Magelang, Bulan Sya’ban atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah menjadi momentum penting bagi masyarakat Magelang, khususnya warga Nahdliyin, untuk memperkuat kesiapan spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Salah satu ekspresi kultural-religius yang terus lestari hingga kini adalah tradisi punggahan, sebuah praktik yang sarat nilai filosofis, sosial, dan spiritual.
Punggahan lazim dilaksanakan dengan berkumpulnya warga di masjid, musala, atau rumah tokoh masyarakat. Mereka membawa hidangan sederhana, diiringi doa bersama, tahlil, dan kenduri. Namun lebih dari sekadar pertemuan ritual, punggahan merupakan ruang perjumpaan batin yang mempertemukan manusia dengan Tuhan, sesama, dan para leluhur.
Filosofi Punggahan: Unggah Menuju Kesucian
Kata punggahan berasal dari kata “unggah” yang berarti naik. Secara filosofis, punggahan dimaknai sebagai proses menaikkan kualitas batin, membersihkan diri dari kesalahan, serta menata niat sebelum memasuki Ramadan. Bagi warga Nahdliyin Magelang, Ramadan tidak boleh disambut dalam keadaan lalai, melainkan dengan kesadaran spiritual yang utuh.
Tradisi ini juga menjadi sarana mendoakan para leluhur. Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah, doa bagi orang yang telah wafat adalah bentuk birrul walidain yang melampaui batas usia. Ruwahan menjadi momentum refleksi akan keterhubungan antargenerasi, bahwa kehidupan hari ini tidak lepas dari jasa mereka yang telah mendahului.
Apem dan Ketan: Simbol Permohonan Maaf dan Persatuan
Dalam tradisi punggahan di Magelang, apem dan ketan bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan simbol yang mengandung makna filosofis mendalam.
Apem diyakini berasal dari kata Arab ‘afwun yang berarti ampunan. Kehadiran apem dalam punggahan dimaknai sebagai permohonan maaf, baik kepada Allah Swt. maupun kepada sesama manusia. Tekstur apem yang lembut melambangkan harapan agar hati manusia dilunakkan, dijauhkan dari sifat keras, dendam, dan kebencian. Apem menjadi simbol kesadaran akan keterbatasan manusia dan kebutuhan akan pengampunan sebelum memasuki bulan penuh rahmat.
Sementara itu, ketan memiliki makna kebersamaan dan persatuan. Sifat ketan yang lengket melambangkan eratnya tali silaturahmi dan harapan agar hubungan sosial antarwarga tetap “nempel”, tidak mudah tercerai-berai. Dalam konteks sosial, ketan mengajarkan pentingnya hidup rukun, saling menguatkan, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan.
Perpaduan apem dan ketan mencerminkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial: memohon ampun kepada Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Ruwahan sebagai Ruang Sosial dan Spirit Kebersamaan
Punggahan juga menjadi ruang sosial yang egaliter. Semua warga hadir tanpa memandang status ekonomi maupun sosial. Hidangan dibagi rata, doa dipanjatkan bersama, dan kebersamaan menjadi nilai utama.
Disinilah kearifan lokal warga Nahdliyin Magelang tampak nyata: agama dihayati sebagai laku sosial yang membumi.
Di tengah arus modernisasi yang cenderung individualistik, punggahan berfungsi sebagai pengikat sosial, sarana saling memaafkan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah serta ukhuwah wathaniyah.
Islam Nusantara dan Identitas Nahdliyin
Tradisi punggahan mencerminkan wajah Islam Nusantara yang ramah dan inklusif. Nilai-nilai Islam disampaikan melalui simbol budaya yang mudah dipahami masyarakat. Apem, ketan, doa, dan kenduri menjadi media dakwah kultural yang efektif, tanpa kehilangan esensi ajaran Islam.
Di Magelang, tradisi ini diwariskan lintas generasi. Para kiai kampung, tokoh masyarakat, hingga generasi muda ikut merawatnya sebagai bagian dari identitas Nahdliyin. Punggahan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus relevan.

Menjaga Tradisi, Menjaga Makna
Merawat tradisi punggahan berarti menjaga kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Dari apem yang melambangkan permohonan ampun hingga ketan yang merekatkan persaudaraan, punggahan mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya soal relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama.
Dalam kesederhanaannya, punggahan di Magelang menjadi pengingat bahwa spiritualitas sejati tumbuh dari hati yang bersih, hubungan yang rukun, dan kesadaran akan keterhubungan manusia dengan sejarah dan budayanya.

