning ) yang masih keturunan Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Tentu selain mengasuh dan mengkader generasi pejuang, beliau juga membimbing masyarakat. Dan salah satu cucu beliau yang kemudian meneruskan jejak perjuangan ini adalah Nahrowi ( Dalhar ) muda untuk berangkat menimba ilmu di Tanah Suci setelah sebelumnya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa untuk belajar. </p>



<p>Salah satu guru Nahrowi atau Kyai Dalhar adalah Syekh Mahfudz bin Abdullah At Tarmasy, salah satu Ulama Nusantara yang disegani di Tanah Suci sampai digelari Imam Bukhori tanah Jawa dimasanya, karena kealiman beliau dalam ilmu hadist. Dari Syekh Mahfudz inilah Mbah Kyai Dalhar belajar dan sampai mendapatkan ijazah dan sanad keilmuan Syekh Mahfudz yang tersambung dengan para Ulama, sanad Syekh Mahfudz ini terhimpun dalam satu kitab yang berjudul Kifafatul Mustafid lima &#8216;ala minal asanid, كفاية المستفيد لما على من الأسانيد  sebuah genre kitab khusus sanad ( tsabat ) yang menyebut mata rantai keilmuan Syekh Mahfudz yang bersambung dengan para Ulama, terkhusus Ulama pengarang kitab. Dalam kitab yang ditulis ulang oleh Kyai Mukhlasin bin Abdurahman, Pendiri Pondok Baru Payaman, yang juga murid Kyai Dalhar ini disebut beberapa kitab induk, muktabar yang diijazahkan oleh Syekh Mahfudz at Tarmasy kepada Kyai Dalhar disebut dengan nama Muhammad bin Abdurahman bin Abdurouf Al fesantreny, ada fan Tafsir, Hadist, Fiqh, Ushul, Ilmu Alat ( Nahwu, shorof ),  dan bahkan beberapa aurod, seperti: Hizb Nawawi, Dalil Khoirot bahkan talqin dzikir. Juga sanad yang bersambung kepada Imam Muhammad bin Idris As Syafi&#8217;i. Ijazah kitab sanad ( tsabat ) ini menarik karena menjadi bukti mata rantai Keilmuan Kyai Dalhar dengan Syekh Mahfudz At Tarmasy dan juga menjadi bukti jejaring Ulama Nusantara yang mendunia.</p>



<p>Jejaring Ulama, Kyai Nusantara sedemikian meluas dan sangat otentik dan ini adalah bagian dari otentisitas keilmuan Ulama di Nusantara. Tradisi sanad menjadi bagian penting dalam merekam dan mengabadikan jejak Keilmuan ini.</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sanad-keilmuan-al-maghfurlah-kh-dalhar-watuconggol-dari-syekh-mahfudz-at-tarmasy-i/">Sanad Keilmuan Al-Maghfurlah KH Dalhar Watuconggol dari Syekh Mahfudz at Tarmasy ( I )</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>40 Tahun Lakpesdam NU: Antara Turats dan Menggerakkan Ijtihad Sosial</title>
		<link>https://suaranu.id/40-tahun-lakpesdam-nu-antara-turats-dan-menggerakkan-ijtihad-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ahmad Taufiq]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2025 01:37:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lakpesdam]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/?p=1903</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selamat Hari Lahir (Harlah) ke-40 Lakpesdam NU! Di bawah kepemimpinan Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/40-tahun-lakpesdam-nu-antara-turats-dan-menggerakkan-ijtihad-sosial/">40 Tahun Lakpesdam NU: Antara Turats dan Menggerakkan Ijtihad Sosial</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-933995061" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size"><strong><em>Selamat Hari Lahir (Harlah) ke-40 Lakpesdam NU!</em></strong></h2>



<p>Di bawah kepemimpinan Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Lakpesdam NU semakin menegaskan posisinya sebagai think tank strategis yang mengawal gerakan Nahdlatul Ulama (NU) baik di tingkat nasional maupun global.</p>



<p>Sebagai institusi riset dan perencanaan, Lakpesdam tidak hanya berfokus pada penguatan tradisi keagamaan (ubudiyah), tetapi juga merancang program berbasis bukti (<em>evidence-based</em>) untuk menjawab tantangan peradaban kontemporer seperti transformasi digital, ketahanan finansial, dan problem kebangsaan. Pendekatan ini menjadikan NU sebagai organisasi yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan dinamika zaman.</p>



<p>Lakpesdam berperan sebagai mitra kritis PBNU dalam merumuskan kebijakan berbasis data. Melalui riset mendalam, lembaga ini mengarahkan tema-tema besar Bahtsul Masail pada isu aktual seperti kesenjangan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial. Contoh konkret adalah keterlibatan NU dalam merespons pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata (PIK 2) di Kabupaten Tangerang. PCNU setempat, melalui LBH NU, melakukan pendampingan dan riset lapangan terhadap masyarakat terdampak. Hasilnya, PBNU merekomendasikan peninjauan ulang kebijakan PIK 2, menekankan prinsip keadilan dalam penetapan harga lahan melalui kesepakatan bersama, serta pemenuhan hak-hak warga. Proses ini mencerminkan metodologi NU yang hati-hati, berbasis fakta, dan menjauhi tindakan reaktif maupun provokatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size">Politik Kebangsaan NU: Solusi Moderat, Bukan Konfrontasi</h2>



<p>Politik NU selalu berorientasi pada harmoni kebangsaan (<em>siyasah waṭaniyyah</em>), yakni mencari solusi yang win-win untuk meredakan gejolak tanpa mengorbankan prinsip keadilan. NU menolak gaya politik intimidatif dan provokatif. Tuduhan bahwa NU &#8220;tidak peka terhadap masalah sosial&#8221; bertolak belakang dengan fakta sejarah: melalui Lakpesdam dan lembaga otonom lainnya, NU secara sistematis menjawab tantangan seperti penggusuran, radikalisme, dan ketimpangan pendidikan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis ilmu. Bagi NU, keberpihakan terhadap rakyat tidak harus dibuktikan lewat retorika keras, tetapi melalui kerja nyata yang ilmiah dan bijaksana.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size">Bayt al-Hikmah dan Warisan Intelektual Islam</h2>



<p>Pada abad ke-9, dunia Islam melahirkan Bayt al-Hikmah di Baghdad, simbol kejayaan intelektual Islam. Lembaga ini menjadi pusat kajian lintas ilmu—agama, filsafat, astronomi, kedokteran, dan matematika. Para ulama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina bukan hanya penerjemah, tetapi juga inovator. Spirit yang mereka bawa adalah integrasi antara wahyu dan akal, antara turâts dan realitas, antara ibadah dan ilmu.</p>



<p>Lakpesdam NU, dalam konteks abad ke-2 NU, sangat relevan untuk mengambil inspirasi ini. Lakpesdam bisa menjadi Bayt al-Hikmah kontemporer, yang tidak hanya menjaga nalar Aswaja dalam bentuk klasik, tetapi juga mengaktifkannya dalam transformasi sosial dan kebijakan publik. Riset yang dilakukan bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk tindakan yang membebaskan dan memajukan.</p>



<p>Untuk menjaga keberlanjutan dan relevansi peran ke depan, Lakpesdam NU harus melangkah dengan akar yang kuat dan arah yang terang, berpijak pada jalan <em>thariqah Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah an-Nahdliyah</em>. Sebagai lembaga yang lahir dari rahim pesantren dan tradisi keilmuan Islam klasik, Lakpesdam tidak bisa sekadar menjadi institusi teknokratik. Ia harus tetap menjadi penjaga warisan keilmuan, turats dengan membumikan riset sosial yang berpijak pada ushul fiqh, maqashid syari&#8217;ah, serta nilai-nilai tasawuf akhlaqi. Tajdid sosial yang ditawarkan Lakpesdam pun hendaknya dilakukan dengan pendekatan <em>tadarruj</em> (bertahap) dan penuh hikmah, bukan secara reaktif ataupun pragmatis.</p>



<p>Dalam menjawab berbagai isu kebangsaan, paradigma moderasi (<em>wasathiyyah</em>) NU harus menjadi napas dalam setiap inisiatif. NU tidak terjebak dalam ekstremitas ideologi kanan atau kiri, tetapi konsisten menjaga khidmah kepada umat dan bangsa dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Di titik inilah, Lakpesdam memiliki potensi besar untuk mentradisikan pemikiran NU menjadi sebuah mazhab sosial-keislaman yang sistematis dan aplikatif. Sebagaimana Imam al-Ghazali pernah merumuskan sintesis antara syariah dan tasawuf dalam konteks individual dan masyarakat, demikian pula Lakpesdam dapat merumuskan &#8220;paradigma Aswaja&#8221; sebagai kerangka pemikiran dalam perumusan kebijakan sosial yang berbasis nilai.</p>



<p>Lebih jauh lagi, Lakpesdam harus mampu menjadi teladan dalam integrasi antara kerja sosial dan spiritualitas. Nilai-nilai seperti <em>ikhlas</em>, <em>tawadhu</em>&#8216;, <em>mujahadah</em>, dan <em>tsiqah</em>-keyakinan pada perjuangan kolektif adalah DNA dari <em>thariqah an-Nahdliyah</em>. Program-program yang dijalankan tidak semata didorong oleh logika proyek, tetapi harus dimaknai sebagai bentuk ibadah ijtima&#8217;i, yaitu ibadah sosial yang lahir dari ketulusan, keikhlasan, dan kecintaan terhadap umat. Dengan demikian, arah idealitas Lakpesdam ke depan adalah menjadi poros yang menyeimbangkan antara tradisi dan transformasi, antara dzikir dan pikir, antara khidmah dan ijtihad.</p>



<h2 class="wp-block-heading has-medium-font-size">Refleksi dan Harapan: Dari Tradisi ke Inovasi</h2>



<p>Jika Lakpesdam adalah manusia, maka usia 40 adalah masa kematangan sekaligus titik balik. Bukan sekadar fase bertahan, tapi saatnya tumbuh progresif, dinamis, dan memberi warna pada zaman. Amanat abad ke-2 NU adalah amanat perubahan struktural dan kultural. Lakpesdam harus menjadi kompas peradaban, sekaligus pelindung warisan para masyayikh.</p>



<p>Kita hidup di era perubahan yang cepat, kompleks, dan tak terduga. Advokasi dan pemberdayaan harus bergeser dari sekadar akses ke arah kemandirian dan keberdayaan yang berkelanjutan. Pendekatan progresif bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Bersama generasi muda, Lakpesdam bisa menjadi kekuatan transformasi: tidak hanya menyuarakan perubahan, tapi menciptakannya.</p>



<p>Terima kasih kepada seluruh muasis, penggerak, dan mitra yang telah menghidupkanlembaga ini dari masa ke masa. Kepada para pendahulu, baik yang masih membersamai maupun yang telah wafat, kami kirimkan doa terbaik dan penghormatan tertinggi. Alfatihah.</p>



<p>Dengan kerja tim dan semangat khidmah, Lakpesdam PBNU harus lebih dari sekadar lembaga advokasi. Ia harus menjadi simbol harapan, pusat kebijakan, rumah ilmu, dan cahaya pencerahan di tengah masyarakat, dan bukannya terlalu muluk, namun juga tidak mungkin, bahwa sebagaimana Bayt al-Hikmah dahulu menjadi mercusuar dunia Islam, maka Lakpesdam NU hari ini harus menjadi pelita zaman di tengah gelapnya krisis sosial dan krisis makna. Ia tak hanya meneliti untuk tahu, tapi mengkaji untuk bertindak, membela yang lemah, dan membangkitkan kesadaran umat.</p>



<p><em><a href="https://www.facebook.com/addtaufiq">Ahmad Taufiq</a> &#8211; Pengurus LAKPESDAM PCNU Kab. Magelang</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/40-tahun-lakpesdam-nu-antara-turats-dan-menggerakkan-ijtihad-sosial/">40 Tahun Lakpesdam NU: Antara Turats dan Menggerakkan Ijtihad Sosial</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (2)</title>
		<link>https://suaranu.id/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Feb 2025 08:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false"></guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau Kyai Chudhori mengundang Ida Laila penyanyi dangdut di era 70an dengan sanad yang jelas...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-2/">Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (2)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1197645830" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Kalau Kyai Chudhori mengundang Ida Laila penyanyi dangdut di era 70an dengan sanad yang jelas seperti yang dilakukan oleh Kyai Khozin Bendo Kediri dalam rangkaian tasyakuran khataman kitab Ihya Ulumuddin, maka putra beliau Gus Muh , Kyai Ahmad Muhammad lebih unik lagi melakukan metode dakwah yang menarik yang sempat mengundang kontroversi, dengan memasukkan kesenian kaum abangan seperti Jathilan, wayang, reog dan ketoprak untuk ditampilkan dalam rangkaian acara Haflah, perayaan akhir tahun belajar pondok pesantren API Tegalrejo.</div>
<div></div>
<div>Pada awalnya, banyak pihak yang mengkritisi ide, dan model dakwah Gus Muh ini, namun ada salah-satu kerabat Gus Muh, Simbah Kyai Thoyib Gejagan dengan bijak mengutip sebuah kalimat dari kitab Ihya&#8217; Ulumuddin karya Imam Ghozali yang menjadi kitab induk yang diajarkan di pondok pesantren API Tegalrejo &#8221; Sebuah tahi lalat di wajah seseorang akan mempercantik wajah itu, namun jika tahi lalat itu lebih dari satu, wajahnya akan kelihatan buruk. Jadi pertunjukan kesenian ini menjadi lebih baik jika diadakan sekali setahun, di satu tempat saja &#8220;. Sebuah logika fiqh yang mencoba disampaikan kepada masyarakat santri yang mungkin mempertanyakan model dakwah Gus Muh.</div>
<div></div>
<div>Disisi lain pun, penulis pernah mendengar argumentasi langsung dari ceramah Gus Muh dalam sambutan Haflah akhirussanah, dengan mengutip mutiara Kalam Syekh Ibnu Atho&#8217;ilah As Sakandary :</div>
<div>معصية أورثت ذلا وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا</div>
<div>&#8220;Maksiat yang meninggalkan perasaan hina dan tidak berdaya, lebih baik daripada keta&#8217;atan yang meninggalkan perasaan sombong dan takabur&#8221;. Tentu dawuh ini lebih kepada kalimat penghibur bagi para pelaku seni yang diundang Gus Muh sehingga memberi harapan bagi sebagian masyarakat yang selama ini berkubang dipusaran maksiat dan dosa sebagaimana yang dikemukakan oleh Mbah Parto Geni seorang mantan aktivis PKI yang bertobat dan akhirnya membangun langgar dengan biaya sendiri. Bahkan setelah tampilnya kesenian di rangkaian acara Haflah akhirussanah pondok pesantren API Tegalrejo itu , banyak desa desa abangan yang merupakan basis kaum abangan mengundang, ngaturi Gus Muh untuk memberikan pengajian di desa mereka. Saat mengisi pengajian, Gus Muh menyampaikan dalam bahasa yang dimengerti oleh semua lapisan masyarakat, dengan bahasa Jawa.</div>
<div></div>
<div>Hadirin dan hadirat yang berbahagia Saya berani mengatakan tempe lebih baik daripada daging yang mahal tapi sudah busuk ( daging larang neng bosok ) .( hadirin tertawa ) baik hadirin sekalian! ( untuk menghentikan tawa yang masih bergemuh ) karena itu marilah kita menjadi orang baik seperti makanan yang baik sehingga kita memperoleh tempat yang baik pula janganlah sekali-kali kita menjadi orang yang batinnya seperti daging busuk ketimbang jadi daging busuk lebih baik kita menjadi tempe saja tak penting harganya murah selama dia bersih dan tidak busuk orang-orang yang jiwanya bersih mungkin hidup dalam kemiskinan karena mereka tidak ingin mencuri merampok menipu korupsi itulah mengapa mereka sering berkata apa yang akan dimakan besok ? sebaliknya orang yang meletakkan kehidupan lahir di atas segala-galanya bisa jadi hidup dalam kekayaan yang melimpah. namun karena tujuannya hanya ingin menumpuk kekayaan dengan mengabaikan hukum Allah, dengan melupakan tanggung jawabnya kepada Allah dan kehidupan akhirat. kepala mereka diberi pertanyaan siapa yang akan saya makan besok ? ( tertawa) hadirin yang berbahagia jika pertanyaan Anda sehari-hari adalah apa yang akan saya makan besok dan bukan siapa yang akan saya makan besok maka jangan khawatir tapi berbanggalah karena berarti iman masih tertanam kuat di dalam batin anda jangan pernah lupa, keberhasilan jiwa lah yang akan meninggikan posisi anda dimata Allah, yang penting dan utama di mata Allah bukanlah kekayaan atau Kebagusan tubuh anda, yang penting bagi Allah adalah batin anda bukan lahir Anda isi bukan wadah!&#8221;.</div>
<div></div>
<div>Apa yang dilakukan oleh Gus Muh dengan dakwah yang berwajah kultural terbukti telah mampu untuk menjadi sarana mobilitas spiritual masyarakat menjadi lebih Islam dibanding periode-periode sebelumnya. Sehingga pada tahun 1980an, terjadi proses santrinisasi abangan secara masif. Sebuah proses yang baru disadari setelah didapati kampung-kampung yang menjadi lebih hidup kegiatan keagamaan saat ini, dan maraknya pengajian-pengajian secara rutin atau sering disebut pengajian selapanan.</div>
<div></div>
<div><b><i>Abdul Aziz Idris Pangkat </i></b></div>
<div><b><i>Pemerhati dakwah kultural</i></b></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-chudhori-gus-muh-dan-dakwah-budaya-2/">Kyai Chudhori, Gus Muh dan Dakwah Budaya (2)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</title>
		<link>https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Feb 2025 03:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2025/02/04/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kemajuan NU dari sisi struktural adalah saat NU menjadi partai politik, karena keputusan...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/">Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-1299896316" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div>Salah satu kemajuan NU dari sisi struktural adalah saat NU menjadi partai politik, karena keputusan menjadi partai politik memberi implikasi pembentukan kepengurusan sampai tingkat bawah atau ranting. Namun dalam perkembangannya terbentuk kepengurusan yang lengkap tetap membutuhkan kampanye, sosialisasi sebagai strategi mencari dukungan dan untuk mendulang suara lebih banyak ke masyarakat.</div>
<div></div>
<div>Pemilu tahun 1955 yang disebut pemilihan umum paling demokratis dalam sepanjang perhelatan politik di negeri ini menyisakan pernik-pernik perjuangan para Kyai di negeri ini. Salah satu upaya satu Kyai sepuh, Kyai Abdan Koripan ketika berkampanye demi partai NU saat itu. Cara yang unik karena beliau kerso menghadang orang di satu jalur jalan yang menjadi jalur utama orang bepergian ke kota Magelang saat itu , untuk dengan penuh keikhlasan beliau mengatakan kepada orang yang lewat jalan itu : &#8221; mbenjang pemilu , nderek nyoblos partai NU, gambar jagat njeh ?. Sami nderek Mbah Romo Agung Payaman !&#8221;. Begitu ajakan beliau. Ini beliau lakukan beberapa kali. Dan ternyata usaha dan model kampanye Simbah Kyai Abdan ini di amini oleh Kyai yang lain lewat jalur isyarat langit, dimana Simbah Kyai Muhsin Geger yang memang Waskito dalam istikhoroh mendapatkan petunjuk kebenaran terhadap apa yang dilakukan oleh Simbah Kyai Abdan, dengan bermimpi melihat Simbah Kyai Abdan berposisi sebagai seorang masinis kereta dengan gerbong yang panjang penuh oleh penumpang, sebagai isyarat bahwa pemilu 1955 partai NU mendapatkan dukungan dan suara yang banyak dari rakyat Indonesia. Begitulah ikhtiar para kasepuhan selalu selaras dengan isyarat-isyarat langit yang memberkahi langkah dan tindakannya.</div>
<div></div>
<div>Apakah kiprah beliau terkait NU hanya diperhelatan politik saja, tentu tidak bahkan yang lebih terpenting dari sebuah organisasi adalah kaderisasi, beberapa santri ditempa menjadi kader NU yang dimasanya adalah aktivis dan pejuang NU, salah satunya adalah KH. Idris Shiddiq Karanganyar yang kemudian melanjutkan belajar di pesantren Tebuireng dan disinilah mata rantai NU Magelang terjalin. Sebagaimana tatkala NU berdiri yang diisyaratkan dengan restu Mahakyai Syaikhina Kholil Bangkalan Madura dengan mengirimkan tongkat, tasbih kepada Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari, begitu juga NU Magelang secara isyarat juga adanya surat yang dikirim oleh Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari kepada Simbah KH.Sirodj Romo Agung Payaman. Sebuah upaya mengikat dan menyambungkan jejaring Ulama Nusantara yang pernah saling berikrar untuk perjuangan Islam di Makkah saat itu.</div>
<div></div>
<div>Pengkaderan justru menjadi fokus utama beliau, sehingga dikemudian hari beberapa santri, dan putro wayah berkiprah di masyarakat terlebih di Jam&#8217;iyyah NU , salah satu contoh kecil dari hasil pengkaderan itu, menurut H.M.Ridwan salah satu ketua Tanfidziyah PCNU kab Magelang menceritakan di jajaran kepengurusan NU saat itu ada dua Idris, Idris sepuh dan Idris enom ( muda ). Idris sepuh adalah KH. Idris Siddiq Karanganyar santri Tebuireng yang menjadi kurir Hadrotus Syaikh KH.M.Hasyim Asy&#8217;ari membawa surat kepada KH.Sirodj Romo Agung. Sementara Idris yang satu lagi, Idris enom adalah KH.Idris Abdan Putro pertama beliau yang meneruskan jejak perjuangan di Nahdlatul ulama dengan merintis lembaga pendidikan dasar , Madrasah ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dimana saat itu sementara masyarakat masih sedikit antipati dengan pendidikan formal, namun disisi yang lain juga masih memandang sebelah mata akan keberadaan sekolah yang berbasis pendidikan agama. Sebuah dilema yang tidak menjadi penghalang bagi Kyai Idris muda untuk tetap berhidmah di Nahdlatul Ulama dari jalur pendidikan.</div>
<div></div>
<div>Sementara untuk hidmah kemasyarakatan, beliau mengkader santri-santri untuk kelak kemudian hari terjun dimasyarakat dengan bekal ilmu, berdakwah dan memberi pencerahan bagi masyarakat, salah satu santri beliau adalah KH.Chudhori bin Ihsan pendiri pondok pesantren Asrama Perguruan Islam ( API ) Tegalrejo, KH. Yasin pendiri pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin Kombangan Tegalrejo , KH. Hamid Usman Kajoran dan beberapa Kyai di sekitar Tegalrejo. Sebuah jejak perjuangan yang terus ditapaki sehingga pondok pesantren yang dirintis beliau masih memberi kontribusi, dan peran yang nyata di masyarakat sampai saat ini setelah melampaui rentang satu abad.</div>
<div></div>
<div>Sumber cerita : KH.M. Sholikhun, KH.Mudris Payaman, KH.Ihsanudin Abdan</div>
<div></div>
<div><b>Abdul Aziz Pangkat</b></div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/kyai-abdan-sang-jurkam-nu/">Kyai Abdan, Sang Jurkam NU</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI</title>
		<link>https://suaranu.id/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2021 01:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/06/05/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Ahmad Muntaha AM [1] ِِA. SEJARAH Memahami sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah diniyah...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/">Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-3582985823" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div>
<p><em><strong>Oleh: Ahmad Muntaha AM [1]</strong></em></p>



<p><strong>ِِA. SEJARAH</strong></p>



<p>Memahami sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah diniyah (organisasi keagamaan) tidak cukup hanya dengan membaca formalitas kelahirannya pada 31 Januari 1926 di kampung Kertopaten Surabaya, bersamaan pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Arab Saudi. Jauh sebelum itu, NU sudah ada dan berwujud dalam bentuk jama’ah(community) yang terikat oleh aktivitas keagamaan yang mempunyai karakteristik tertentu. Terkait hal ini Rais Akbar Nahdlatul Ulama, Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan:</p>



<p>قَدْ كَانَ مُسْلِمُو الْأَقْطَارِ الْجَاوِيَّةِ فِي الزَّمَانِ الْخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الْآرَاءِ وَالْمَذْهَبِ، وَمُتَّحِدِ الْمَأْخَذِ وَالْمَشْرَبِ. فَكُلُّهُمْ فِي الْفِقْهِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ النَّفِيسِ مَذْهَبِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيسَ، وَفِي أُصُولِ الدِّينِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ وَالْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الشِاذِلِيّ.[2]</p>



<p><em>“Sungguh kaum muslimin tanah Jawa (Nusantara) pada masa lalu sepakat dalam pendapat dan madzhabnya; tunggal sumber rujukannya. Semuanya dalam fikih memedomani madzhab indah, madzhab al-Imam Muhamamd bin Idris asy-Syafi’i, dalam ushuluddin memdomani madzhab al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf memedomani madzhab al-Imam al-Ghazali dan al-Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili.”</em></p>



<p>Dalam musyawarah pemberian nama organisasi ini, KH. Abdul Hamid dari Sidayu Gersik mengusulkan nama Nuhudlul Ulama dengan penjelasan para ulama mulai bersiap-siap bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Namun pendapat ini mendapat sanggahan dari KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz. Menurut beliau, kebangkitan ulama bukan sedang akan dimulai, namun sebenarnya sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz, namun kebangkitan dan pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisir secara rapi. Sebab itu, KH. Mas Alwi mengusulkan nama Nahdhatul Ulama yang lebih condong pada makna gerakan serentak ulama dalam suatu pengarahan, atau gerakan bersama-sama yang terorganisir.[3]</p>



<p>Dari sini bisa dipahami bahwa pendirian NU tiada lain merupakan pengorganisasian, peningkatan dan pengembangan peran ulama pesantren yang sudah ada. Dengan kata lain, didirikannya NU agar menjadi wadah bagi usaha menyatukan langkah ulama pesantren dalam rangka pengabdian yang tidak terbatas pada persoalan keagamaan saja–meskipun ini merupakan tujuan utamanya–, namun juga merambah pada masalah-masalah sosial, ekononomi, dan persoalan kemasyarakatan pada umumnya. Hal ini terlihat secara jelas dalam Statuen Perkoempoelan Nahdlotoel ‘Oelama, Fatsal 2 dan 3:</p>



<p><em>“Fatsal 2:</em></p>



<p><em>Adapoen maksoed perkoempulan ini jaoetu: “Memegang tegoeh pada salah satoe dari madzhabnya Imam ampat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris Asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboehanifah An-Noe’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam.”</em></p>



<p>Fatsal 2:</p>



<p>Oentoek mentjapai maksoed perkoempoelan ini maka diadakan ichtiar:</p>



<p>1. Mengadakan perhoeboengan di antara ‘Oelama-‘Oelama jang bermadzhab tersebut dalam fatsal 2.</p>



<p>2. Memeriksai kitab-kitab sebeloemnja dipakai oentoek mengadjar, soepaja di ketahoei apakah kitab itoe dari pada kitab-kitabnja Ahli Soennah Wal Djama’ah atau kitab-kitabnja Ahli Bid’ah.</p>



<p>3. Menjiarkan Agama Islam di atas madzhab sebagai tersebut dalam fatsal 2, dengan djalanan apa sadja jang baik.</p>



<p>4. Berichtiar memperbanjakkan Madrasah-Madrasah jang berdasar Agama Islam.</p>



<p>5. Memperhatikan hal-hal jang berhoeboengan dengan masdjid2, langgar2, dan pondok2, begitoe djuga dengan hal ahwalnja anak-anak jatim dan orang-orang jang fakir miskin.</p>



<p>6. Mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan, dan peroesahaan, jang tiada dilarang oleh sjara` Agama Islam.”[4]</p>



<p>Selain itu, berdirinya NU tidak bisa dilepaskan dari tujuan membangun semangat nasionalisme bangsa yang sedang terjajah. Selain tercermin dalam keterlibatan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam Syarikat Islam, Indonesische Studie Club, Nahdlatul Wathan, Taswir al-Afkar, dan berbagai organisasi lainnya, hal ini sekali lagi ditegaskan oleh beliau sehari sebelum lahirnya NU. Setelah undangan pertemuan ulama untuk membicarakan Komite Hijaz pada 31 Januari 1926 selesai diedarkan, Kiai Abdul Halim bertanya kepada Kiai Wahab, apakah rencana pembentukan organisasi ulama itu mengandung tujuan untuk menuntut kemerdekaan? Kiai Wahab menjawab dengan penuh isyarat: “Tentu, itu syarat nomor satu. Umat Islam menuju ke jalan itu. Umat Islam tidak leluasa sebelum Negara kita merdeka.”[5]</p>



<p>Kiai Abdul Halim ragu dengan tujuan tersebut, sebab pembentukan perkumpulan ulama saja baru pada tahap pengiriman undangan. Ia bertanya: “Apakah usaha semacam ini bisa menuntut kemerdekaan?” Kiai Wahab langsung menyalakan api rokoknya sambil berkata: “Ini bisa menghancurkan bangunan perang. Kita jangan putus asa. Kita harus yakin tercapai negeri merdeka.”[6]</p>



<p>Dengan demikian, lahirnya NU juga didorong oleh semangat membangun nasionalisme. Membangun nasionalisme pada waktu itu sama halnya dengan membela tanah air, membela tuntutan rakyat untuk merdeka.[7]</p>



<p><strong>B. SIKAP KEMASYARAKATAN NU</strong></p>



<p>Sikap kemasyarakatan NU telah dirumuskan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo, No. 02/MNU-27/1984 tentang Khitthah NU. Namun, untuk memahaminya perlu dipahami terlebih dahulu Dasar-Dasar Faham Keagamaan NU, yaitu:[8]</p>



<p>1. Nahdlatul Ulama mendasarkan faham keagamaan kepada sumber ajaran agama Islam: al-Qur`an, as-Sunnah,al-Ijma’,dan al-Qiyas.</p>



<p>2. Dalam memahami, menafsirkan Islam dari sumber-sumbernya di atas, Nahdlatul Ulama mengikuti faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan menggunakan jalan pendekatan (al-Madzhab): a) di bidang aqidah, Nahdlatul Ulama mengikuti Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipelopori oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi; b) di bidang fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuti jalan pendekatan (al-madzhab) salah satu dari madzhab Abu Hanifah an-Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hanbal; dan c) di bidang tasawuf, mengikuti antara lain Imam al-Junaid al-Baghdadi, dan Imam al-Ghazali serta imam-imam yang lain.</p>



<p>Nahdlatul Ulama mengikuti pendirian, bahwa Islam adalah agama yang fitri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia. Faham keagamaan yang dianut oleh Nahdlatul Ulama bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang baik yang sudah ada dan menjadi milik serta ciri-ciri suatu kelompok manusia, seperti suku maupun bangsa, dan tidak bertujuan menghapus nilai-nilai tersebut.</p>



<p>Dasar-dasar pendirian keagamaan NU ini menumbuhkan sikap kemasyarakatan NU yang bercirikan:[9]</p>



<p>1. Sikap Tawassuthdan I’tidal</p>



<p>Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim).</p>



<p>2. Sikap Tasamuh</p>



<p>Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.</p>



<p>3. Sikap Tawazun</p>



<p>Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.</p>



<p>4. Amar Ma’ruf Nahi Munkar</p>



<p>Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguna, dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.</p>



<p>Dalam tataran praktisnya dasar-dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan itu membentuk perilaku warga Nahdlatul Ulama, baik dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi yang:[10]</p>



<p>1. Menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran Islam.</p>



<p>2. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.</p>



<p>3. Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dan berkhidmah serta berjuang.</p>



<p>4. Menjunjung tinggi persaudaraan (al-ukhuwwah), persatuan (al-ittihad), serta kasih mengasihi.</p>



<p>5. Meluhurkan kemuliaan moral (al-akhlaq al-karimah), dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berfikir, bersikap, dan bertindak.</p>



<p>6. Menjunjung tinggi kesetiaan (loyalitas) kepada bangsa dan negara.</p>



<p>7. Menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.</p>



<p>8. Menjunjung tinggi ilmu-ilmu pengetahuan serta ahli-ahlinya.</p>



<p>9. Selalu siap untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa kemaslahatan bagi manusia.</p>



<p>10. Menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu, dan mempercepat perkembangan masyarakatnya.</p>



<p>11. Menjunjung tinggi kebersamaan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>



<p><strong>C. PANCASILA DALAM PERSPEKTIF NU</strong></p>



<p>Mempertentangkan Pancasila dan Islam memang terasa lebih mudah daripada memahami keduanya secara proporsional. Namun demikian, NU telah menegaskan pandangannya yang jelas dan jernih, yang tercantum dalam Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam, sebagai hasil keputusan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama tahun 1983 di Situbondo, sebagai berikut:[11]</p>



<p>1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia adalah prinsip fundamental namun bukan agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.</p>



<p>2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara menurut pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.</p>



<p>3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.</p>



<p>4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan kewajiban agamanya.</p>



<p>5. Sebagai konsekuensi dari sikap tersebut di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.</p>



<p>Merujuk pernyataan KH. Achmad Siddiq, Peletak Dasar Khitthah NU:[12] “Nahdlatul Ulama menerima Pancasila menurut bunyi dan makna yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 (bil lafdhi wal ma’nal murad), dengan rasa tanggung jawab dan tawakkal kepada Allah.”[13]</p>



<p><strong>D. NKRI DALAM PERSPEKTIF NU</strong></p>



<p>Demokrasi di era reformasi telah membuka seluas-luasnya pintu kebebasan. Bahkan kebebesan yang menjurus pada tindakan makar terhadap negara pun leluasa bergerak.[14] Namun bagi NU, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) merupakan upaya final dari perjuangan seluruh penduduk Indonesia–termasuk umat Islam di dalamnya– dalam mendirikan negara.[15] NKRI adalah negara yang sah menurut hukum Islam, yang menjadi wadah berkiprah melaksanakan dakwah yang akomodatif dan selektif, serta bertaqwa sesempurna mungkin, tidak usah mencari atau membuat negara yang baru.[16] Bahkan merujuk Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, mempertahankan dan menegakkan NKRI menurut hukum Agama Islam adalah wajib, termasuk sebagai satu kewajiban bagi tiap-tiap muslim, dan jihad fi sabilillah.[17] Karena itu, NU mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, baik dahulu, sekarang, maupun masa mendatang.</p>



<p>Terkait tanggung jawab tersebut, melalui Muktamar ke-29 di Cipasung Tasikmalaya pada 1 Rajab 1415 H/ 4 Desember 1994 M, NU mengeluarkan Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama No. 02/MNU-29/1994 tentang Pengesahan Hasil Sidang Komisi Ahkam/Masail Diniyah, yang di antaranya terkait dengan Pandangan dan Tanggung Jawab NU Terhadap Kehidupan Kebangsaan dan Kenegaraan, yang mana di antara isinya adalah sebagaimana berikut:[18]</p>



<p>“IV. WAWASAN KEBANGSAAN DAN KENEGARAAN DALAM PANDANGAN NAHDLATUL ULAMA</p>



<p>1. Nahdlatul Ulama menyadari bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara -di mana sekelompok orang yang oleh karena berada di wilayah geografis tertentu dan memiliki kesamaan, kemudian mengikatkan diri dalam satu sistem dan tatanan kehidupan merupakan “realitas kehidupan” yang diyakini merupakan bagian dari kecenderungan dan kebutuhan yang fitri dan manusiawi. Kehidupan berbangsa dan bernegara adalah perwujudan universalitas Islam yang akan menjadi sarana bagi upaya memakmurkan bumi Allah dan melaksanakan amanatNya sejalan dengan tabiat atau budaya yang dimiliki bangsa dan wilayah itu.</p>



<p>2. Kehidupan berbangsa dan bernegara seyogyanya merupakan langkah menuju pengembangan tanggung jawab kekhilafahan yang lebih besar, yang menyangkut “kehidupan bersama” seluruh manusia dalam rangka melaksanakan amanat Allah, mengupayakan keadilan dan kesejahteraan manusia, lahir dan batin, di dunia dan di akhirat.</p>



<p>3. Dalam kaitan itu, kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah dibangun atas dasar prinsip ketuhanan, kedaulatan, keadilan, persamaan dan musyawarah. Dengan demikian maka pemerintah (umara’) dan ulama -sebagai pengemban amanat kekhilafahan- serta rakyat adalah satu kesatuan yang secara bersama-sama bertanggung jawab dalam mewujudkan tata kehidupan bersama atas dasar prinsip-prinsip tersebut.</p>



<p>4. Umara’ dan ulama dalam konteks di atas, merupakan pengemban tugas khilafah dalam arti menjadi pengemban amanat Allah dalam memelihara dan melaksanakan amanatNya dan dalam membimbing masyarakat sebagai upaya memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang hakiki. Dalam kedudukan seperti itu, pemerintah dan ulama merupakan ulil amri yang harus ditaati dan diikuti oleh segenap warga masyarakat. Sebagaimana firman Allah yang artinya:</p>



<p>“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang Demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. al-Nisa’: 59) …</p>



<p>VII. TANGGUNG JAWAB NAHDLATUL ULAMA TERHADAP KEHIDUPAN BERBANGSA DI MASA MENDATANG</p>



<p>1. Umat Islam Indonesia dan Nahdlatul Ulama, sejak semula memandang Indonesia sebagai “kawasan amal dan dakwah”. Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, dan (karenanya) merupakan lahan dari ajaran Islam yang universal itu (Kaffatan linnas dan Rahmatan lil ‘alamin).</p>



<p>2. Indonesia dalam berbagai kondisinya, adalah rahmat yang sangat besar dari Allah Swt., yang wajib disyukuri seluhur-luhurnya, dengan melestarikannya, mengembangkannya dan membangunnya sepanjang zaman. Segala kekurangan dan kelemahannya diperbaiki, dan segala kebaikannya ditingkatkan dan disempurnakan untuk mencapai “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”, negara adil dan makmur di bawah maghfirah (ampunan) Allah Swt.</p>



<p>3. Dalam menyongsong masa depan, Nahdlatul Ulama bertekad untuk selalu berperan besar dalam meningkatkan kualitas umat, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Dengan itulah umat Islam mampu memenuhi peran dan tanggung jawab sebagai mayoritas bangsa, sebagai khalifah Allah di bumi dan sekaligus sebagai hamba yang harus selalu mengabdi dan beribadah kepadaNya. Untuk itu, tugas Nahdlatul</p>



<p>4. Ulama pada masa kini dan masa mendatang adalah: a) Sebagai “kekuatan pembimbing spiritual dan moral umat dan bangsa ini”, dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara -politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek- untuk mencapai kehidupan yang maslahat, sejahtera dan bahagia, lahir dan batin, dunia dan akhirat. b) Berusaha akan dan terus secara konsisten menjadi “Jam’iyah diniyah/ organisasi keagamaan” yang bertujuan untuk ikut membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat Indonesia yang bertakwa kepada Allah Swt., cerdas, terampil, adil, berakhlak mulia, tenteram dan sejahtera. c) Berperan aktif memeperjuangkan pemerataan sarana perikehidupan yang lebih sempurna demi mewujudkan keadilan sosial yang diridhai Allah Swt. d) Menjadikan warga Nahdlatul Ulama dan seluruh warga bangsa Indonesia sebagai warga negara yang senantiasa menyadari tanggung jawabnya dalam membangun Indonesia secara utuh, menegakkan keadilan dan kebenaran, memelihara kemanusiaan dan kejujuran serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. e) Menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka, berdaulat, mandiri, terbebas dari penjajahan dan penganiayaan oleh siapapun dalam bentuk apapun, sehingga nilai kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, serta ajaran Islam yang lain, dapat dimasyarakatkan dan disatukan dengan dan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Indonesia adalah wilayah atau bagian dari bumi Allah, yang menjadi tempat kaum muslimin menghambakan dirinya kepada Allah Swt., dengan penuh ketenangan dan keleluasaan, dalam seluruh aspek kehidupan.”</p>



<p>Demikian sekilas pengetahuan tentang sejarah NU, sikap kemasyarakatan dan pandangannya terhadap Pancasila dan NKRI. Diharap dengannya kaum muslimin secara luas dapat memperkokoh niat untuk masuk dan berkhidmah di dalamnya, sebagai implementasi praktis dari khidmat terhadap agama, bangsa dan negara.</p>



<p>Semoga Ahli Nahdlah semakin yakin, Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah yang penuh berkah akan mengantarkannya untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat, sebagaimana seruan as-Sayyid Ahmad bin Abdullah as-Saqaf–rahimahullah–yang termaktub dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyah Nahdlatul Ulama:</p>



<p>إِنَّهَا الرَّابِطَةِ قَدْ سَطَعَتْ بَشَائِرُهَا، وَاجْتَمَعَتْ دَوَائِرُهَا وَاسْتَقَمَتْ عَمَائِرُهَا. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ عَنْهَا، أَيُّهَا الْمُعْرِضُونَ؟ كُونُوا مَعَ السَّابِقِينَ، أَوْ لَا، فَمِنَ اللَّاحِقِينَ. وَإِيَّاكُم مِّنَ الْخَالِفِينَ، فَيُنَادِيكُمْ لِسَانُ التَّقْرِيعِ بِقَوَارِعِ: رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ [التوبة 87] …[19]</p>



<p>“Sungguh Nahdlatul Ulama adalah perhimpunan yang telah menampakkan tanda-tanda menggembirakan, daerah-daerahnya menyatu, bangunan-bangunannya telah berdiri tegak. Maka kemana kamu akan pergi darinya, wahai orang yang berpaling? Jadilah kalian bersama generasi awalnya. Bila tidak, maka jadilah generasi yang menyusulnya. Jangan sampai kalian menjadi golongan yang tertinggal (tidak memasukinya), sehingga suara penggoncang akan menggoncang-goncangkan dengan perkataan: “Kaum munafik rela tinggal (tidak berjihad) bersama perempuan-perempuan yang tinggal di rumah, dan hati mereka dibutakan, maka mereka tidak memahami kebaikan.”</p>



<p>[1] Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur dan Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Artikel juga pernah dimuat di website: aswajamuda.com</p>



<p>[2] Muhammad Hasyim Asy’ari, Risalah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah (Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, 1418 H), Cet. I, 9.</p>



<p>[3] Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU (Ttp.: PT. Duta Aksara Mulia, 2010), cet. III, 3-4.</p>



<p>[4] Statuen Perkoempoelan Nahdlotoel ‘Oelama, (1926: pasal 2 dan 3).</p>



<p>[5] Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 36-37.</p>



<p>[6] Ibid., 37.</p>



<p>[7] Ibid.</p>



<p>[8] Abdul Muchith Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran; Refleksi 65 Th. Ikut NU (Surabaya: Khalista, 2007), cet. IV, 25-26.</p>



<p>[9] Ibid., 26-27.</p>



<p>[10] Ibid., 27.</p>



<p>[11] LTN PBNU, Ahkamul Fuqoha, Solusi Problematika Hukum Islam; Keputusan Muktamar Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (Surabaya: Khalista, 2011), cet. I, 757.</p>



<p>[12] Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, Antologi NU; Sejarah, Istilah, Amaliah Uswah (Surabaya: Khalista, 2010), cet. III, I/176.</p>



<p>[13] Choirul Anam, Pemikiran K.H. Achmad Siddiq tentang: Aqidah, Syari’ah dan Tasawuf, Khitthah NU 1926, Hubungan Agama dan Pancasila, Negara Kesatuan RI Bentuk Final, Watak Sosial Ahlussunnah, Seni dan Agama (Jakarta: PT. Duta Aksara Mulia, 2010), cet. II, 71.</p>



<p>[14] An-Nadwah al-‘Alamiyah li asy-Syabab al-Islami, al-Mausu’ah al-Muyassarah fi al-Ayan wa al-Madzahib, wa al-Ahzab al-Mu’ashirah (ttp.: Dar an-Nadwah al-‘Alamiyah, tth.), bab al-Harakah wa al-Jama’ah al-Islamiyah. CD al-Maktabah asy-Syamilah, al-Ishdar ats-Tsani, vol. 2.11.</p>



<p>[15] Anam, Pemikiran K.H. Achmad Siddiq, IX .</p>



<p>[16] Ibid., 83-83.</p>



<p>[17] Arif Hanafi A.H., Narasi Resolusi Jihad, 7-9.</p>



<p>[18] LTN PBNU, Ahkamul Fuqoha, 746-758.</p>



<p>[19] Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran, 11, dan Muhammad Hasyim Asy’ari, at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, 1418 H), 26.</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/sejarah-sikap-kemasyarakatan-dan-pandangan-nu-terhadap-pancasila-dan-nkri/">Sejarah, Sikap Kemasyarakatan dan Pandangan NU terhadap Pancasila dan NKRI</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 2)</title>
		<link>https://suaranu.id/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 May 2021 15:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/05/27/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-2/</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh Abdul Aziz Idris Abdan Kalau kakeknya KR. Kramayudha mewujudkan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-2/">Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-624207198" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div style="clear: both; text-align: center;">
  <a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg716_T6xkM8fqzOP0_YaTDcjfR-Mb_Bg6qgeXcuoBLDn7srLh-5CN3QBHZfsWk8D_SdWvPu-RHo_7ob_EflDuWXFbdA0j69gDBy0hGvgRxTZLk1-MHjqInramoE84O3dZzNf3tGNi4KwFP/s1600/1622128834730266-0.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" data-lbwps-width="875" data-lbwps-height="562" data-lbwps-srcsmall="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg716_T6xkM8fqzOP0_YaTDcjfR-Mb_Bg6qgeXcuoBLDn7srLh-5CN3QBHZfsWk8D_SdWvPu-RHo_7ob_EflDuWXFbdA0j69gDBy0hGvgRxTZLk1-MHjqInramoE84O3dZzNf3tGNi4KwFP/s1600/1622128834730266-0.png"><br />
    <img decoding="async" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg716_T6xkM8fqzOP0_YaTDcjfR-Mb_Bg6qgeXcuoBLDn7srLh-5CN3QBHZfsWk8D_SdWvPu-RHo_7ob_EflDuWXFbdA0j69gDBy0hGvgRxTZLk1-MHjqInramoE84O3dZzNf3tGNi4KwFP/s1600/1622128834730266-0.png" width="400" /><br />
  </a>
</div>
<div></div>
<div><b><i>oleh Abdul Aziz Idris Abdan</i></b></div>
<div></div>
<div>Kalau kakeknya KR. Kramayudha mewujudkan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang diterapkan penjajah Belanda dengan melepaskan jabatan sebagai bupati Banjarnegara dan mengasingkan diri dipelosok dusun untuk sebuah bentuk perlawanan yang lain maka KH. Bakri meneruskan perlawanan ini dengan perlawanan etik dengan mendirikan pondok pesantren sebagaimana guru beliau Syaikhona Kholil yang mendirikan dua pesantren Jangkebuan dan Kademangan. Mendirikan pesantren merupakan cara efektif dalam kegiatan syiar Islam dan membela hak-hak dasar bagi masyarakat di bidang pendidikan.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Dan yang menarik adalah KH. Bakri bersama istri beliau Ny. Hj. Artinah sedemikan perhatian dan gemati, sayang terhadap santri-santri, hingga hampir tiap hari Ny. Hj. Artinah menyediakan shodaqohan makanan ringan dan minuman untuk santri-santri. Bahkan di hari hari tertentu dimasakkan makanan untuk santri sebagai mayoran bersama. Untuk menyiapkan kader penerus beliau mengirimkan putra putra beliau KH. Ridwan, KH. Ali, KH.Mansur, KY, Nur Misbah ke pesantren dengan bekal yang terbilang cukup. Setiap bulan dibekali 5 rupiah setiap putranya ( padahal harga beras saat itu dalam 20 kg paling mahal 1 rupiah ).</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-2/">Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 1)</title>
		<link>https://suaranu.id/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 04:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/05/26/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-1/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh KH. Abdul Aziz Idris Abdan Kemasyhuran kemahakiaian Syaikhina terbukti dari hampir semua santri beliau...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-1/">Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-222185606" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div style="clear: both; text-align: center;">
  <a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW1qOHJcWYt0If8azPOwrNWemIQ_1VK7hNg9ZMj8g7tapTAflRksoAwEnmY03cD-LQ1ei1luePYPL4M5F9_txy3d8s77E0yZ8yHBsYlqZUt1P1LlBn_B-XrkjffWsApAul20hbpF9xeMPl/s1600/1622001925801464-0.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" data-lbwps-width="640" data-lbwps-height="499" data-lbwps-srcsmall="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW1qOHJcWYt0If8azPOwrNWemIQ_1VK7hNg9ZMj8g7tapTAflRksoAwEnmY03cD-LQ1ei1luePYPL4M5F9_txy3d8s77E0yZ8yHBsYlqZUt1P1LlBn_B-XrkjffWsApAul20hbpF9xeMPl/s1600/1622001925801464-0.png"><br />
    <img decoding="async" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW1qOHJcWYt0If8azPOwrNWemIQ_1VK7hNg9ZMj8g7tapTAflRksoAwEnmY03cD-LQ1ei1luePYPL4M5F9_txy3d8s77E0yZ8yHBsYlqZUt1P1LlBn_B-XrkjffWsApAul20hbpF9xeMPl/s1600/1622001925801464-0.png" width="400" /><br />
  </a>
</div>
<div></div>
<div>
<div></div>
<div><b><i>Oleh KH. Abdul Aziz Idris Abdan</i></b></div>
<div></div>
<div>Kemasyhuran kemahakiaian Syaikhina terbukti dari hampir semua santri beliau menjadi tokoh, kyai di daerah masing-masing setalah pulang dari ngaji kepada Syaikhina Kholil. Di Magelang pun beberapa santri yang ngaji di Bangkalan dan mondok kepada Syaikhina Kholil menjadi tokoh, ulama yang menjadi rujukan masyarakat. Salah satunya adalah Al-Maghfurlah KH. Bakri Sugihan Kajoran Magelang Pendiri Pondok Pesantren Al-Huda Sugihan, Sidowangi, Kajoran, Magelang. Pondok Pesantren yang terhitung pondok kuno karena didirikan sebelum Indonesia merdeka. Tepatnya tahun 1865 M. Masa dimana masih jarang pondok pesantren berdiri karena keadaan dan suasana masih dibawah penjajahan Belanda.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>KH. Bakry ditilik dari nasabnya adalah cucu KR. Kramayudha Bupati Banjarnegara ( 1790 ) yang kemudian pergi ke Dusun Jarakan, Sugihan karena&nbsp; tidak setuju dan menentang aturan penjajahan Belanda. Di tempat ini meninggalkan 3 keturunan yang salah satunya adalah R. Dipopawiro yang merupakan ayah KH. Bakry.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Tidak disebut secara rinci masa kecil KH. Bakry yang jelas kemudian beliau mengaji di Bangkalan di hadapan Syaikhona Kholil hingga ketika dirasa cukup dan mendapatkan ridlo guru beliau pulang ke Sugihan dan memulai dakwah dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Huda tercatat didirikan 5 Desember 1865 M. Pesantren yang kemudian berkembang sampai saat ini.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>#ngalap_berkah</div>
<div>#Haul_Almaghfurlah_KH_Bakry</div>
</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/jejaring-santri-syaikhona-kholil-di-magelang-bagian-1/">Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manakib dan Keramat (Bagian Ketiga Ngaji Kitab Manakib Karya Al-Maghfurlah Simbah KH. Dalhar Watucongol)</title>
		<link>https://suaranu.id/manakib-dan-keramat-bagian-ketiga-ngaji-kitab-manakib-karya-al-maghfurlah-simbah-kh-dalhar-watucongol/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Suara Nu]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 May 2021 15:49:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suaranu.id/2021/05/23/manakib-dan-keramat-bagian-ketiga-ngaji-kitab-manakib-karya-al-maghfurlah-simbah-kh-dalhar-watucongol/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : KH. Abdul Aziz Idris&#160; Kitab manaqib adalah satu jenis genre kitab Biografi yang...</p>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/manakib-dan-keramat-bagian-ketiga-ngaji-kitab-manakib-karya-al-maghfurlah-simbah-kh-dalhar-watucongol/">Manakib dan Keramat (Bagian Ketiga Ngaji Kitab Manakib Karya Al-Maghfurlah Simbah KH. Dalhar Watucongol)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="suara-2359439834" class="suara-before-content"><script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1934660840892242" crossorigin="anonymous"></script><ins class="adsbygoogle" style="display:block;" data-ad-client="ca-pub-1934660840892242" 
data-ad-slot="8121709195" 
data-ad-format="auto"></ins>
<script> 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 
</script>
</div><div style="clear: both; text-align: center;">
<div style="clear: both; text-align: center;">
  <a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZjCn7aVSRGfKe_ye53RyT99T26Wzk-WOGcEWQw9IZjUka1bNOyV41tnQ9dQa921kdeU_rxiDtSTJTd9sB2yhC8plhBlI7hd43FOK3EWjOFA0bk4snP4tnAem7oWWSS2nAKExzLdrVpuWB/s1600/1621785034314155-0.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" data-lbwps-width="277" data-lbwps-height="395" data-lbwps-srcsmall="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZjCn7aVSRGfKe_ye53RyT99T26Wzk-WOGcEWQw9IZjUka1bNOyV41tnQ9dQa921kdeU_rxiDtSTJTd9sB2yhC8plhBlI7hd43FOK3EWjOFA0bk4snP4tnAem7oWWSS2nAKExzLdrVpuWB/s1600/1621785034314155-0.png"><br />
    <img decoding="async" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZjCn7aVSRGfKe_ye53RyT99T26Wzk-WOGcEWQw9IZjUka1bNOyV41tnQ9dQa921kdeU_rxiDtSTJTd9sB2yhC8plhBlI7hd43FOK3EWjOFA0bk4snP4tnAem7oWWSS2nAKExzLdrVpuWB/s1600/1621785034314155-0.png" width="400" /><br />
  </a>
</div>
<p></div>
<div></div>
<div>
<div><b>Oleh : KH. Abdul Aziz Idris</b>&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Kitab manaqib adalah satu jenis genre kitab Biografi yang paling memasyarakat dikalangan Nahdiyin, padahal banyak ulama yang menulis, mengarang kitab yang khusus menjelaskan biografi tokoh-tokoh, misalnya Imam Al-Subky menulis kitab Al-Thabaqaat beberapa jilid tentang biografi ahli-ahli fiqh pada zamannya. Kitab manaqib menjadi populer karena aspek yang ditulis adalah manaqib. &#8221; Manaqib&#8221; adalah kata jamak dari kata &#8220;Manqabah&#8221; yang sinonim dengan kata &#8220;Mafkharah&#8221;, artinya sifat atau perilaku yang patut dibanggakan. Manaqib berarti tingkah laku dan sifat positif sebagai kelebihan seseorang, baik karakter maupun keramat (karomah); yaitu hal-hal luar biasa yang diberikan oleh Alloh SWT kepada kekasih-Nya (waliyullah).&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Salah satu sisi yang menonjol dalam kitab manaqib adalah cerita tentang karomah, sebagaimana disebut Al-Maghfurlah Simbah KH Dalhar yang menyebut :&nbsp;</div>
<div>ولما وصل عمره تسع عشر سنة رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام وأنه يؤمر بالهجرة إلى المصر ويقال إنه سيعطى بسبعين كرامة في طريقه.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>&#8221; Ketika beliau menginjak umur 19 tahun, bermimpi bertemu dengan Rosululloh SAW, Dan sesungguhnya beliau diperintahkan untuk hijroh/pindah ke Mesir. Dan dikatakan sesungguhnya beliau akan diberi 70 karomah di thoriqohnya.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Sementara orang melihat dan memahami bahwa karomah hanya sesuatu yang luar biasa, aneh dan cenderung diluar kebiasaan. Seperti mengetahui sesuatu yang samar, goib, sesuatu yang diluar kebiasaan dan kelaziman umumnya manusia. Padahal kalau menukil pendapat Imam Abdulloh Al-Haddad beliau mengatakan bahwa karomah yang muncul dari seorang wali itu menunjukkan atas kesungguhan, dan keteguhannya dalam mengikuti, mutabaah Nabi SAW. Sebagaimana mukjizat adalah bukti kebenaran atas pengakuan kenabian.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Mengikuti, mutaaba&#8217;ah dalam pandangan Imam Abu Hasan Al-Syazili sebagaimana jawaban Rosululloh SAW kepada Al-Imam Abu Hasan Al-Syazili adalah :&nbsp;</div>
<div></div>
<div>رؤية المتبوع عند كل شيء ومع كل شيء وفي كل شيء&nbsp;</div>
<div>&#8220;Melihat orang yang diikuti, dalam segala keadaan, dalam segala hal apapun, di waktu kapanpun.&#8221;</div>
<div></div>
<div>Sebuah keadaan dimana posisi orang yang diikuti dalam hal ini Nabi SAW selalu dalam mengetahui keadaan pengikutnya, umatnya secar lebih intensif. Sehingga tidak celah bagi pengikutnya untuk berbuat sesuatu terlebih jika bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Nabi SAW. Maka disinilah korelasi dawuh Al-Imam Abu Hasan Al-Syazili yang mendapatkan anugerah bertemu dengan Nabi secara sadar selama 40 tahun tidak pernah lepas, dan terhalang dari melihat Rosululloh SAW. Bahkan beliau menyebut :&nbsp;</div>
<div></div>
<div>ولو حجبت طرفة عين ما اعددت نفسي من جملة المسلمين</div>
<div>&#8220;Kalau saya tertutup sekejap mata saya, saya tidak akan menganggap dari bagian umat Islam&#8221;.&nbsp;</div>
<div></div>
<div>اللهم عمم الرحمة والرضوان عليه&nbsp;</div>
<div>واعطنا المعارف اعطيتها لديه</div>
<div></div>
<div>Semoga bermanfaat.</div>
</div>
<p>The post <a href="https://suaranu.id/manakib-dan-keramat-bagian-ketiga-ngaji-kitab-manakib-karya-al-maghfurlah-simbah-kh-dalhar-watucongol/">Manakib dan Keramat (Bagian Ketiga Ngaji Kitab Manakib Karya Al-Maghfurlah Simbah KH. Dalhar Watucongol)</a> appeared first on <a href="https://suaranu.id">Suara NU</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
